Jalan Panjang ke Gedung Dewan

Jalan Panjang ke Gedung Dewan

headline cover warta utama wk kayong utara jalan panjang ke gedung dewan copy

Perhelatan demokrasi lima tahunan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) tahun 2014 pada 9 April, telah usai dilaksanakan. Begitu pula di Negeri Bertuah—julukan Kabupaten Kayong Utara (KKU)—Komisi Pemilihan Umum (KPU) KKU telah menetapkan calon legislatif terpilih untuk masa jabatan tahun 2014-2019. Tepatnya usai sidang menentukan ke-25 legislator di rapat pleno rekapitulasi Pileg 2014 KPU KKU aula kantor KPU KKU, Selasa (22/4/2014), dini hari.

Tidak kurang dari 290 calon anggota legislatif (Caleg) bertarung memperebutkan 25 kursi tersedia di DPRD KKU. Pertempuran memperebutkan pemilik suara aktif, tersebar di empat daerah pemilihan (Dapil). Rinciannya 71 Caleg Dapil 1 (Sukadana) memperebutkan 6 kursi, 35 Caleg Dapil 2 (Pulau Maya dan Kepulauan Karimata) memperebutkan 3 kursi, 88 Caleg Dapil 3 (Teluk Batang dan Seponti) berebut jatah 8 kursi, dan 96 Caleg Dapil 4 yang bertarung memperebutkan jatah 8 kursi.

Gawai politik Pileg 2014 di KKU ini akhirnya jadi ajang eliminasi 265 Caleg yang tak mendapat dukungan cukup. Artinya yang lolos ke gedung dewan hanya 25 orang Caleg atau 8,6 persen dari seluruh Caleg.

Secara nasional, jumlah partai politik (Parpol) peserta Pileg tahun 2014 jauh berkurang bila dibandingkan dengan Pileg 2009. Aturan ambang batas parlemen minimal 3,5 persen, memaksa sebagian Parpol tidak lagi dapat tiket bertarung di Pileg 2014.

Sebanyak 38 Parpol peserta Pemilu 2009 hanya menyisakan 12 Papol saja pada Pileg 2014 ini (di luar tiga partai politik lokal di Daerah Istimewa Nangroe Acheh Darussalam). Ke-12 Partai Politik ini semuanya mempunyai kepengurusan di tingkat KKU. Kesemuanya mengirimkan politisinya untuk ikut dalam pertarungan memperebutkan tiket kursi dewan di DPRD KKU.

tabel caleg wk kku Sumber KPU KKU-1

Di DPRD KKU dari sepuluh Parpol yang memiliki kursi buah Pileg 2009, tiga di antaranya terkena imbas ambang batas parlemen minimal 3,5 persen ini. Sebut saja Partai Bintang Reformasi (2 kursi), Partai Persatuan Daerah (4 kursi) serta Partai Demokrasi Kebangsaan (1 kursi). Sebagian besar anggota legislatif dari Parpol tersebut harus “lompat Pagar” ke partai lain agar bisa mencalonkan diri dalam gawai demokrasi kali ini.

“Walaupun ada penambahan jumlah kursi yang diperebutkan dari 20 kursi menjadi 25 kursi, tak lantas membuat pertarungan menjadi mudah. Pembagian Dapil yang semakin sempit ikut menyumbang pertarungan yang semakin ketat. Wilayah pemilihan yang semakin kecil itu, membuat publik semakin dekat dengan sang calon, sehingga kesalahan kecil sekalipun dapat dengan mudah diketahui,” papar Jasman, politisi Partai Gerindra KKU.

Dibanding Pemilu 2009 dimana KPU memberikan jatah 120 persen calon legislatif (Caleg) yang dipasang berbanding kursi yang diperebutkan per-Dapil, Pileg 2014 kali ini KPU membatasi hanya 100 persen dari kuota kursi. Namun hampir semua partai memaksimalkan jatah itu, sebagai bagian dari strategi semakin banyak Caleg semakin baik.

tabel caleg wk kku Sumber KPU 2  KKU-1

Akibatnya jumlah Caleg menjadi lebih banyak ketimbang Pemilu 2009. Inipun menjadi pemicu tingkat persaingan di gelanggang rebutan kursi dewan. Tak ayal, segala jurus dan kemampuan dikeluarkan demi sebuah kursi. Bahkan diduga cukup banyak praktik-praktik kampanye yang menyimpang dari ketentuan di-rudupara Caleg.

Tak ayal, kondisi ini membuat pertarungan semakin sengit. Perhitungan kasarnya, 1 Caleg harus menyisihkan 10 pesaingnya untuk dapat maju sebagai pemenang. Hingga akhirnya banyak kisah dan cerita yang terlahir dari proses demokrasi ini. Ada yang cerita gembira tentang kemenangan, ada juga kisah dramatis kekalahan yang menyisakan berbagai penilaian.

“Pemilih kita sekarang sudah semakin cerdas dan cerdik, dan banyak yang berpikir pragmatis,” jelas M Jamin, salah seorang tim sukses Caleg di Teluk Batang.

Media sosial semacam facebook juga dilirik sebagian Caleg untuk dijadikan sarana sosialisasi. Membuat akun dan menampilkan foto sang calon, sembari update status setiap hari dengan misi yang tentunya sebisanya menarik perhatian publik.

Bentuk sosialisasi menggunakan alat peraga kampanye berupa baliho bertebaran di sepanjang jalan, bak cendawan (jamur) di musim hujan. Beragam tagline digunakan untuk menarik hati pemilih, dengan pose yang tak kalah beragam pula. Sayangnya, sosialisasi dan kampanye dalam bentuk penyampaian visi dan misi sang calon sukar ditemukan.

“Tak laku kampanye cuma dengan menyampaikan visi dan misi, kurang menarik bagi warga,” keluh Iwan, tim sukses salah satu calon di Dapil 4.

“Ketika kita sosialisasi menjelaskan visi dan misi, mereka tak bergeming. Dialognya akan segera bergeser kepada kamapanye pragmatis,” jelas Iwan dengan nada kesal. Malah dalam sebuah acara sosialisasi salah satu calon, warga yang hadir tak segan-segan menyampaikan mereka akan tertarik memilih sang calon kalau calon tersebut mau menyumbang atap Surau di dusunnya.

Apapun cara dan metodenya, biaya politik saat ini tak lagi bisa dibilang murah. Pencitraan dan sosialisasi yang dilakukan para Caleg selalu memerlukan biaya. Dan kadang-kadang susah untuk dibedakan antara biaya politik dan money politics (politik uang atau suap politik).

“Pelaksanaan Pileg 2014 sudah cukup baik, cuma perlu pembelajaran politik yang lebih baik lagi bagi pemilih. Masih banyak Caleg yang mengajari pemilih dengan uang, ini terbukti besarnya cost politik yang dikeluarkan beberapa Caleg yang tentunye bisedisinyalir sebagai money politics,” papar Musriani, tokoh pemuda pemerhati demokrasi di KKU ketika ditanya soal proses Pileg 2014.

Akhirnya konsep demokrasi bergeser sangat jauh, jauh panggang dari api. Sang Caleg pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar mengambil hati pemilih. “Sekitar Rp400 jutalah,” ujar Caleg terpilih yang enggan disebutkan namanya ketika ditanya soal biaya kampanye dirinya.

Layaknya sebuah pesta, Pileg juga menjadi ajang bagi sebagian pemilih untuk sekadar memainkan peran penting sebagai orang yang dicari-cari, berpesta hingga eksistensinya sebagai warga yang berharga tercapai. “Masyarakat kita seharusnya lebih dewasa dan cerdas lagi dalam berpilitik. Jangan cuma memikirkan kepentingan sesaat,” harap Jasman, Caleg Partai Gerindra Dapil 2 yang kebetulan belum berhasil di Pemilu kali ini.

Lain pula cerita incumbent (petahana), menurut mereka telah berupaya membangun basis-basis massa selama mereka menjabat. Itu pun tak juga menjadi jaminan nilainya dimasyarakat terangkat pasti.

“Padahal di sana sudah banyak pembangunan yang saya perjuangkan tapi masyarakat tak mau tau,” keluh salah satu incumbent yang kebetulan tidak lagi mendapat tiket ke gedung dewan. Apalagi incumbent yang memang “meninggalkan” konstituennya saat ia bertugas.

Alhasil dari 18 Caleg incumbent, hanya sepuluh yang melenggang ke kantor mereka kembali, sisanya harus angkat koper dari gedung dewan.

Membaca hasil Pemilu Legislatif KKU 2014 yang dilansir KPU KKU, ada yang menarik pada pemilu kali ini. Partai Golkar yang memperoleh 6.232 suara harus puas dengan perolehan 2 kursi di parlemen, sementara Partai Demokrat yang mengantongi 5.990 suara dapat memaksimalkan perolehan kursi sebanyak 4 kursi.

Suara yang banyak tak lantas menjadikan jumlah kursi yang besar. Pasalnya ditenggarai kekuatan politik Partai Golkar terpusat di Dapil 4. Ini dapat dilihat dari perolehan suara di Dapil 4 sebanyak 2.909 atau sebanding 46,7 persen dari total suara se-KKU. Namun sayang hanya menghasilkan 1 kursi. Sedangkan Partai Demokrat memperoleh suara yang hampir merata di setiap Dapil, memaksimalkan perolehan 1 kursi per-Dapil, sekaligus mencatatkan diri sebagai satu-satunya partai yang mendapatkan kursi di semua Dapil di KKU, Partai Demokrat juara di Pileg KKU 2014.

Hal yang serupa juga terjadi pada PKB. Kekuatan yang tertumpu di Dapil 3 terlihat pada perolehan suara di Dapil itu sebanyak 2.856 suara, merupakan 45,6 persen dari perolehan total 6.257 suara. Namun lagi-lagi, suara Dapil 3 sebanyak itu hanya menelorkan 1 kursi buat PKB.

Untungnya di Dapil 1 dan 4 menyumbang masing-masing 1 kursi buat PKB, sehingga total PKB mengantongi 3 Kursi di parlemen. Sekaligus tiket sebagai unsur pimpinan di DPRD KKU bersama PKB dan Partai Nasdem.

Partai Nasdem sebagai partai baru pada Pemilu kali ini mampu eksis di KKU sebagai peraih suara terbanyak kelima. Partai yang sempat diterpa masalah internal kepengurusan tingkat pusat, jelang Pileg 2014 ini mampu meraih simpati publik dengan perolehan 3 kursi. Tepatnya di Dapil 1, 2, dan 4 dengan total suara 5.071. Hasil ini lantas mengantarkan Partai Nasdem sebagai unsur pimpinan, menyisihkan PPP yang meraup kursi yang sama banyak dengan Partai Nasdem. Namun perolehan suara Partai Nasdem lebih unggul ketimbang PPP yang hanya 4.912 suara.

Sebagai Parpol tua, PPP mampu menambah perolehan kursi dibanding perolehan di tahun 2009 yang hanya 2 kursi. Pileg 2014, kursi PPP didapat dari Dapil 1, Dapil 3 dan Dapil 4.

PPP lahir di awal-awal zaman Orde Baru (1966-1998), buah dari penggabungan atau fusi Parpol yang digalakkan pemerintah di tahun 1973. PPP kala itu, merupakan fusi dari Partai Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Muslim Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam (PSI), dan Partai Persatuan Tarbiah Islamiyah (Perti). PPP secara resmi berlaga di Pileg 1977.

PPP di era Orde Reformasi (1999-sekarang) khusus di KKU berkembang signifikan tapi di tingkat nasional masih biasa-biasa saja. Ini tergolong mampu menjawab tantangan kekinian dalam kancah perpolitikan.

Bermodalkan 3 kursi di DPRD KKU memberi ruang bagi PPP untuk membangun fraksi sendiri, sekaligus poros baru di DPRD KKU. Berbeda dengan rekan seniornya yang lain, yakni PDI Perjuangan akhirnya hanya bisa bertahan dengan kembali mengirim 2 legislatornya ke gedung dewan, Alhusaini (Dapil 4) dan Bukhori (Dapil 2).

Sebagai Parpol pendatang baru di DPRD KKU periode 2014-2019, Partai Gerindra terbilang apik dalam memilih jagoan sebagai Caleg. Padahal di Pileg 2009 tidak punya kursi di DPRD KKU. Partai ini menuai 2 kursi dari Dapil 3 dan 4, masing-masing 1 kursi. Bahkan Zainudin Vandio SE tercatat sebagai Caleg peraih suara tebanyak di DPRD KKU hasil Pileg 2014 dengan mendulang 1.186 suara.

Di bawah kepengurusan baru, PAN mampu menyodok di barisan tengah dengan tambahan 1 kursi, sehingga kembali ke gedung dewan dengan dua legislatornya, Ishak dari Dapil 4 dan Leni Yuniati dari Dapil 3, sekaligus merupakan satu di antara dua Caleg terpilih perempuan di KKU.

PKS dan Hanura tercatat hanya mampu “bertahan” dengan perolehan masing-masing satu kursi. Sedangkan PKPI dan PBB adalah dua partai pendatang baru yang memperoleh masing-masing satu kursi.

Memang tak mudah untuk melenggang ke kursi panas DPRD KKU, sebuah jalan panjang dan berliku.  Jangankan bagi politisi pemula, politisi senior juga bisa juga terjungkal kalah. Beberapa ketua partai di Kabupaten Kayong Utara bahkan harus rela tak terpilih dan hanya mengirim kadernya yang menjadi legislator di gedung dewan.

Seleksi politik yang ketat bak lolos dari lubang jarum ini tetap saja mewajibkan kepada para Anggota legislatif nanti untuk mengemban tugas yang tak terbilang mudah dengan sebaik-baiknya. Semoga.

 

ISYA FACHRUDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: