DPC PARFI KKU: Metamorposa Komunitas di KKU


foto bersama dinas pariwisata provinsi dengan aditya gumai dpp parfi pusat dan farida dpd parfi kalbar _ pelatihan dpc parfi kayong utara  2015 di hotel kini pontianak
Semangat Berkarya untuk Edukasi.

Sejarah PARFI
PARFI (Persatuan Artist Film Indonesia), adalah organisasi perfilman yang berdiri sejak tahun 1956. Sebenarnya, keinginan para artis untuk membentuk organisasi profesi ini, sudah ada sejak tahun 1940, saat dibentuknya Sari (Sarikat Artist Indonesia). Mereka yang menjadi anggota Sari, adalah pemain sandiwara, penari, sutradara, penyanyi hingga pelukis.nonton bareng di bioskop twenty one pointianak bersama aditya gumai dpp parfi pusat

Pada tahun 1951, lahir Persafi (Persatuan Artis Film dan Sandiwara Indonesia). Ini adalah wadah lanjutan dari Sari. Meski selanjutnya terjadi pula kemandulan. Kemudian lahirlah Parfi pada tahun 1956.

Sejarah Pra PARFI di KKU
Sebelum terbentuknya DPC PARFI ( Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Artis Film Indonesia ) Kabupaten Kayong Utara. Di KKU, telah berdiri dan bergerak komunitas-komunitas independen kreatif, yang intens bergerak secara massif untuk berkarya. Baik di bidang perfilman, maupun bidang seni lainnya.dpc parfi kku foto bersama aditya gumai saat akan nonoton bareng

Salah satu komunitas tersebut ialah, Simpang Mandiri Production (SMP). Komunitas yang didirikan tahun 2005 ini, tahun 2009 resmi terakta notaris dan berbadan hokum. Hingga kini, SMP tetap eksis dengan karyanya.

Simpang Mandiri Production yang sekarang menjadi PH lokal ini, bukan lagi berawal dari Nol, namun bisa di katakan Minus. Baik dari sisi peralatan, maupun sumber daya manusianya. Yang lakukan pelaku sanggar ini, adalah hal-hal nekat. Tidak ada ilmu tentang Film. Tidak juga dengan ilmu teater sebagai dasar acting. Miskin pula ilmu tekhnis pembuatan film, dari mulai pengambilan gambar, editing dan lain-lain.

Kemiskinan tak membuat seniman lokal ini berputus asa. Sebab, bukan pejuang jika harus menyerah. Mereka punya semangat, mereka punya harapan. Setidaknya, itulah kata kunci untuk meneguhkan hati mereka, untuk tetap berjuang dan berkarya.pelantikan dpc parfi kayong utara  2015 di hotel kini pontianak

Selain itu, Simpang Mandiri Production juga aktif membina para calon sineas muda yang tertarik di bidang perfilman. Pembinaan yang di lakukan SMP, terhitung tahun 2009 hingga saat ini.

Miftahul Huda, Manager Simpang Mandiri Production (SMP) menjelaskan mengenai pembinaan yang dilakukannya, khusus di bidang perfilman. Salah satu yang paling penting menurutnya adalah, dapat memaknai setiap scene demi scene kehidupan mayapada. Melalui film, kita juga bisa memahami dan mendalami karakter. Serta paham akan dimensi, atau sisi lain kehidupan yang tidak biasa kita ketahui.
Dengan seni film juga, kita bebas menyampaikan pesan serta ekspresi. Namun semua itu harus dilandasi keikhlasan untuk berkarya, bukan semata-mata karena ada nilai profit atau keuntungan saja. Jika itu yang menjadi tumpuan, maka usia kreativitas akan tumpul di pundi-pundi rupiah. Papar Huda sapaan akrabnya.

Beberapa film lokal telah di produksi oleh SMP, bekerjasama dengan berbagai elemen. Mulai dari Komunitas, lembaga sekolah hingga lembaga pemerintah dan lembaga swasta. Kebanyakan karya-karya yang dihasilkan, sumber pendanaanya berasal dari dana swadaya.

Seperti tahun 2008, saat produksi film kedua dimulai. Di tengah perjalanan, tim produksi kehabisan dana. Tim sempat kebingungan. Jika tidak dilanjutkan sudah nanggung. Sementara, uang tabunganpun juga sudah habis. Akhirnya tidak ada jalan lain, Huda menjual komputer dengan sahabat dekatnya, agar dapat membiayai produksi film yang sedang mereka garap.pelatihan penyutradaraan di dpd parfi kalbar

Banyak kisah-kisah sedih namun membahagiakan. Misalnya, pengalaman saat sanggar binaan SMP akan tampil dalam perhelatan Ulang Tahun Kayong Utara tahun 2010. Secara sepihak, rencana tampil dibatalkan begitu saja oleh oknum panitia. Lalu kemudian, mereka sempat audensi ke DPRD, untuk meminta mediasi dengan panitia.

Cerita di atas hanyalah sepenggal kisah perjalanan hidup seniman muda KKU. Masih banyak kisah-kisah sedih lain, yang akhirnya menjadi sebuah kenangan manis dalam sebuah bingkai perjuangan.suasana pelantikan di hotel kini pontianak

PARFI, Wadah Mencairnya Komunitas Lokal
Tahun 2015. Ketika PARFI datang ke bumi Kayong Utara, beberapa Komunitas yang haus akan kreativitas, dengan gembira menyambutnya. Semua mencair menjadi satu. Mulai sanggar seni budaya lokal, sanggar tari, komunitas photography, rumah produksi lokal, sanggar tata rias pengantin dan lain-lain.

Seperti Sanggar Simpang Betuah (SSB), adalah sanggar yang usianya sudah 5 tahun bergelut di bidang seni budaya lokal. Sanggar yang dipimpin Raden Jamhari ini telah banyak menghasilkan karya seni seperti tari, lagu-lagu Melayu hasil karyanya sendiri dan lain-lain.

Sebagai pimpinan SSB, Raden Jamhari menyambut bahagia dengan adanya PARFI. Baginya, PARFI adalah wadah pemersatu bagi insane-insan seni di Kayong Utara. Di Parfi, Jamhari menduduki unsur penting. Yaitu, sebagai wakil ketua DPC PARFI Kabupaten Kayong Utara.

H. Udin, salah seorang pemerhati Budaya di Kayong Utara, sekaligus bendahara PARFI mengungkapkan rasa kegembiraanya. Menurutnya, kedatangan PARFI di KKU, merupakan momen yang di tunggu-tunggu. Dia mengharapkan, agar semua komunitas yang ada di dalam Tubuh PARFI, dapat saling mengisi dan berkarya. Demi memajukan Kayong Utara dan dunia perfilman.

Bermula dari surat Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Film Indonesia (DPD PARFI) provinsi Kalimantan Barat. Ditujukan ke Dinas Pariwisata Kabupaten Kayong Utara, yang di terima oleh Amri, Kepala Bidang Budaya Dan Pariwisata. Isi surat tersebut mengamanatkan dinas, agar membentuk kepengurusan DPC PARFI Kabupaten Kayong Utara.

Dalam waktu singkat, di ruangan Mas Yuliandi, Kepala Disparpora Kayong Utara. Tepat pukul 14.20 WIB, tanggal 14 Pebruari, terbentuklah kepengurusan inti DPC PARFI Kabupaten Kayong Utara.

Bertindak selaku pembina, Bupati dan Ketua DPRD Kayong Utara. Dengan penasehat Kepala Disparpora dan Kepala Kantor Kesbangpol Kabupaten Kayong Utara. Sedangkan pengurus PARFI yaitu, Ketua Umum Kusharianto, Wakil Ketua Raden Jamhari, Sekretaris Miftahul Huda dan Bendahara H. Udin.

Berapa hari kemudian, di rumah H. Udin Sungai Mengkuang–Pangkalan Buton, pengurus PARFI terpilih melengkapi porsonil biro/seksi yang di perlukan, sesuai dengan AD/ART PARFI.

Sebagai ketua DPC PARFI Kayong Utara terpilih, masa bakti 2015 – 2020, sosok Kusharianto sudah tak asing lagi. Baik di mata anak-anak muda Ketapang, maupun Kayong Utara. Dia adalah pelatih seni tari dan spesialis seni peran. Di Kota Pontianak, dia juga aktif di berbagai sanggar seni. Bahkan dalam pertukaran pelajar, dia pernah mewakili Indonesia ke Thailand. Di tangan dinginnya ,PARFI Kabupaten Kayong Utara di harapkan akan bersinar dengan berbagai karya-karyanya.

Seberkas Cahaya untuk PARFI KKU
Setelah mendapat restu dari Pembina dan penasehat, serta dukungan dari berbagai instansi dan lembaga partner support. Pada tanggal 1 April 2015, romobongan DPC PARFI Kayong Utara akhirnya menyusuri sungai menuju ke Pontianak. Menggunakan kapal kelotok. Demi menghadiri acara workshop penyutradaraan, sekaligus pelantikan seluruh DPC PARFI se- Kalimantan Barat, oleh DPP PARFI Pusat.

Pada tanggal 2 April 2015, workshop penyutradaraan dimulai. Kantor Dinas Pariwisata dan ekonomi kreatif provinsi tempat digelarnya. Hadir sebagai pemateri, Sekretaris Umum PARFI pusat, Aditya Gumai.

Aditya Gumai ialah seorang sutradara film layar lebar. Pendiri sanggar Ananda. Sanggar yang telah menelurkan artis-artis terkenal seperti Olga dan lain lain. Hadir juga sebagai pemateri, Adenian Adrian. Seorang penulis film layar lebar, yang juga sebagai artis terkenal.
Peserta yang hadir adalah anggota PARFI dari perwakilan semua DPC, yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Mereka begitu antusias mendapat kesempatan baik, sebagai peserta workshop. Apalagi dengan pemateri yang berkompeten.

Di akhir workshop, semua peserta di ajak nonton bareng ke bioskop, pemutaran film perdana “Ada Syurga di rumahmu”. Sebuah film garapan sanggar Ananda, rumah produksi milik Adytia Gumai.

Sosok yang gemar membuat film fiksi layar lebar beraliran religius ini, memberikan pesan kepada para DPC. Agar kelak ketika berkarya atau membuat film, sebisa mungkin harus memasukkan unsur unsur dakwah, serta menghindari hal-hal negatif. “Jangan sampai kita membuat dosa berlipat-lipat lewat film,” papar Aditya.

Keesokan harinya selepas shalat Jum`at, pelantikan DPC PARFI se- Kalbar dihelat. Hadir dalam pelantikan tersebut ketua DPC PARFI Pusat, Gatot Braja Musti. Dinas/instansi terkait, serta para undangan dari berabgai daerah. Dari Kabupaten Kayong Utara, turut hadir Ketua DPRD dan Kepala Disparpora. Kehadiran mereka yang sungguh memberikan dorongan moral yang sangat berarti bagi PARFI KKUkedepan.

DPD PARFI provinsi Kalimantan Barat yang di ketuai Farida, berpesan kepada semua DPC. Diharpkannya, agar DPC dapat menyumbangkan karyanya demi kemajuan bangsa. Selain itu, dengan dilantiknya DPC-DPC yang ada, akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi kemajuan dunia perfilman. Tentu dengan mengangkat kearifan-kearifan local, yang ada di daerah masing masing.

DPP PARFI Pusat, Gatot Brajamusti yang familiar di panggil AA juga memberikan apresiasi terhadap PARFI KALBAR yang telah melaksanakan kegiatan workshop dan pelantikan. Menurutnya, melalui dunia perfilman, PARFI telah menyumbangkan kemajuan untuk negeri ini. Dengan satir serta pesan-pesan edukasi kepada pemirsa, akan menambah khazanah baru dalam sebuah peradaban.

Acara sakral di mulai, dengan di iringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang membangkitkan rasa nasinalisme. Akhirnya Sumpah pun di ucapkan oleh semua DPC PARFI yang di lantik. Setelah acara usai, tampil artis senior, Reza, mengisi acara hiburan. Setelah itu acara di tutup dengan lagu nasional “Padamu Negeri”.

Pukul 17.00 WIB. Di tengah rintik-rintik hujan, akhirnya kami pulang menuju Kayong Utara. Berangkat melalui pelabuhan Rasau Jaya, numpang kelotok jadwal berangkat pukul 19.00.

Di tengah bisingnya deru mesin kapal kelotok, kami hanyut dengan pikiran masing- masing. Sehingga tanpa sadar, satu persatu telah terlelap. Tiba-tiba saja kami dan seluruh penumpang terbangun, saat kapal yang kami tumpangi membentur benda keras. Ternyata, kapal menabrak bibir daratan, karena nahkoda yang mengemudi ngantuk dan terlelap.

Begitulah perjalanan DPC PARFI Kayong Utara, dari tanah bertuah di pelosok negeri. Walau demikian, semangat mereka berlapis baja. Tak peduli jauh, tak peduli resiko. Begitulah kisah pejuang kreatifitas, tak boleh menyerah, tak boleh mundur, walau setapak pun. Sebab menusia mati hanya meninggalkan nama. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, meninggalkan nama yang baik atau sebaliknya?. (WK TEAM)

Posted on 7 Mei 2015, in kreativitas and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: