Keramahan Warga Negeri Bertuah yang Membuat Betah Di festival karimata 2015


Keramahan Warga Negeri Bertuah yang Membuat Betah, kondisi kampung bali sedahan saat kedatangan tim jurnalis trip

Kunjungan Jurnalis pada Festival Karimata 2015, hari pertama kedatangan mereka di Sukadana, di ajak panitia berkunjung ke Kampung Bali Sedahan Jaya, Jum’at (16/10/2015). Tarian khas Bali menyambut kedantagan Bupati Kayong Utara, Jurnalis dan peserta lainnya, di balai pertemuan (Balai Banjar) Kampung Bali.

Sukadana WK – Di Desa Sedahan Jaya Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara, terdapat sebuah kampung, oleh masyarakat setempat atau KKU umumnya disebut Kampung Bali. Disebut Kampung Bali, karena kawasan ini mayoritas dihuni masyarakat yang berasal dari Bali.

Cerita Ketut Sukawan, Liang Banjar Adat atau Demung Adat warga Bali setempat. Kedatangan warga Bali di Desa Sedahan Jaya pertama kali, yaitu tahun 1965. Dua tahun sebelum itu, terjadi letusan Gunung Agung, Kabupaten Karang Asam, Bali, tempat mereka dulu menetap. Korban letusan gunung tersebut memilih meninggalkan Bali, menuju Kalimantan dan Sumatra, dengan berbekal seadanya.

Rombongan yang berjumlah 38 KK saat itu, awalnya memilih tempat menetap di Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya sekarang. Kerana di Padang Tikar mereka tidak menemukan lokasi bertani yang cocok, akhirnya mereka belayar menuju Sukadana, tepatnya menuju Desa Sedahan Jaya tempat tinggal mereka hingga kini.

“Kami umumnya adalah petani. Maka kami mencari tempat mengungsi yang tersedia lahan pertaniannya, untuk kami bercocok tanam. Di Sedahan Jaya, kami menemukan tempat itu. dengan mandiri, kami berupaya membangun kehidupan kami, tanpa dukungan pemerintah saat itu,” ungkap Ketut Sukawan, usai persembahan tarian khas Bali kepada peserta Jurnalis Trip Festival Karimata 2015, di Balai Banjar Sedahan Jaya.

Keramahan Warga Negeri Bertuah yang Membuat Betah koord jurnalis trip festival karimata

Mereka mendapatkan lahan untuk membangun rumah dan bertani, dengan cara barter barang yang mereka miliki dengan penduduk setempat. Sejak itu pula mereka membangun tempat tinggal. Kemudian, sedikit demi sedikit, dengan cara gotong-royong, mereka membangun pura Giriamerthabuwana pada tahun 1977. Hingga kini, jumlah mereka dulu hanya 38 KK, kini menjadi 125 KK.

“Warga Sedahan sangat menerima dan terbuka dengan warga kami. Demikian juga dalam membangun kebudayaan dan melaksanakan peribadatan, tak ada hambatan apapun. Penduduk asli Sedahan Jaya sangat toleran dengan kami,” papar Ketut.

Dalam mempertahankan kebudayaan Bali, mereka membutuhkan sarana dan pelatihan. Dukungan pemerintah saat ini terhadap mereka tak diragukan. Pelatih tari dari Bali pun didatangkan, demi mempertahankan seni budaya Bali yang ada di KKU.

Tokoh sesepuh asal Sukadana Kayong Utara, Dr. H. Oesman Sapta Oedang (OSO), Wakil Ketua MPR-RI dari DPD asal Kalbar saat ini, memberikan bantuan gamelan kepada sanggar mereka. Ini tentu bentuk dukungan OSO kepada warga Bali. Demikian juga Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, beliau selalu berkunjung ke Kampung Bali dan memberikan bantuan.

Keramahan Warga Negeri Bertuah yang Membuat Betah aktivitas bupati kku saat di wawancara para jurnalis dari berbagai media

Bupati Kayong Utara mendorong penuh warga Bali mempertahankan adat budaya Bali mereka. Bukan hanya Bali, termasuk warga transmigrasi asal Jawa dan adat budaya penduduk setempat, bagi Bupati harus tetap dipertahankan. Karena dari adat budaya pula NKRI ini ada. Sehingga tak heran, pada even-even tertentu, adat budaya dari suku-suku yang ada di Kayong Utara dipentaskan. Ini sebagai bentuk kerukunan antar suku dan agama yang ada di Kayong Utara.

Paparan Ketut, warga Kampung Bali merasa betah tinggal di Sedahan Jaya. Tak ada niat mereka meninggalkan Kayong Utara untuk kembali ke Bali. Mereka merasa betah disini. Kerena masyarakatnya ramah, bersahabat dan saling toleran antar sesama suku dan agama. Paling sesekali kami pulang libur ke Bali.

Berbeda dengan Ketut Sukawan, Kepala Desa Sedahan Jaya, Nazanadira memaparkan sejarah ketadatangan warga Bali dengan versi yang sedikit berbeda. Menurut Nazanadira, mengutip cerita kakeknya yang saat itu sebagai Kepala Kampung Sedahan. Awal kedatangan warga Bali di Sedahan tahun 1965, hanya 3 KK saja.

Sebelum ke Sedahan, 3 KK tersebut menetap di Padang Tikar. Karena di Padang Tikar mereka tidak bisa bertani, mereka menuju ke Sukadana, tepatnya di Sedahan, nama Sedahan Jaya waktu itu.

Benar, ketadangan 3 KK warga Bali waktu itu, mereka tak membawa apa-apa, hanya berbekal seadanya saja. Warga Kampung Sedahan yang dipimpin kakek Nazanadira, mereka bergotong-royong membangun tempat tinggal untuk 3 KK tersebut. Kemudian dibantu segala keperluan sembako dan lain-lain. Baru beberapa tahun kemudian, datanglah sekitar 30 KK lebih rombongan warga dari Bali berikutnya.

Namun demikian, Nazanadira tak terlalu mempersoalkan sejarah sesungguhnya tentang cerita awal kedatangan warga Bali di desa yang dipimpinnya. Bagi Kades yang sangat memasyarakat ini, yang terpenting, bagaimana membangun kerukunan umat beragama dan antar suku di desanya. Membangun perekonomian dan memajukan Sedahan Jaya disegala bidang. Jadi, bukan soal sejarah atau perbedaannya. (Has)

Posted on 22 Oktober 2015, in adat budaya, berita, cerkong, ekonomi, galeri, Humaniora, Kasus, kreativitas and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: