Anak Ngelem, Kemana Kita? (2)


bahaya ngelem bagi manusia, warta kayong kalbar

Oleh: Hasanan

Akhir-akhir ini, kita (Indonesia) dikejutkan dengan maraknya peredaran narkoba. Bahkan Indonesia termasuk sarang dan sasaran empuk Sindikat Norkoba Dunia. Reting Indonesia termasuk papan atas dalam perdagangan dan pemakai narkoba. Kosumennya bukan hanya kalangan umum, termasuk pelajar target potensial. Sehingga tak jarang, kabar narkoba masuk kampus dan sekolah, menjadi nayanyian pilu memekak telingga dan menyayat hati kita. Tidak berlebihan, jika Presiden mengatakan, bahwa Indonesia Darurat Narkoba.

Bagi kalangan pelajar yang tak memiliki biaya untuk memperoleh narkoba, lem jadi solusinya. Karena harganya yang relatif murah. Sehingga, untuk bisa menjadi manusia pengkhayal kelas tinggi, lem adalah alternative yang tepat menurut mereka. Dan kasus ini hampir menghingapi kalangan muda/pelajar Indonesia. Tak terkecuali di KKU.

Untuk kasus ngelem di kalangan pelajar, tercatat, sekitar tahun 2010 menjadi tahun pertama ngelem itu dikenal oleh kalangan pelajar Kayong Utara. Saat itu, sekitar 5 orang pelajar kelas 4 – 6 SD, tertangkap tangan sedang melakukan pesta ngelem. Pembawanya adalah pelajar pindahan dari kabupaten lain di Kalbar. Hingga kini, tradisi itu bertahan, dan pelakunya berkembang di KKU. Hanya saja, tidak ada data valid yang bisa kita jadikan referensinya.

Baru-baru ini pun, dada kita dibuat sesak oleh prilaku generasi kita. Kita hanya bisa mengurut dada saja. Pasalnya, kebanyakan pelakunya adalah anak yang masih usia ingusan. Yaitu, anak usia kelas 3 dan 4 SD. Termasuk pelajar SMP dan SMA biang keroknya.

Saat diintrogasi polisi, pelajar kelas 4 SD yang tertangkap ngelem mengakui, bahwa diusianya yang masih belia itu, dia sudah melakukan ngelem lebih dari 20 kali bersama teman-temannya. Baik bersama teman sebaya, maupun di atas tingkatannya – pelajar SMP atau SMA.

Pertanyaannya, kemana kita, sehingga anak bisa leluasa ngelem? Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli lem? Dan apa manfaat yang bisa kita (anak) dapat dari ngelem tersebut? Yang ada bukan manfaatnya, tapi mudharatnya sudah jelas.

Yang menyedihkan. Ada diantara orang tua yang tidak peduli dengan apa yang dilakukan anak mereka bersama temannya. Bukan di luar rumah, di dalam rumahnya sendiri, anak-anak tersebut leluasa ngelem. Orang tua hanya sibuk dengan urusannya sendiri.

Ada yang pak kamar anaknya penuh dengan susunan kaleng lem fox, orang tuanya adem-ayem saja. Tidak ada kecurigaan sama sekali. Kalaulah untuk ngelem kertas, kayu, sandal dan lainnya, tentu tidak mungkin sebanyak itu lemnya. Dan tentu ada bukti yang bisa kita lihat, jika lem tersebut digunakan anaknya untuk keperluan bahan kerjanya. Tapi ini tidak sama sekali.

Mungkin orang tua seperti ini beranggapan, bahwa urusan pendidikan adalah tanggung jawab guru. Urusan pengawasan/keamanan anak tanggung jawab polisi, dan seterusnya. Jika demikian pola pikir orang tua, ini pekerjaan berat yang harus dikerjakan siapapun yang merasa berkepentingan.

Lalu, apa saja bahaya lem yang harus kita ketahui, baik anak-anak, maupun kita sebagai orang tua? Sebelum itu kita jawab, ada baiknya kita pahimi terlebih dahulu, apa itu lem atau ngelem. Sehingga ada gambaran yang bisa petik dan simpulkan.

Apa itu ngelem? Sepintas kita pikir, ngelem adalah memakai lem untuk merekatkan sesuatu atau barang. Tapi yang kita maksud disini bukan itu. Secara sederhana, ngelem bisa kita artikan, yaitu menghirup uap lem hingga mabuk. Efeknya mirip dengan jenis narkoba yang lainnya. Misalnya menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang dan rasa tenang sesaat meski kadang efeknya bisa bertahan hingga 5 jam.

Dikutip dari http://www.hellodocter.co.id, http://www.kaskus.co.id dan http://www.dakwatuna.com. Seperti narkoba pada umumnya, efek ngelem akan menyerang susunan saraf di otak sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan otak. Sedangkan dalam jangka pendek, risikonya bisa menyebabkan kematian mendadak. Meski hanya dihirup sekali, efeknya juga bisa fatal, jika telah melewati ambang batas yang bisa ditoleransi oleh tubuh. Uap lem dan thinner bisa membunuh dalam seketika.

Ketika terhirup, uap pelarut (solven) lem ini hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk mencapai kadar toksik atau beracun. Sistem organ yang diserang adalah otak dan saraf, khususnya yang berhubungan dengan jantung dan pernapasan.

Efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup uap solven (lem), yaitu denyut jantung meningkat, mual/muntah, halusinasi/menghayal dan mati rasa atau hilang kesadaran. Kemudian susah bicara atau cadel dan kehilangan koordinasi gerak tubuh.

Sedangkan efek jangka panjang di jaringan tubuh, jika terus-menerus terhirup solven (lem), yaitu kerusakan otak bervariasi, mulai dari cepat pikun, parkinson dan kesulitan mempelajari sesuatu. Kemudian otot melemah, depresi/stress/gila, sakit kepala dan mimisan. Serta kerusakan saraf, yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara.

Faktor-faktor yang mendasari anak jalanan atau anak-anak umumnya melakukan kebiasaan ngelem ini, antara lain:
1. Ngelem menjadi sarana pelarian terhadap adanya ganguan karakter pada diri anak, seperti marah, suntuk, kesal dan lain sebagainya;
2. Ngelem dapat membuktikan seorang anak diterima dalam pergaulan ataupun komunitas dimana seorang anak jalanan yang tidak ngelem akan dijuluki pengecut atau tidak gaul, dan juga adanya tekanan sosialkultural seperti bangga bila ngelem;
3. Secara fisik, ngelem memungkinkan untuk menghilangkan rasa lapar, kelelahan dan juga rasa sakit terhadap penyakit yang dideritanya. Sedangkan secara psikis, ngelem dapat menghilangkan rasa cemas, depresi dan stress menghadapi faktor sosial;
4. Ngelem juga merupakan perwujudan dari sifat-sifat penyimpangan dari norma-norma sosial yang ada;
5. Kurangnya perhatian, bimbingan serta arahan dari orang tua, lingkungan dan lembaga-lembaga yang berkompeten terhadap anak yang ngelem;
6. Lemahnya pendidikan karakter dan sistem yang berlaku, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat, serta kurangnya perhatian serius pihak-pihak yang berkompeten.

Sepertinya kita tak cukup hanya mengurut dada saja. Tapi harus ada langkah-langkah konkrit yang bisa kita lakukan, untuk mengurangi anak-anak kita dari bahaya ngelem.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa solusi yang bisa kita lakukan. Pertama: Perbesar Peran Orang Tua. Madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anak adalah lingkungan keluarga. Sebagai madrasah informal. peran orang tua sangat besar pengaruhnya terdap perkembagan dan pembentukan karakter anak. Sedini mungkin, harus ada penanaman nilai-nilai. Pendidikan aqidah akhlak kepada anak, mutlak dijalankan. Agar kelak menjadi filter buat anak ketika ia dewasa.

Ketika anak menjelang remaja/dewasa tugas dan tanggung jawab orang tua tentu bertambah berat. Orang tua harus memahami psikologi anak. Harus menjadi teman yang baik buat anak-anaknya. Harus selalu memantau dan mengetahui perkebangan anaknya. Dengan catatan tidak mengekang dia untuk berkarya, atau berbuat baik untuk orang lain/lingkungannya. Serta tidak telalu membebaskan anak, apa lagi tanpa pengawalan/bimbingan orang tua.

Kedua: Perbesar Peran Lembaga Pendidikan. Lingkungan pendidikan memilki peranan yang sangat stratgis, baik formal maupun nonformal. Lembaga pendidikan harus peka terhadap perkebangan dan kondisi psikologis anak. Bimbingan koseling dan pendidikan karakter merupakan keniscayaan yang mesti dilakukan setiap sekolah.

Satuan Pendidikan yang hanya mengejar nilai akademik semata, maka sekolah tersebut hanya berhasil mencetak anak-anak pintar. Tetapi gagal membentuk anak yang berkarakter atau berakhlak.

Perlu keterpaduan antara orang tua, sekolah dan masyarakat dalam membimbing dan membina anak, sehingga tujuan pendidikan insya Allah bisa terwujud dengan baik. Bukan hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi yang paling utama, ialah membentuk karakter anak bangsa yang tangguh, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Kepedulian guru terhadap lingkungan hari ini, merupakan kemajuan yang patut kita apresiasi.

Ketika guru memberikan sanksi yang wajar terhadap anak didiknya yang melakukan kesalahan, sebagai orang tua yang bijak, jangan memvonis guru/sekolah tersebut salah dulu. Selidiki kebenarannya, sehingga kita tidak main asal menyalahkan. Guru tidak akan memberikan sanksi kepada anak didiknya, tanpa kesalahan yang jelas.

Dan ingat, sebagai orang tua, kita telah menyerahkan anak kita untuk diajar, dididik dan dibimbing guru di sekolah. Karena itu, kita juga harus siap menerima konsekuensi dan aturan sekolah. Kita bisa bayangkan, rumah tangga kita saja jika tanpa aturan, maka akan kacau bukan? Apa lagi sekokah, lingkungan masyarakat atau negara.

Perlu juga kita pahami, bahwa waktu anak kita di sekolah terbatas. Tidak sampai 1 hari. Namun dilingkungan keluarga dan masyarakatlah waktu itu tersedia lebih banyak. Artinya, peran orang tua dan masyarakat sangat menentuk kepribadian/karakter anak.

Ketiga: Peran Lingkungan Sosial. Pengaruh lingkungan sosial sangat besar efek positif atau negatifnya terhadap anak. Hal tersebut tentu tergantung dari kondisi lingkungan dimana anak itu lahir, tumbuh dan besar. Jika lingkungan sosialnya baik, maka akan membentuk kepribadian yang baik, dan sebaliknya.
Jika pemilik toko penjual lem (masa bodoh/apatis). Atau setiap orang/anggota masyaraka tidak peduli ketika melihat anak dibawah umur melakukan tidakan amoral (ngelem, mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba lainnya) karena merasa bukan anaknya. Atau sebagian orang tidak menerima, ketika orang lain memberikan bimbingan, masukan dan teguran terhadap anak-anaknya. Maka ini pertanda kehancuran bagi kita.

Dan ingat! Jika kita membiarkan anak orang lain melakukan hal-hal yang tak lazim pada usianya. Maka tunggulah saatnya, bahwa anak tersebut akan menyeret anak kita, cucu kita, famili kita. Serta serta orang-orang yang kita cintai masuk kedalam lingkung pergaulannya.

Kita memerlukan orang lain untuk dapat memantau, mengajar, membimbing dan mendidik anak kita. Karena, kita mungkin tidak bisa memantau secara ful, ketika anak kita di luar rumah. Jangan pernah mengambil kesimpulan negatif, saat orang lain menyampaikan informasi tentang kelakuan buruk anak kita diluar rumah. Sebagai orang tua yang bijak, kita harus menyelidiki informasi tersebut, sebelum membuat kesimpulan bahwa anak kita benar/salah.

Apapun status sosial kita, jangan malu mengatakan anak kita salah, jika ia benar-benar salah. Sebab pembelaan kita terhadap anak kita yang salah, maka akan membuat/membentuk karakternya menjadi manja. Dan akan ada cenderung anak kita melakukan kembali kesalahan yang sama.

Tugas ulama dalam pembinaan akiqah dan akhlaq (moral) anak penting dan strategis. Harus ada formulasi, bagaimana cara mengatasi anak/remaja sekarang, yang memiliki trens baru “Ngelem”. Setidaknya, pesan ini bisa disampaikan ke orang tua melalui khutbah Jum’at misalnya. Agar orang tua lebih waspada dan bisa mengantisipasi.

Kita perlu memikirkan bagaimana caranya agar generasi/anak-anak kita, lebih mencintai ilmu dan berakhlak mulia. Tentu dengan tidak memaksakan konsep/metode pemebelajaran yang kita terima dulu diterapkan sama ke mereka hari ini, yang membuat mereka bosan dan menjauhi kita.

Keempat: Peran Pemerintah atau Pihak Berwenang. Perlu regulasi yang tepat untuk mengatasi anak ngelem, agar tidak berkembang dan menganggu kesehatan anak-anak kita di masa mendatang.

Setidaknya, adanya imbauan dari kepolisian misalnya, pada toko atau mini market. Imbauan agar pedagang tidak menlayani atau menjual lem kepada anak-anak di bawah umur atau pelajar. Kecuali orang tua yang bersangkutan yang belanja.

Kemudian, harus ada Perataran Daerah yang mengatur tentang perlindungan anak atau kenakalan remaja. Ini adalah bentuk keseriusan dan kepedulian kita kepada genarasi penerus bangsa. Calon pemimpin masa depan kita.

Saat ini, di usia mereka yang masih belia, mereka masih menggunakan lem. Tidak menutup kemungkinan ketika mereka besar nanti, akan menjadi pemakai, pengedar atau bandar narkoba. Pencegahan sedini mungkin adalah keniscayaan yang harus dilakukan. Baik orang tua, masyarakat maupun pemerintah.

Jika peran antara orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan atau pemerintah sinegis, insya Allah, tujuan pendidikan dan pembinaan akhlak terhadap generasi penurus, akan terwujud dengan baik. Karena masing-masing pihak menyadari sepenuhnya, bahwa tugas mengajar, mendidik dan membimbing anak adalah tanggung jawab bersama.

Posted on 7 Mei 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: