Seribu Misteri Kehidupan


19715-penyesalan-besar-saat-aku-mencintai-suami-sahabatku-05393 Seribu Misteri Kehidupan 0

Oleh: Kamasyakila

 Namaku Khairunissa. Akrab dipanggil Nissa. Aku adalah seorang gadis manis yang pandai, pemberani, dan agak keras kepala. Aku terlahir dari sebuah keluarga terpandang. Ayahku sangat dihormati oleh warga di desaku. Aku sangat disayang kedua orangtuaku, setiap keinginanku selalu dituruti ayah dan ibuku, meski itu bertentangan dengan keinginan keduanya. Mungkin faktor ini terjadi karena Aku adalah anak satu-satunya.

“Tidak Ayah. Aku pasti bisa jaga diri,” pintaku setengah merayu.

“Nak, kamu ini perempuan. Kamu adalah anak satu-satu Ayah. Ayah tidak mau kamu ke sana bukan karena ayah tidak mengizinkanmu menuntut ilmu, tetapi ayah memikirkan keselamatanmu,” tegas Ayahku.

“Ayah.. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa jaga diri. Lagi pula di sana tidak sendiri. Aku bersama teman-temanku,” sanggahku membuat Ayahku tampak tak kuasa lagi menentang keinginanku.

Dengan sangat terpaksa akhirnya ayah mengizinkanku. Hanya saja dengan satu syarat, ketika Aku di sana harus meneleponnya setiap hari. Dan Aku menyanggupinya, karena menurutku persyaratannya sama sekali tidak sulit.

Yogyakarta… Terkenal dengan kota pendidikan menjadi pilihanku. Sejak SMP, Aku telah bermimpi ingin ke sana. Dan hari ini Aku telah menginjakkan kakiku ke kota istimewa ini. Setelah melewati perjalanan sangat melelahkan dari Kalimantan-Yogyakarta, akhirnya Aku tiba di sebuah kos-kosan yang terbilang cukup mewah. Ku rebahkan tubuhku di sebuah kasur empuk hingga akhirnya terlelap menjelajah alam mimpi.kolom-penyesalan-seorang-ibu-1181_l Seribu Misteri Kehidupan

Nada dering berasal dari handphone (HP)-ku mampu membangunkanku. Dengan pemandangan yang masih terlihat buram, terpaksa layani panggilan HP-ku. Ternyata dari Ibu.

“Halo nak. Apakah kamu sudah berangkat kuliah?” Terdengar suara lirih di seberang sana.

“Eee belum bu, Nissa baru bangun tidur,” jawabku.

“Emang kamu masuk jam berapa nak?”

“Jam delapan bu.”

“Lho sekarang kan sudah jam 07.00 lewat nak?”

Ku tatap jam yang melingkar di tanganku. “Astaga! Iya bu, Nissa terlambat! Nanti Nissa telepon lagi ya bu.” Tanpa mendengar jawaban Ibuku, langsung ku putuskan sambungan teleponnya. Tergopoh-gopoh bergegas ke kamar mandi.

Ini hari pertamaku masuk kuliah. Tergesa-gesa ku turuni anak tangga kecil sebagai penghubung jalan menuju keluar di kos-kosanku. Tak kutemui satu orangpun di sana. Mungkin mereka telah beraktivitas, desahku.

Setelah 15 menit perjalanan, sampai di Universitas Negeri Yogyakarta. Kampus ini impianku sejak masih duduk di bangku SMP. Aku sangat ingin menjadi seorang guru. Selesai kuliah di sini, nanti akan bisa menjadi guru berberkompetensi tinggi dan dan super profesional. Wow.

Itulah secercah harapanku.

Tak ada kendala sedikit pun di awal-awal kuliah. Selalu pulang tepat waktu. Tak pernah sekalipun melanggar peraturan, baik itu di kampus maupun di kos-kosan. Karena Aku termasuk satu di antara daftar mahasiswa teladan.

Aku sempat bangga dengan gelar yang kuterima ini. Kedua orangtuaku juga tak begitu khawatir lagi, karena setiap hari Aku selalu memberi kabar. Meski hanya sebentar.

Setelah satu tahun menuntut ilmu di kota pendidikan ini, semua prestasi yang ku dapat ternyata mampu membuatku terkenal di kampus. Mengubahku menjadi sedikit sombong. Berpikir telah tahu segalanya. Jadi Aku tak butuh bantuan sedikitpun dari orang lain. Yang ada nanti, merekalah yang akan mengejar-ngejarku.

Tetapi setelah sekian lama ternyata tak ada satu orangpun yang membutuhkan pertolonganku. Awalnya Aku cuek saja dengan keadaan ini, mungkin mereka masih malu-malu kepadaku. Lama-kelamaan Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku.

Tanpa ada teman yang mau mendengarkan curahan hati (Curhat)-ku. Atau sekadar bertukar pendapat. Atau sekadar meminta bantuanku.

Akhirnya keadaan ini ternyata mampu membuatku sedih. Aku merasakan kesepian yang teramat sangat. Aku memutuskan mencari jalan keluar mencoba mencari penenang, hingga akhirnya membuatku terjebak ke dalam masalah besar.

Di sinilah awal cerita itu dimulai……

Masuk tahun kedua tepatnya semester ketiga, awal mula melengkapi petaka itu. Tak sengaja Aku berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Lisa.

Lisa adalah mahasiswa baru yang merantau melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta. Lisa juga berasal dari Kalimantan sama sepertiku. Mungkin karena sama-sama seorang perantau, jadilah kami akrab. Sebulan pertama mengenalnya, belum berani mengungkapkan kepribadianku yang sebenarnya. Aku terlalu takut kehilangan teman sebaik Lisa.

Aku selalu bersama Lisa, menelpon kedua orangtuaku di kampung. Hingga suatu hari—benar seperti kata pepatah—sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya kan terjatuh jua. Aku tak sengaja menjatuhkan obat dari tasku ketika aku bersama Lisa. Spontan Lisa mengambil obat itu dan mengajukan berbagai macam pertanyaan kepadaku.

Awalnya ingin membohongi Lisa. Di luar dugaanku, Lisa terlalu pintar untuk dibohongi. Setelah Lisa mengetahui Aku pecandu, mungkin Lisa akan berubah kepadaku. Ternyata dugaanku salah, Lisa malah bersikap sebaliknya, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hingga suatu hari ketika Lisa memutuskan menginap di kos-kosan tempatku tinggal dengan sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya, cukup membuatku terkejut.

“Niss, apa kamu masih punya persediaan?” tanyanya datar.

“Persediaan apa Lis?”

“Persediaan obat yang biasa kamu pakai.”

“Buat apa kamu menanyakan obat-obat itu kepadaku Lis?” Heranku.

“Aku… Aku juga sama sepertimu Niss. Aku juga seorang pecandu!” Jawabnya sambil menangis dengan suara yang sedikit terbata-bata.

Aku sempat tak percaya mendengar jawaban dari seorang Lisa yang selama ini kuanggap gadis baik-baik, selalu ceria, rupanya sama nestapanya denganku. Aku merasa terlalu munafik jika harus menolak permintaan Lisa kali ini. Sama-sama pecandu.

Sedihnya… Mengapa teman dekatku tak jauh berbeda denganku. Yaitu, sama-sama seorang pecandu Narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang). Ketika mengenalnya, Aku menganggap Lisa itu Malaikat yang dikirimkan Tuhan kepadaku. Sebab, selama ada dia, kesendirianku selama ini sirna.

Aku tak perlu menutup-nutupi kebiasaan burukku. Tak perlu lagi pergi diam-diam ke kamar mandi hanya untuk mengatasi rasa sakau-ku.

Keadaan ini awalnya mampu membuatku terasa hidup kembali. Hari-hariku selalu dihiasi canda tawa bersama. Tak ada satu kegiatanpun terlewatkan. Semua selalu dilewati bersama Lisa. Namun keadaan ini perlahan-lahan membuatku semakin hancur. Awalnya sangat berprestasi di kampus, kini bobrok.

Awalnya tak kecewa dengan keadaan ini, toh ada Lisa yang selalu menemaniku, dan mau mendengarkan segala keluh kesahku. Kebiasaan rutin menelpon kedua orangtuaku, kini tidak lagi.

Aku menelepon kedua orangtuaku hanya ketika membutuhkan uang. Itupun dengan seribu alas an untuk keperluan kuliah. Karena orangtuaku terlalu sayang kepadaku, mereka tak sedikitpun menyimpan rasa curiga terhadapku.

Suatu ketika, baru saja dapat kiriman uang dari Ayahku. Aku sengaja bolos kuliah. Aku dan Lisa seperti biasa, diam-diam membeli obat-obatan itu lagi. Naasnya, kami dijambret untuk pertama kalinya. Uang ludes!

Karena sudah sakau, Aku dan Lisa terpaksa berhutang ke Bandar Narkoba langgananku. Pertama kali berhutang kami masih bisa diberi dan Pak Bandar masih percaya kepada kami. Hari-hari berikutnya, kiriman uang dari kampung tak kunjung tiba, terpaksa menjual barang-barang berharga seperti perhiasan, kecuali handphone.

Kali ini aku sudah sangat jarang pergi ke kampus. Aku dan Lisa banyak mengurung diri di kamar. Ketika rasa kecanduan datang, Aku hanya tinggal menelepon Pak Bandar untuk mengantarkan obat-obatan itu kekamarku. Berulang-ulang kali.

Sudahlah harta ludes, Pak Bandar tak lagi mau memberikan kami obat. Ternyata hutang kami selama ini sudah terlalu banyak dan tak mungkin bisa membayarnya. “Niss, apa kamu masih punya persediaan?”

“Persediaan apa Lis?”

“Persediaan obatlah.”

“Aku tak punya lagi. Sekarang tak lagi punya uang walau sepeserpun,” lirihku.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari uang sendiri. Aku punya caranya dalam sekejap.”

“Caranya?” tanyaku penasaran.

Setelah membisikkan caranya, Aku sempat agak merasa ragu. Namun keadaan telah membuatku terpaksa melakukannya. Kalau tidak begini, Aku dan Lisa akan mati perlahan-lahan.

Akhirnya, Aku dan Lisa memutuskan menjalankan bisnis illegal, yaitu menjual kosmetik dengan harga murah meriah. Tetapi hasilnya tidak mampu mencukupi kebutuhan kami. Harga obat itu terlalu mahal dan tak sebanding dengan harga kosmetik yang kami jual.

Tiba-tiba HP-ku berdering. Terdengar Pak Bandar marah-marah. Aku tak mampu berbicara apa-apa hingga akhirnya dia memberikan kami sebuah pekerjaan. Sempat ku tolak. Tetapi Lisa menyanggupi. Tak tega melihatnya bekerja sendiri, ku putuskan mengikuti jejaknya.

Perlahan ku sisir rapi rambut panjangku. Polesan bedak di pipi dan sedikit lipstick di bibir, membuatku tampak cantik. Rok mini dan baju ketat melengkapi penampilanku malam ini. Meski terlihat sedikit agak berani memang inilah keputusanku.

Awalnya Aku merasa tidak PD (percaya diri) tetapi Lisa menguatkanku. Berjalan pelan-pelan tanpa memakai highheel kami keluar perlahan menuruni anak tangga. Karena di kos-kosan dilarang keras keluar malam hari, untuk pertama kalinya kami melanggar peraturan itu.

Setelah berhasil keluar, langsung berlari-lari kecil menjauhi kos-kosan. Setelah agak jauh barulah kami memakai highheel.

Malam itu memang terasa berbeda, ada perasaan janggal merasuki jiwaku. Aku telah berbuat di luar batas. Malam itu ku lepaskan kesucianku bukan dengan lelaki yang halal untukku, tetapi kepada si hidung belang, mata keranjang, buaya daratan.

Aku bukan hanya terjerumus ke doa ngobat namun juga perzinahan. Menjadi manusia paling hina. Selalu membohongi orangtuaku.

Aku menjadi wanita penghibur. Sudah tiga tahun menekuni pekerjaanku. Sudah tiga tahun pula memilih memutuskan tali komunikasi dengan orangtuaku.

Hingga detik ini tak pernah lagi mendengar kabar dari kedua orangtuaku, begitupun sebaliknya. Aku lakukan semua ini karena Aku tak mau lagi menjadi beban untuk mereka, sudah terlalu banyak dosa ku perbuat.

Hingga suatu hari aku kembali dihadapkan cobaan terbesar. Ingin rasanya kuakhiri hidup ini detik ini juga.

Seperti kapal yang tenggelam di tengah laut, terombang-ambing gelombang, dan sampai di tepian dihempaskan ke bebatuan. Seperti itulah kira-kira perasaanku.

Cobaan itu, Aku telah berbadan dua, namun Pak Bandar yang selama ini menjadi langgananku ditangkap. Sahabatku terbaik di dunia ini, Lisa pergi meninggalkanku. Setelah dia tahu Aku hamil dan tak mungkin dapat bekerja lagi seperti sebelumnya.

Pikiranku kacau, ada perasaan menyesal yang amat sangat dalam. Aku coba mencari siapa ayah bayi yang ku kandung ini tapi tak seorangpun mau mengakuinya. Aku terasa hilang akal, ku coba menelepon kedua orangtuaku di kampung, berharap bisa membantu menyelesaikan masalah ini, tetapi tak bisa sekalipun terhubung.

Pihak kampus mengeluarkanku setelah mereka tahu Aku seorang pecandu narkoba dan seorang wanita penghibur. Polisi menanggkapku di kos-kosan karena pemakai barang haram itu. Aku Saat ini Aku hanya tinggal pasrah dengan kehidupanku. Tak ada lagi harapan untuk memperbaiki diri.

Bagiku keadaan di penjara, jauh lebih kejam dibandingkan dunia luar. Aku sering disiksa sesama tahanan yang berada satu sel denganku. Akibatnya bayi yang ku kandung mengalami keguguran. Aku hanya bisa menangis meratapi nasibku sekarang, awal semua ini memang karena kesalahanku.

Kini Aku menghabiskan sisa-sisa hidupku di penjara, sambil menyesali semua perbuatan yang selama ini.

 

S E L E S A I

 

Posted on 11 April 2015, in cerkong and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: