Alias Tegas Karena Amanah Masyarakat


alias-tegas-karena-amanah-masyarakat

Penolakan rencana tambang batu granit di Gunung Tujuh Teluk Batang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, semoga menunjukan titik terang. Saat ini, pemerintah merespon ketidaksetujuan masyarakat soal rencana ini, karena ikut memikirkan dampaknya dikemudian hari.

Sebagai wakil masyarakat dari daerah pemilihan (dapil) III, Alias, Wakil Ketua DPRD Kayong Utara pun bicara lantang menolak. Bagi Alias, naïf betul jika menyetuji rencana tersebut, yang dampaknya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

Saat ditemui Buletin Swaraku di ruang kerjanya, secara gamblang, Alias banyak bicara soal rencana tambang batu garnit Gunung Tujuh. Dia tak ingin tumpah darahnya jadi tercemar, hanya karena keuntungan dan kepentingan sesaat.

Kenapa Alias dan masyarakat Teluk Batang menolak keras rencarana tambang granit tersebut? Dijelaska Alias, Pertama, disekitar Gunung Tujuh adalah areal pemukiman masyarakat. Dan ini tidak jauh dari pusat kota kecamatan. Bahkan masih berada di zona ibukota kecamatan. Tentu ini akan menganggu tatanan/tata kota atau pemukiman masyarakat.

alias-tegas-karena-amanah-masyarakatalias-tegas-karena-amanah-masyarakat

Kedua, di sekitar lokasi tambang ada sarana  umum, seperti sekolah, masjid dan lain-lain. Ketiga, disana ada pemakaman umum Muslim dan Konghuchu. Tak mungkin kita mengusur makam ini hanya untuk kepentingan penambang yang tak jelas legalitasnya.

Keempat, apabila tambang ini beroperasi, lingkungan akan rusak dan tercemar. Sementara, masyarakat Teluk Batang Umumnya, mengandalkan air bersih dari air hujan dan air gunung. Jika gunung hancur, sumber air bersih masyarakat Teluk Batang hilang. Secara umum, ini akan menganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Sementara air hujan tidak dijamin steril lagi, karena lingkungan telah tercemar limbah penambangan. Polusi pabriknya menyebar kemana-mana, akibat aktivitas pabrik. Apa lagi penambang tersebut menggunakan bahan peledak. Radius 2000 meter saja masih kentara terasa getarannya. Ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi lingkungan masyarakat.

“Bagi orang kaya gampang saja mendapatkan air bersih, tinggal telpon, air datang ke rumahnya. Tapi bagi masyarakat miskin yang mengandalkan air gunung atau air hujan, harus kemana mereka mendapatkan sumber air bersih yang  layak konsumsi?” tutur Alias.

Sejauh ini, 90 % masyarakat desa Teluk Batang Selatan dan desa Alur Bandung yang kena dampak lansgung nantinya, membuat pernyataan pelonakan ke PT TMS, perusahaan yang ingin mengeksplorasi. Lebih dari 3000 orang bertandatangan, menyatakan penolakannya. Penolakan tersebut diketahui masing-masing Kepala Desa dan BPD, ditembuskan ke instansi terkait, termasuk Bupati.

alias-tegas-karena-amanah-masyarakat-1

Bahkan penyataan penolakan masyarakat ini telah sampai ke Kementerian ESDM, Kehutan dan Lingkungan Hidup di pusat, serta Komisi IV DPR RI. Alias dan rekan sejawatnya membantu memediasikan masyarakat dengan pihak terkait.

Kemudian, melalui Komisi IV DPR RI, masalah ini telah dibahas dengan kementerian terkait. Janji Meteri, rencana tambang granit di Gunung Tujuh akan ditinjau ulang. Yang pasti, pihak pengusaha tidak pernah mengurus izin. Atau belum mengantongi izin rencana penambangan ini dari kementrian terkait. Apa lagi soal AMDAL, mereka belum mengantongi sama sekali.

Ketika ditanya tentang kepastian tambang tersebut, anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ini menjawab, tidak bisa memastikan. Hingga hari ini pihak perusahaan sedang berupaya mengurus perizinannya.

“Kita lihat saja nanti, peduli tidak pemerintah terhadap nasib rakyat kecil. Jika pemerintah berpihak pada nasib rakyat kecil, tambang tersebut tidak akan beroperasi. Namun secara pribadi, dengan tegas saya nyatakan, saya menolak rencana tambang tersebut,” tegas Alias.

Pada hal, luas areal tambang batu granit yang akan dieksplorasi, sekitar 50 hektar saja. Dalam kurun waktu 3 tahun mungkin tambangnya sudah habis. Tetapi dampak yang ditinggalkan dari aktivitas ini bagi masyarakat sangat besar. Berpuluh-puluh tahun masyarakat akan merasakan dampaknya.

Pihak investor pun dinilai Alias tidak fair juga. Pemilik dananya orang asing (Korea), mengatasnamakan kepemilikan perusahaan di Indonesia. Yang mengurus dan mengelola di lapangangan orang kita. Seolah-olah kita dijadikan asing sebagai tumbalnya. Kita diandu sesama kita.

“Kenapa tidak perusahaan atau orang Indonesia saja yang mengelolanya? Apakah karena mereka (asing) ingin menghindari pajaknya. Atau mau mencari amannya saja, sehingga orang kita yang disodorkannya?” sesal Alias.

Jika tambang tersebut akan membawa kemakmuran bagi masyarakat Teluk Batang khususnya, Alias ingin tahu, kemakmuran seperti apa yang ditawarkan perusahaan ke masyarakat? Selama ini, CSR (Corporate Social Responsibility) yang dijanjikan perusahaan kepada masyarakat, hanyalah janji-janji belaka. Banyak contoh/kasus yang terjadi di bumi pertiwi ini, masyarakat disekitar perusahaan raksasa sekali pun, selalu menderita.

Alias mencontohkan masyarakat di sekitar tambang tembaga PT Freeport, di Tembagapura Pupua. Tambang tembaga, emas dan logam lainnya terbesar di dunia. Apakah masyarakat di sekitar tambang Tembagapura sejahtera? Tidak! Malah kantong kemiskinan di Papua tinggi di Indonesia.

Tak usah jauh-jauh, lanjut Alias. Di Kendawangan, Kabupaten Ketapang misalnya. Apakah masyarakat Kendawangan sejahtera dengan masuknya perusahaan bouksit atau PT WHW? Sampai sekarang, jalan Ketapang – Kendawangan tidak tuntas-tuntas. Masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah tak layak huni. Rumah-rumah warga di pinggir jalan bercatkan debu. Artinya apa? Hanya orang-orang tertentu saja yang menikmati hasil tambang. Sementara, masyarakat miskin hanya bisa merasakan dampaknya. Lingkungan rusak dan tercemar.

Alias berharap pada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi mendengarkan aspirasi masyarakat bawah, terutama 2 desa yang terkena dampak langsung. Jangan kita memandang ini preseden buruk bagi daerah kita. Preseden buruk yang bagaimana, tanya Alias.

“Jangan sampai kita mengorbankan ribuan jiwa masyarakat di dua desa tersebut, hanya untuk melegalkan usaha 2 orang Korea. Apakah ini kebijakan politis yang baik buat negara dan bangsa kita?” ungkap Alias simpatik.

Alias mengungkapkan, dia termasuk orang yang pertama menolak rencana tambang batu granit di Gunung Tujuh Teluk Batang. Dia juga yang menyampaikan penyataan keberatan masyarakat ke DPR RI dan Kementrian terkait.

Kalau pun kegiatan pertambangan batu granit tetap dilaksanakan di Gunung Tujuh, Alias menegaskan, bahwa dia adalah orang pertama yang kedepan, melaporkan pihak pengusaha ke KPK.

Kenapa Alias begitu kuat, semangat dan berani melaporkan perusahaan ke KPK, jika mereka tetap nekad menambang? Karena Alias melihat dan menilai, ada kejanggalan dalam perizinan mereka.

Alias tak faham, jika ada oknum pejabatan/pemegang kebijakan mendukung rencana tambang di Gunung Tujuh. Mereka orang-orang berduit, mau tinggal dimana saja mungkin mereka bisa. Masyarakat kecil? Mereka hanya bisa pasrah jika sudah terjadi.

Ketika ada pihak asing yang datang, kadang oknum pejabat tersebut segera melayani. Sementara, ketika masyarakat yang datang menuntut haknya, bahkan berdemo sekali pun, mereka masih abai. Lalu kepada siapa lagi masyarakat harus mengadukan nasib mereka?

Untuk membuktikan rencana tambang batu granit di Gunung Tujuh, pihak kementerian menurunkan tim ke lapangan, sekitar 1 bulan yang lalu. Penyataan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga saat ini, pihak perusahaan tidak menyampaiakan permohonan izin ke kementerian mereka. Ini disampaikan Meteri, saat rapat kerja dengan  Komisi IV DPR RI belum lama ini. Anehnya, pihak perusahaan mengklaim, bahwa mereka telah mengantongi izin dari Kementerian, Gubernur bahkan Dinas ESDM KKU.

Dinas ESDM Kayong Utara pernah mengeluarkan rekomendasi kepada pihak perusahaan, untuk tindaklanjut ke tingkat provinsi. Namun ketika ada kemulut dari elemen masyarakat, bulan Pebruari yang lalu, Bupati mengeluarkan surat. Inti dari surat Bupati, agar pihak perusahaan menghentikan segala bentuk kegiatan, sembelum ada perizinan yang jelas, termasuk AMDAL. Ini respon positif dari Bupati yang patut kita acungi jempol.

Bahkan surat Bupati tersebut ditindaklanjuti Camat Teluk Batang, disampaikan ke Polsek Teluk Batang. Agar pihak Polsek turut membantu segala kemungkinan yang terjadi di lapangan. Karena kita patut waspada, pihak perusaha ini agak nakal. Tidak dapat cari ini, cara lain yang mereka lakukan, agar tujuan mereka tercapai. Yang kita khawatirkan, masyarakat akan bereaksi kembali. Semoga itu tidak terjadi, imbuh Alias.

Alias mengajak seluruh masyarakat Kayong Utara, jangan kita menutup mata terhadap persoalan ini. Jangan karena uang miliaran kita berpikir instan, tanpa memikirkan dampaknya kemudian hari. Mari kita duduk satu meja. Kita pikirkan manfaat dan mudharatnya. Kita carikan solusi terbaiknya, tentu dengan tidak mengorbankan masyarakat kita.

Sebagai orang yang diberi amanah, diberi kekuasaan untuk menjabat,  sangatlah naïf jika tidak mampu berbuat untuk masyarakat. Sepantasnya kita melindungi, mengayomi dan mendengarkan keluhan mereka. Karena, sebesar apapun jabatan kita, akan dipinta pertanggungjawabannya dikemudian hari.

“Kepada pemangku kepenting, pejabat, atau orang-orang yang diberikan amanah oleh masyarakat, mari kita berpihak kepada masyarakat, bukan kepada kapitalis. Siapa sih yang tak butuh uang, tapi semua itu ada batasannya. Jangan karena uang, masyarakat kecil yang jadi korban,” ajak Alias.

Saat ditanya soal pembangunan, Alias ingin, 5 tahun yang akan tidak ada lagi pembangunan jalan. Seharusnya, saat ini pemerintah lebih fokus membangun infrastruktur jalan. Sehingga 5 tahun yang akan datang, kita lebih fokus pada pembangunan lainnya, misalnya pembangunan SDM dan ekonomi. Artinya, pemerintah memiliki target yang jelas dan terukur, tutup Alias. (Has)

Posted on 16 November 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: