Perjalanan Arini, Gadis Manis dari Tanah Kayong


*Tak kan Kuasa menolak Takdir. –
arini gadis kayong utara cantik

Gb  ( IST)

“Rintih dan pedih yang di jalani adalah bagian dari sebuah takdir hidup, namun demikian harus tetap di lalui dengan penuh senyum dan keikhlasan, karena kelak akan mendapatkan berkah di penghujung cerita“.

Namanya adalah Arini, saat ini ia hidup di tanah kayong Ketapang, yang mana pada belasan tahun silam ia terlahir di pelosok tanah Kayong Utara yang saat ini menjadi kabupaten dengan ibu kotanya yang terkenal yakni Sukadana Kalimantan Barat.

Arini terlahir dari keluarga yang pas pasan secara ekonomi, sejak bayi berumur 5 bulan ia sudah di tinggal sang ibu untuk bekerja menjadi TKW ( tenaga kerja wanita ) di luar negeri, sedangkan sang ayah yang telah menceraikan sang ibunya, lalu pergi entah kemana tak ketahuan rimbanya. Sejak usia 5 bulan, Arini di asuh oleh datok dan neneknya hingga ia tumbuh dewasa menjagi gadis manis yang belia.

Ketika arini telah tamat Sekolah Menengah Pertama ( SMP ), ia di kirim ke Pesantren oleh datok dan neneknya, atas permintaan sang Ibu yang masih bekerja menjadi TKW di luar negeri. Walau berat berpisah dengan keluarga, Arini menurut saja karena toh itu semua demi kebaikannya.

Setiap bulan kebutuhan arini di cukupi oleh sang Ibu yang berada di luar negeri hingga ia tamat sekolah Aliyah. Tak terasa 3 tahun ia mondok dan sekolah formal. Ikatannya pada pelajaran agama begitu ia patuhi, ia tumbuh menjadi gadis yang relegius lagi cantik dan pintar di pondoknya. Namun semua itu tak membuatnya bangga, sebab ia selalu ingat pesan dari sang ibu bahwa, jangan mudah terhanyut dengan perasaan bangga sebab kebanggaan akan menyurutkan semangat, setidaknya itu salah satu ajaran sang ibu Arini.

Setlah Arini 7 tahun di Pesantren dan puluhan tahun sang ibu menjadi TKW akhirnya mereka di satukan. Betapa bahagia sang ibu ketika berjumpa dengan anak gadisnya, selain tumbuh dewasa Arini juga menjadi seorang pribadi yang lurus polos lagi taat pada agamanya.

Arini tak bermaksud melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, bukanlah masalah biaya baginya, namun pandangan keluarganya kuliah bukanlah hal wajib yang harus di lakukan, baginya hidup apa adanya di kampung halaman merupakan sebuah impian yang ia damba dambakan. Baginya ilmu di Pondok pesantren salafiyah adalah bekal tuntunan hidup damai aman dan tentram dunia dan akherat. Cita citanya cukup sederhana, yakni menjadi Ibu rumah tangga yang baik, di cintai Suami dan anak anaknya. Sudah cukup itu saja cita citanya, sederhana namun cukup mendasar bagi kemajuan bangsa ini.

Pada Tahun 2015, Arini dan sang ibu lalu kembali pulang ke Kalimantan tepatnya di bumi tanah kayong utara, yang saat ini sedang ramai ramainya menyambut gawai Sail Selat Karimata yang akan di adakan pada tahun 2016 mendatang.

Saat kembali ke kampung halaman, Arini kembali hidup seperti biasa layaknya masyarakat kayong utara yang hidup dengan bertani dan berkebun. Ia membantu Ibu dan datok serta neneknya untuk mengurus ladang dan kebun, dan ketika malam hari ia membimbing anak anak yang datang menimba ilmu agama padanya.

Begitulah hari hari kegiatan Arini, dalam hidupnya mengalir begitu saja. Namun menginjak usianya 23 Tahun ia belum pernah memiliki seorangpun pria yang hinggap dalam sanubarinya. Sudah puluhan bahkan mungkin ratusan laki laki yang datang padanya untuk menyatakan cinta, namun ia belum memiliki nhasrat kepada semua pria yang datang padanya. Begitu juga sang ibu Arini, sampai saat ini ia masih janda, dan ia belum mau untuk menikah lagi. Rupa rupanya rasa trauma masa lalu begitu mendalam, sehingga sampai sampai Arini belum mau berfikir untuk menikah dengan siapapun.

Walau beberapa kali Arini di desak bahkan di jodohkan, ia tetap saja masih belum memiliki kemauan, walaupun jauh di hatinya ada sebuah kekosongan yang tak semua orang tau.

Hingga suatu saat datang seorang pria yang mampu menggetarkan dan menguatkan hati Arini. Pria itu bukanlah pria kaya raya, ia juga bukan seorang bangsawan atau berpangkat dan jabatan. Ia seroang pemuda yang sangat bersahaja, kegiatan rutinnya adalah mengurus sawah dan ternak kambing, begitu malam hari ia membantu abahnya mengajar ngaji di langgar ( surau). Ia tamatan dari pondok salafiyah terkenal di jawa. Cak Dar ia di panggil.

Arini tak kuasa menahan gelora, hatinya bergetar getar manakala melihat atau di sebut nama “Cak Dar”. Kuat sudah hati Arini untuk yakin bahwa tak semua pria berlaku semena mena. Begitu juga sang ibunya juga sudah setuju jika ia kelak berumah tangga dengan cak dar.

arini 9

Akhirnya mufakatlah kedua belah fihak keluarga untuk menuju pada jenjang yang  lebih serius, secara resmi pada malam itu Arini di ikat dengan cincin emas sebagai tanda bahwa ia telah di khitbah ( di lamar ) oleh cak dar. Untuk rencana pernikahan telah di sepakati pada bulan safar, setelah lebaran idhul Adha tahun 2016.

Waktupun merambat pelan, Arini dan Cak dar menjalani kehidupan masing masing, sambil menunggu hari pernikahannya yang masih setengah tahun lebih. Namun di tengah menunggu, timbul sebuah tanda tanya dan ke khawatiran dalam diri Arini. 3 bulan sudah ia tidak datang haid, ia khawatir akan penyakit di dalam dirinya, sebab menurut beberapa kabar apabila seorang wanita yang tidak hamil namun 3 bulan tidak datang haid, bisa jadi di sebabkan penyakit atau hal lain yang tidak normal di dalam rahim. Begitulah  fikir Arini, semua berkecamuk dalam bayangannya.

Tidaklah ia mau bercerita dang sang ibu sebab ia malu, hanya kepada sang nenek fikir hatinya ia akan mengadu, karena selam ini ia tidaklah sungkan padanya, sebab sedari   bayi ia telah lekat bersama nenek dan datoknya.

Sang nenek heran mendengar penyampaian Arini, awal mula sang nenek curiga jika Arini telah berhubungan badan dengan Cak Dar, namun Arini berani bersumpah demi Allah tidaklah sekalipun Cak Dar menyentuh tubuh bahkan kulitnya. Sebab ia paham betul bahwa berhubhungan intim itu di murkai Allah sebelum pada masanya ia sah dalam ikatan pernikahan.

Nenek arini terpaksa bercerita dengan sang Ibu supaya mengetahui permasalahan putri tercitanya. Sempat terjadi syak parasangka dari sang Ibu arini terhadap puterinya, namun sekali lagi Arini bersumpah demi Allah jika ia tidaklah melakukan hubungan badan dengan Cak dar atau siapapun laki laki. Lega rasanya hati sang ibu mendengar pernyataan Putrinya. Dalam hati kecilnya kuatlah bahwa yang menyebabkan ia tidak haid selama 3 bulan adalah penyakit atau hal lain.

Pergilah sang ibu bersama Arini ke Klinik pengobatan yang terdekat di Kota sukadana, dengan seksama di sana Arini di periksa. Sang ibu harap harap cemas mendengar keterangan dokter. Hampir setengah jam Arini di periksa dan akhirnya dokter menyatakan bahwa Arini untuk di bawa ke Dokter Spesialis Kandungan. Dokter di klinik tersebut tidak mau memvonis ia sakit atau ada sesuatu. Dokter klinik tersebut hanya menjelaskan jika di dalam rahim Arini ada sesuatu yang ganjil. Ada 3 titik bercak hitam mencurigakan yang teridentifikasi, namun lagi lagi dokter itu tidak mau menyebutkan bahwa bercak itu apa. Penegasan yang detil adalah Dokter spesialis kandungan yang lebih paham, begitulah diagnosa sang dokter  demi kehati hatian, lantaran ia adalah dokter umum.

Arini dan sang ibu pulang dengan berbagai macam tanda tanya dan ke khawatiran. Bagi Arini ia khawatir akan sakit tumor yang nantinya akan mengganggu keturunan ke depan bersama Calon suaminya. Namum bagi sang ibu justru khawatir akan cerita yang lain.

Dua hari kemudian, berdasar rujukan dari puskesmas setempat, Arini bersama ibunya datang pada Dokter spesialis kandungan di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Ketapang.

Setelah mendaftarkan administrasi Arini dan ibunya antri sambil duduk menunggu dengan penuh harap cemas. Setengah dua belas siang giliran Arini di panggil, ia bersama ibunya masuk di rungan dokter spesialis kandungan. Mula mula sang dokter bertanya akan keluhan, lalu tak beberapa lama sang dokter dan satu perawatnya mengajak untuk ke ruang USG. Setelah itu Arini di beri sebuah alat yang ia tidak tahu jika alat sederhana itu adalah alat tes kehamilan. Ia mengikuti semua instruksi dari Dokter tersebut.

Arini lg

Setelah itu Arini dan sang ibunya duduk kembali untuk mendengarkan hasil diagnosa Dokter. Tanpa banyak bicara dokter itu meletakkan alat tes kehamilan dan bukti print out USG, lalu dengan seksama sang dokter memandang penuh makna pada Arini. Sang ibu yang sudah tak sabar memohon untuk cepat di katakan apa yang di derita sang anaknya. Dokter itu lalu berkata “ dia hamil Bu”. Jantung Arini dan sang Ibu seakan akan berhenti berdetak. Beberapa saat Arini dan sang ibu tak dapat berkata kata. Lalu dengan sisa sisa kekuatan Ibu arini setengah memaksa dokter untuk memeriksa kembali.

Dokter itu hanya menunjukan hasil test kehamilan, terlihat garis merah tidak begitu terang ada dua garis. Dokter kembali menjelaskan jika usia janin di perkirakan baru satu bulan berjalan. Dengan penuh rasa kecewa sang ibu langsung membentak Arini dan melayangkan tamparannya di wajah Arini yang tipis itu.

“ teganya kau rin melakukan ini,… kau buat malu ibumu, “. Sambil terisak isak menangis. Arini hanya tertunduk diam, ia tak berani melawan sang ibunya, namun ia coba beranikan diri demi harga dirinya yang saat ini sedang di pertaruhkan.

“ Bu… maaf bu aku sama sekali bbelum pernah di sentuh oleh laki laki bu”.. ungkap Arini bicara pelan pada ibunya .

“Diam ……, ini buktinya rin… ini …”. Ungkap sang ibu berteriak, lalu dokter yang dari tadi mematung ikut bicara.

“ maaf bu, ibu sabar… sekarang ibu boleh pulang kasih tau ayahnya dan di rundingkan dengan baik “. Ungkap dokter. Menyadari akan hal itu sang ibu langsung mengusap air mata dan mencoba untuk menguasai diri, lalu beranjak dari ruangan sang dokter dengan luka yang mendalam.

Dari perjalanan hingga pulang, Arini dan sang ibu tiada bertegur kata sepatahpun, masing masing tenggelam dengan alam fikirannya. Sesampai di rumah sang ibu menangis sejadi jadinya pada sang nenek dan datoknya arini.

“sudahlah sudah… nanti biar aku yang bicara pada Arini pelan pelan”. Ungkap sang nenek sambil mengusap kepala Ibu Arini yang shock.

Arini bingung dengan apa yang terjadi padanya, ia di Interogasi oleh semua orang dalam keluarganya, bukan hanya datok dan nenek, tapi juga paman pamannya. Namun ia tetap berrsikukuh tidak mengakui jika ia tidak pernah di sentuh apalagi melakukan hubungan badan dengan siapapun.

Pada puncaknya sang kelurga bingung dengan keadaan Arini, di sisi lain mereka ingin pengakuan dari Arini jika ia melakukan dengan Cak dar tunangannya atau dengan yang lain, namun dengan cara apapun mereka mengorek keterangan, Arini tidaklah mau mengakuinya, mereka merasa menanggung malu. Betapa tidak, walau mereka adalah keluarga dengan ekonomi pas pasan, namun masalah kehormatan dan harga diri tiada berbanding  dengan apapun, begitulah prinsip hidup mereka.

Perundingan kecil dalam keluarga terjadi, sepakatlah Arini untuk tinggal bersama bibinya di Ketapang, sambil menunggu persalinan dan di carikan orang yang kiranya mau menjadi suami dengan keadaan apa adanya. Arini tak punya kuasa untuk menolak kesepakatan keluarganya, perasaanya sungguh tersayat, tak satupun yang percaya akan pengakuannya, namun di sisi lain ia juga heran dengan keadaan dirinya. Ada apa sebenanrnya dengan diri ini.

Tidak terasa satu minggu ia di ketapang dalam pengasingan, begitulah bisik dalam hatinya. Namun demikian ia jalani apa adanya. Walau di lubuk hatinya sudah ada cak dar, namun ia saat ini harus mencoba untuk melupakan bahkan mengubur rapat rapat nama itu. Sebab keadaanya tidak memungkinkan. Ungkapnya dalam hati

Dalam masa itu di suatu sore pada awal minggu ke dua datang pamannya bersama seorang laki laki yang tidak di kenal Arini. Lalu pelan pelan pamnnya menyatakan bahwa laki laki itu nanti malam yang akan menyelamatkan aib keluarga. Arini hanya tertunduk diam. Ia mengikuti saja perintah dari keluarganya.

Pada malam nya, jum`at tepat jam 20.00 WIB, keluarga arini datang. Yang asing bagi arini di rumah itu hanyalah seorang laki laki yang tadi sore datang, dan seorang paruh paya yang mengenakan kopiyah hitam dan sorban layaknya Kiyai.

Tidak banyak yang di bicarakan pada malam itu, intinya adalah ritual pernikahan yang syah secara Islam, namun belum tercatat di pengadilan agama. Dengan kata lain nikah bawah tangan. Begitulah jalan yang di tempuh kkeluarga Arini malam itu.

Tidak ada yang tau apa yang di rasakan Arini malam itu, ia hanya bisa menahan perasaan dan mengikhlaskan apa yang akan terjadi. Pada malam itu juga ia harus berkumpul dengan orang yang selam ini sama sekali tidak pernah ia kenal bahkan ia bayangkan. Rasanya ingin sekali ia menggugat dari takdir. Namun sekali lagi karena keluarga dan rasa baktinya terhadap agama dan sang ibu, ia harus ikhlas menjalaninya. Malam itu adalah malam pertama ia akan di sentuh bahkan di jamah oleh laki laki yang tiada pernah ia bayangkan. Dan malam itu ia harus mengakhiri semua mimpi bersama Cak dar yang telah lalu. Ia harus mencintai laki laki yang telah syah menjadi suaminya.

Rembulan yang terangpun tertutup oleh awan, seakan ikut berduka akan Nasib Arini, tepat pukul 01.00 dini hari, terdengar sayup dan begitu lirih rintihan dari bilik Arini. Keluarga Arini tiada tahu akan hal itu, seandaipun tahu, itu adalah hal yang wajar dimana hubungan suami istri yang syah. Namun jauh di relung hati Arini, tangisan itu  bukanlah suatu masalah kenapa ia harus bernasib begitu, bukanlah ia tidak ikhlas atau ingin lari dari kenyataan, namun tangisannya malam itu adalah tangisan bahagia bercampur sedih. Bahagia karena ia telah resmi menjadi seorang istri dan harus siap melayani semua perintah sang suami, juga sedih karena perjalanannya harus melalui proses yang memalukan namun tidaklah ia lakukan.

Ke esokan hari Arini langsung di boyong kerumah sang suami. Ia hari hari membantu sang suami berdagang dan melakukan aktifitas ibu rumah tangga di rumah. Semua ia jalani dengan ikhlas dan sabar. Beruntung suaminya walau usia terpaut jauh juga termasuk katagori laki laki yang baik dan bertanggung jawab, dan yang paling penting bagi Arini, sang suami juga ta`at beragama.

Hingga suatu hari sang suami mengajak Arini untuk ke puskesmas guna meminta KMS ( kartu menuju shat), yang lazim di miliki oleh ibu ibu hamil. Arini pasrah saja, ia mengikuti saja apa kata sang suami. Namun alangkah terkejutnya ketika di periksa oleh bidan di puskesmas ternayat Arini tidaklah hamil. Berkali kali sang suami memastikan bahkan hingga ke beberapa bidan, hahsilnya masih saja tidak hamil.

Akhirnya tidak puas dengan pemeriksaan bidan, ke esokan harinya Arini di bawa sang suami untuk pergi ke dokter Spesialis kandungan di salah satu Rumah sakit milik pemerintah. Tetap saja keterangan sang dokter bahwa Arini tidaklah hamil. Bahkan dari hasil USG rahim Arini tidak ada apa apanya, padahal pada beberapa minggu lalu ada 3 bercak hitam di rahimya, kini di dekat rahimnya ada semacam sesuatu yang mengumpul semacam cairan, dan di perkirakan itu adalah darah menturasi yang akan keluar.

Kontan saja sang suami Arini yang berpangkat duda itu menepuk kepala. Terlintas peristiwa malam pertama saat ia tidur dengan Airini. Pantas saja Arini merintih dan menangis, karena saat itu ia masih gadis. Bearti selama ini Arini tidak mengaku itu adalah kebanaran, begitulah kata hatinya. Lalu apalah di dalam rahimnya kemaren ?. kenapa dokter bisa salah deteksi ?. apakah hail USG bisa salah ?. ooh tidak ini adalah suatu kecerobohan fikirnya. Tapi sudahlah semua sudah terjadi, toh Arini juga sudah mulai belajar mencintainya dengan ikhlas. Walau telah di katakan tidak hamil, sikap  Arini juga tidak berubah padanya, sepertinya Arini sudah benar benar ikhlas menjalani hidup bersamanya.

Dengan keadaan itu Arini semakin di sayang oleh sang suami, tiada lagi yang harus ia lakukan, walau ia korban salah diagnosa karena kehamilan, tiadalah ia mau menuntut atau mempertanyakan pada keluarga. Sebab ia sudah begitu tulus dan ikhlas mencintai Sang suami. Baginya orang yang pertama bersamanya dalam sbuah ikatan pernikahan maka itulah suaminya hingga akhir hayat.  Tugasnya adalah melayani kebutuhan sang suami serta menjadi ibu yang baik bagi anak anaknya kelak. Tidaklah ada pertanyaan dan keluhan bagi Arini, toh akhirnya ia juga bahagia bersama sang suami pilihan keluarganya. Perasan cinta yang ia miliki dulu bersama Cak Dar, kini secara total telah ia berikan pada sang suami sejak malam pertama itu di mulai.

Dari kisah nyata Arini di atas kita belajar dari puncak sebuah ilmu yang tertinggi yakni, ikhlas menerima takdir kehidupan, niscaya jika sudah pada tingkatan itu insyaallah hidup ini akan bahagia dan barokah. Amieen

“kisah  ini di sadur dari kisah nyata dari bumi tanah kayong tiada dapat dengan jelas kami sebutkan identitas lengkapnya demi menjaga privasi, namun hikmah dari semua kisah di atas dapat kita jadikan sebagai pembelajaran hidup”. ( Miftahul Huda 19 Januari 2016)

Posted on 13 Februari 2016, in cerkong, lingkungan, melayu punye cerite. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: