5 Tahun Silam Perda PDAM Disahkan, Tapi Kapan Eksennya?


h-alhusaini-sh

Air bersih adalah kebutuhan vital masyarakat yang harus terpenuhi. Jika harus memilih, kita tentu lebih memilih tidak makan 1 hari, ketimbang tidak minum 1 hari. Namun, kebutuhan vital ini masih saja menjadi momok di tengah masyarakat KKU. Terutama daerah yang tidak memiliki sumber air bersih, atau tergantung dengan air hujan.

Jangan sampai masyarakat KKU seperti pepatah, “Bebek berenang di sungai tapi mati kehausan”. Demikian ungkapan H. Alhusaini, S.H, Sekretaris Komisi II DPRD KKU ke Buletin Swaraku baru-baru ini.

Untuk menjawab segala persoalan tentang air bersih, Alhusaini menyambut baik dan mengapresiasi niat baik Pemerintah Daerah (Pemda). Pemda menginisiasi lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10/2011 tentang PDAM. Artinya, ada kesungguhan pemerintah dalam menjawab persoalan air bersih di tengah-tengah masyarakat KKU.

Yang disesalkan Alhusaini, kenapa hingga saat ini belum ada eksen (action red) dari Pemda membentuk PDAM? Sudah 6 tahun berjalan (2011-2016) Perda tersebut disahkan, tapi tak ada tindaklanjut dari dinas yang mengusulkan Perda ini.

“Sebelumnya, DPRD didesak untuk membahas dan mengesahkan Perda tersebut. Namun, setelah disahkan DPRD, tak ada tindaklanjutnya. Padahal, konsekuensi dari lahirnya Perda tersebut, harus sudah terbentuk PDAM dan perangkatnya. Kalau inisiatif DPRD wajarlah mereka (Pemda) abai, ini usulan mereka,” sesal Alhusaini.

Padahal, dengan tebentuknya badan Pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), akan meringankan kerja Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Jadi pekerjaan tidak menumpuk di dinas tersebut. Sehingga berpengaruh terhadap kinerja Dinas PU itu sendiri.

Jangan salahkan masyarakat jika harus melobangi selang leding sendiri, karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab terhadap leding yang ada. Contoh listrik, karena ada PLN yang menanganinya, masyarakat tidak berani sembarangan mengambilnya. Sebab, ada konsekuensi hukumnya jika masayarakat lakukan itu. Ini jauh lebih tertib dibanding tidak ada pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.

Hampir saban tahun, Bidang Cipta Karya Dinas PU menanam selang, namun airnya masih sulit terealisasi. Kenapa? Untuk mengurus pekerjaan fisik lainnya saja, pekerjaan Dinas PU sudah luar biasa. Namun jika PDAM yang mengelolanya, ini akan lebih fokus dan tersistem.

Keterbatasan personil dan anggaran, bukan alasan mendasar bagi Pemda untuk menunda pembentukan PDAM. Dengan lahirnya Perda dan tebentuknya PDAM, konsekuensinya, harus ada rekrumen tenaga kerja. Atau, sementara waktu memanfaatkan tenaga kerja (pegawai) yang ada. Sehinga kita tidak mencederai produk hukum yang sudah ditetapkan.

Soal anggaran atau biaya operasional untuk PDAM, jika Pemda mengalokasikan anggarannya dalam APBD, tak ada alasan DPRD menolaknya. Sebab, ini menyangkut hajat hidup dan kepentingan orang banyak.

“Andai Pemda memadang PDAM ini penting untuk mengurusi kebutuhan vital masyarakat, kenapa Tahun Anggaran 2016 saja, itu tidak muncul? Selama tidak muncul atau diajukan Pemda, mana mungkin DPRD bisa membahasnya,” pungkas Alhusaini.

Berkali-kali politisi kawakan PDI Perjuangan ini menanyakan soal ini ke dinas terkait, namun tetap saja tidak ada tindaklanjutnya. Dugaannya, ada semacam pengabaian Pemda dalam menyikapi persoalan ini.

Rencananya, Alhusaini dan rekannya di Komisi II akan memanggil dinas terkait. Meminta keterangan dinas, kenapa tidak ada tindakjut Perda Nomor 10/2011 tersebut.

Bagi Alhusaini lucu saja. Jumlah APBD KKU sudah lebih dari Rp. 700 miliar, tapi menganggarkan untuk pembentukan PDAM tidak bisa. Kenapa yang lain bisa dianggarkan? Padahal PDAM kebutuhan mutlak yang harus ada dan terpenuhi.

Jika PDAM terbentuk, setidaknya ada retribusi yang bisa di dapat daerah dari pengelolaan air bersih. Kendati Pemda harus defisit, karena besar biaya operasional ketimbang hasil yang di dapat air bersih. Setidaknya ini lebih baik dari pada menanam selang, atau membangun jaringan air bersih tapi tak berfungsi dan menghasilkan. Bahkan terkesan buang-buang uang percuma.

Saat ini, Dinas PU terus merencanakan dan membangun jaringan/instalasi air bersih. Termasuk akan membangun sumber air bersih di Sungai Buluh Semanai desa Simpang Tiga. Ini rencana baik. Namun Alhusaini pisimis. Nasib leding Sungai Buluh ini, bisa saja bernasib seperti Instalasi Pengelolaan Air bersih (IPA) Rantau Panjang dan IPA-IPA lainnya.

Menurut Alhusaini, jika pembangunan air bersih model IPA atau menggunakan mesin pendorong, tidak dengan sistem grafitasi, akan sia-sia. Kalau IPA atau menggunakan mesin, biaya operasionalnya akan lebih besar lagi. Contohnya IPA yang ada, tak berfungsi. Namun jika dengan sistem grafitasi, dia sangat optimis akan berhasil. Sebab, sumbernya tersedia di tempat kita.

Alhusaini lebih setuju pembangunan air bersih di KKU di pusatkan di cabang Panti Gunung Palung. Karena sumber airnya besar dan letaknya sangat tinggi dari permukaan laut. Keyakinan Al, panggilan Alhusaini, air cabang Panti mampu mengaliri hingga Seponti dan Pulau Maya.

Sejak 2010, DPRD sudah mendorong Pemda membangun air bersih di cabang Panti. Namun Pemda masih banyak alasan ini itu. Katanya, cabang Panti masuk dalam kawasan TNGP, dan berbagai alasan lainnya untuk mementalkan ini. Kita bukan merusak hutannya, tapi memanfaatkan airnya.

Persoalan air di cabang Panti masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), jangan diragukan boleh atau tidaknya. Banyak alasan membuat sumber air tersebut boleh dimanfaatkan masyarakat. Karena Al sudah pernah koordinasikan ini ke Dirjen Pranologi Kementerian Kehutanan. Menurut Dirjen tidak masalah, air di kawasan TNGP boleh dimanfaatkan. Contohnya di daerah Maros Sulawesi. Air bersih di Maros bersumber dari kawasan hutan lingdung/taman nasional.

Dalam pasal 33 ayat (3) UUD 1945 berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang ada didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Artinya apa? Bahwa sama halnya, air cabang Panti pun bisa dimanfaatkan dengan alasan untuk kemakmuran rakyat. Anggap saja, ini kompensasi pusat untuk daerah. Karena selama ini kita tidak dapat apa-apa dari pusat soal TNGP, selain menjalankan kewajiban menjaga dan melestarikannya.

Artinya, tinggal niat Pemerintah Daerah saja, dalam hal ini Bupati. Mau atau tidak Bupati mengusulkan pemanfaatan air cabang Panti sebagai sumber air bersih daerah ke Dirjen Pranologi. Karena syaratnya, Bupati mengusulkan, kemudian di dukung DPRD, Balai TNGP dan Dinas Kehutanan ikut memberikan keterangan. Al berkeyakinan, tak ada alasan yang kuat Kementerian Kehutanan menolaknya. Dengan catatan, kita berkomitemen menjaga dan melestarikan kawasan tersebut.

Namun jika tidak ada niat atau rencana Pemda mengusulkan pemanfaatan air Panti ke pusat, maka Pemerintah Pusat tidak akan pernah mengubris masalah ini. Karena konsep pembangunan itu diusulkan dari bawah ke atas (top down), bukan dari atas ke bawah  (bottom up).

Kalau bicara tidak boleh, air leding di Mentubang saja bersumber di kawasan TNGP. Kenapa bisa di bangun dan airnya bisa dimanfaatkan? Karena alasannya jelas, seperti yang termaktub dalam pasal 33 ayat (3) UUD ’45. Demikian juga air Panti, tentu bisa dimanfaatkan daerah untuk kepentingan rakyatnya.

Ini baru bicara soal visi misi tambahan saja, masih belum bisa terpenuhi. Belum bicara soal visi misi unggulan daerah tentang pendidikan dan kesehatan gratis, banyak hal yang akan kita jumpai. Ini bukan perkara mencari kelemahan/kesalahan seseorang. Atau mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. Tapi soal bagaimana memperbaiki dan menata kabupaten ini, agar kedepannya semakin membaik. Demi kemaslahatan masyarakat banyak.

Oleh karena itu, calon Magister Ilmu Hukum Untan ini mendorong, agar Pemda segera membentuk PDAM. Dengan demikian, ada lembaga khusus yang menangani air bersih, sehingga bisa lebih fokus. Dan beban kerja Dinas PU akan berkurang. Karena dasar hukumnya sudah ada, yaitu Perda Nomor 10 Tahun 2011. (Has)

Posted on 16 November 2016, in dprdkku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: