Catatan Reses Sarnawi


sarnawi-kanan-sedang-meninjau-jalan-penghubung-paket-5-dan-paket-6-yang-rusak-saat-reses-di-duriaan-sebatang-5-8-maret-2016

 

Reses merupakan masa istirahat sidang bagi setiap anggota DPR/DPRD. Khusus di KKU, reses dijadikan  agenda rutin anggota DPRD untuk berkunjung ke masyarakat. Menyerap dan menampung aspirasi masayarakat. Dalam setahun, sedikitnya 3 kali anggota DPRD turun ke lapangan.

Reses awal tahun, biasanya dimanfaatkan anggota dewan untuk menyampaikan program-program yang akan dilaksanakan dalam tahun berjalan. Reses pertengahan tahun, dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi untuk kegiatan APBD Perubahan. Kemudian reses akhir tahun, yaitu menyerap aspirasi masyarakat agar dapat diakomodir di tahun anggaran berikutnya.

Demikian juga dengan Sarnawi. Anggota DPRD KKU dari dapil III melakukan kunjungan ke perbatasan KKU dan Kubu Raya, yaitu desa Durian Sebatang. Waktu reses 5 – 8 Maret 2016 ini, benar-benar dimanfaatkan Sarnawi ke lapangan, menggali dan menyerap aspirasi masyarakat.

Sarnawi mengakui, resesnya kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Jika reses sebelumnya Sarnawi bertemu dengan masyarakat dan pejabat desa/kecamatan di gedung kecamatan, kali ini tidak. Sarnawi langsung terjun ke masyarakat, mendatangi dusun-dusun atau RT-RT, berinteraksi langusung dengan masyarakat setempat.

Daerah yang pertama dikunjungi sarnawi di Durian, yaitu Dusun Punai Jaya. Disini dia disambut hangat Kepala Dusun, Ketua Adat dengan masyarakat Punai Jaya. Dalam pertemuan yang tidak formal dan spontan tersebut, mesyarakat Punai Jaya menyampaikan beberapa permohonan ke Sarnawi.

Permohonan yang disampaikan masyarakat Punai Jaya yaitu, agar gertak di pemukiman mereka diherab atau dibangun jalan. Kemudian, membangun dermaga speedboat/kapal motor. Sebab, demerga ini pun berfungsi sebagai pangkalan penyeberangan Durian Sebatang – Rasau Jaya (Kabupaten Kubu Raya).

Khusus dermaga, Sarnawi menyarankan agar ini dibangun dengan dana desa. Karena dermaga/tambatan perahu tidak masuk dalam ranah kabupaten, tetapi desa. Jika desa yang membangunnya, maka retribusinya akan menjadi Pendapatan Asli Desa (PADes) desa setempat.

sarnawi-tengah-sedang-sedang-berdialog-deng-kades-durian-sebatang-dan-kades-sui-sepeti-saat-reses-di-duriaan-sebatang-5-8-maret-2016

Setelah menyambangi dusun paling utara di KKU (Punai Jaya), Sarnawi menyambangi dusun lain yang ada di Durian Sebatang. Di dusun lain, Sarnawi prihatin melihat anak-anak sekolah (SD dan SMP) Durian Sebatang nyebarang menggunakan perahu motor. Bukan hanya sarana penyeberangan yang membuat Sarnawi prihatin. Ternyata murid tersebut harus mengeluarkan uang Rp. 10.000,00/orang/hari. Hanya saja, dana tersebut ditanggulangi dengan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah).

Seharusnya dana BOS tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Namun karena ini penyeberangan umum dan anak-anak membutuhkannya, inisiatif tersebut diambil sekolah. Inilah solusi yang dilakukan sekolah. Memungut dana langsung dari anak/orang tua tidak diperkenankan. Sebab, ini betrentangan dengan program kabupaten tentang pendidikan gratis.

Sebetulnya, lanjut Sarnawi, saat rapat kerja dengan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), dia telah mengusulkan speedboat yang ada di dinas. Tanggapan Dishubkominfo, agar desa memasukan usulan sepeedboat dalam musrenbangdes. Sehingga dinas dapat mengakomodir/dimasukan dalam kegiatan RKA/DPA dinas. Setidaknya, hasil musrenbangdes ini pun dapat menjadi dasar perjuangan Sarnawi di perlemen nanti.

Selanjutnya Sarnawi menyambangi SMPN yang ada di Durian Sebatang. Ingin melihat keadaan lingkungan dan warga sekolah secara langsung. Pantauan Sarnawi, sekolah ini pun patut diperhatikan. Terutama kebutuhan sarana dan prasarana sekolah yang masih kurang.

Di sekolah tersebut, Anggota Fraksi Partai Demokrat ini bertemu dengan Pengawas Sekolah. Sarnawi memberikan apresiasi pada Dinas Pendidikan, karena dinas memiliki pengawas sekolah yang rajin turun ke lapangan. Minimal 1 bulan sekali, pengawas sekolah tersebut turun dan datang ke sekolah-sekolah.

Setelah berkunjung ke dusun-dusun dan sekolah yang ada di Durian Sebatang, Sarnawi mengakhiri perjalanannya di rumah kediaman Sucipto, Kepala Desa (Kades) Durian Sebatang. Di rumah Kades, dia juga bertemu dengan Candra, Kades Sungai Sepeti dan masyarakatnya. Mereka begitu antusias menunggu dan ingin bertemu dengan Sarnawi dan rombongan.

Secara umum masyarakat 2 desa tersebut mengeluhkan masalah infrastruktur jalan, penyebarangan dan penerangan (lsitrik). Jalan yang dikeluhkan warga Durian dan Sungai Sepeti ialah, jalan penghubung antara Sungai Sepeti (Paket 6) dengan Banyu Abang (Paket 5). Ruas jalan yang rusak dan perlu pengerasan, sekitar 3 km. Status jalan ini jalan kabupaten, tentu perlu diperhatikan serius pemerintah.

Untuk merasakan penderitaan masyarakat perbatasan utara KKU, dengan menggunakan sepeda motor, Sarnawi dan rombongan pulang melalui jalan penghubung tersebut. Alhasil, Sarnawi pun sempat berjalan kaki. Sebab, jalan Sungai Sepeti – Banyu Abang becek dan berlobang.

Melihat kondisi jalan seperti itu, terbesit di benak Sarnawi tentang hal-hal yang darurat. Dia membayangkan, jika ada orang yang sakit darurat, bagaimana cara membawanya? Sementara mobil tidak bisa masuk. Jangankan mobil, motor saja sulit melawati jalan ini jika musim penghujan. Inilah yang mendorong semangat Sarnawi memperjuangkan jalan penghubung ini. Minimal pengerasan.

Demikian juga dengan penerangan jalan. Bantuan 25 buah penerangan jalan tenaga surya dari Dishubkominfo sudah rusak. Masyarakat ingin ada perbaikan atau pengantinya. Setidaknya lampu tersebut dapat menerangi titik-titik tertentu di desa, karena lsitrik yang bersumber dari PLN – PLTD misalnya, belum masuk kesana.

Selama 4 hari reses di Durian Sebatang, termasuk hari pergi dan pulangnya. Sarnawi juga menyerap asprasi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, Teluk Batang. Yang dikeluhkan masyarakat Teluk Batang ialah “banjir genangan”. Banjir ini termasuk banjir langanan. Satu jam saja hujan lebat mengguyur Teluk Bantang, maka dari perempat jalan utama Teluk Batang hingga ke Polsek akan banjir.

Penyebab banjir genangan Teluk Batang tak lain, karena dangkal dan sumbatnya saluran utama. Ini tentu perlu dinormalkan. Sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu. Apa lagi ini terjadi di pusat kota kecamatan.

Sarnawi berharap Pemerintah Daerah segera tanggap, agar banjir genangan ini tidak terus berulang di Teluk Batang. Paling tidak, ini sudah masuk dalam APBD-P 2016. Atau selambat-lambatnya, Tahun Anggaran 2017 sudah terealisasi, pinta Sarnawi. (Has)

Posted on 16 November 2016, in dprdkku. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Bagus ya semakin.banyak yg blusukan, semoga tidak hanya berlaku awal2 aja untuk mencari simpati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: