Rawi Naim Setuju, Buku “Sejarah dan Perkembngan KKU” Diperbaiki


 

opini-rawi-naim

H.M. Rawi Naim setuju, bahwa buku “Sejarah dan Perkembangan KKU” harus diperbaiki, karena ini menjadi polemik di masyarakat. Menurut Haji Rawi, sapaan akrabnya, kita tidak boleh mengaburkan sejarah. Sejarah adalah warisan yang berharga buat anak-cucu kita. Karena, bangsa yang beradab, bangsa yang menghargai sejarahnya.

Selain Anggota DPRD asal Partai Bulan Bintang (PBB), Rawi Naim juga pelaku sejarah dalam proses pemekaran KKU. Namun, bukan berarti dia minta namanya dimasukan dalam catatan sejarah pemekaran. “Kata kuncinya, sejarah itu harus benar. Kalau tidak benar bukan sejarah namanya, tapi cerita/dongeng. Karena sejarah ialah cerita fakta yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tutur Rawi.

Sebelumnya, 11 Maret 2016, FP3KKU (Forum Pengawal Pelaksanaan Pembangunan KKU) audiensi ke DPRD. Audiensi ini dalam rangka meminta dukungan DPRD, agar buku tersebut ditarik atau dicetak kembali. Selain itu, agar DPRD mendukung anggaran biaya cetak buku Sejarah KKU, dalam APBD Perubahan atau APBD 2017.

Pada prinsipnya, Haji Rawi, unsur pimpinan dan anggota Komis I lainnya mendukung usulan FP3KKU. Karena Haji Rawi tak ingin sejarah ini jadi kabur, hanya karena kepentingan atau ego kita.

Rencana DPRD, di APBD Perubahan 2016 ini, DPRD akan mendorong  pemerintah menganggarkan dana untuk pencetakan buku Sejarah KKU. Dia mengharapkan, tim yang dibentuk FP3KKU, sejak sekarang sudah bekerja mengumpulkan bahan/data  yang dibutuhkan untuk buku tersebut.

Dalam audiensi FP3KKU ini pun, Dinas PPKAD dan Disbudparpora di undang DPRD. Dua instansi ini mendukung rencana cetak ulang buku sejarah KKU. Oleh karena itu, antara DPRD, Dinas PPKAD dan Disbudparpora sepakat, bahwa di APBD-P 2016 kegiatan ini sudah dianggarakan.

Harapan Rawi dalam pencetakan ulang buku ini, semua pihak yang berjasa dalam pemekaran, melepaskan kepentingan atau ego pribadi. Niat kita murni, hanya ingin meluruskan sejarah. Bukan mencari nama atau untuk kepentingan politis.

Siapapun berjasa dalam pemekaran KKU, bukan hanya FP3KKU atau H.M. Rawi Naim. Tanpa dukungan masyarakat KKU umumnya, pemekaran ini tidak akan terwujud. Yang paling besar jasanya, tentu Oesman Sapta Odang (OSO). Tanpa OSO, kita bukan siapa-siapa. Lihat saja rencana pemekaran kabupaten di Sandai dan Kendawangan, hingga hari ini belum membuahkan hasil.

Hanya saja, melalui forum-forum yang dibentuk di setiap kecamatan (Sukadana, Simpang Hilir, Teluk Batang dan Pulau Maya Karimata) inilah, awal dari proses pemekaran KKU. Dari forum-forum ini pula proses dan gaung pemekaran disuarakan.

Forum yang pertama kali terbentuk ialah, Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Sukadana (FKMPS), yaitu terbentuk tahun 2002. Kemudian dari forum ini, lahirlah forum masyarakat Simpang Hilir, Teluk Batang dan Pulau Maya Karimata. Karena saat itu, kita masih 4 kecamatan. Kemudian, dari 4 forum ini membentuk kesatuan, yaitu Panitia Persiapan Kabupaten Baru (PPKB), dan setiap kecamatan dibentuk devisi-devisinya. Forum ini sempat beberapa kali berganti nama. Dan terakhir setelah pemekaran, berubah namanya menjadi FP3KKU.

Terbentuknya forum-forum di atas, itu adalah bagian dari sejarah, lanjut Haji Rawi. Dari sini pula proses itu dimulai. Dan setiap sejarah ada pelakunya. Karena itu, kita jangan mengaburkan pelaku sejarah terbentuknya KKU.

Anggota Komisi I DPRD KKU ini tidak menyalahkan tim penulis buku “Sejarah dan Perkembangan KKU”. Isi buku tersebut baik. Hanya saja, judul dan sebagian isinya dikoreksi dan perlu perbaikan-perbaikan. Karena, ada kata “sejarah” dalam judul buku tersebut.

Andai kata judulnya “Perkebangan KKU”, atau apapun judulnya tanpa kata sejarah, tentu tidak akan menjadi persoalan FP3KKU. Kata “sejarah” inilah yang menyebabkan FP3KKU keberatan dan meminta dicetak ulang.

Haji Rawi mengimbau semua pihak untuk tidak salah faham. Walaupun buku “Sejarah dan Perkembangan KKU” telah dicetak dan digandakan dalam jumlah tertentu, buku tersebut tidak diedarkan kemana-mana. Bupati sendiri, H. Hildi Hamid, pun tidak sependapat dengan isi buku tersebut. (MH/IL)

Posted on 16 November 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: