Upacara Melasti Sambut Tahun Baru Saka 1937


 

 

 

serba-serbi-Upacara-Melasti-Sambut-Tahun-Baru-Saka-1937-okserba-serbi-Upacara-Melasti-Sambut-Tahun-Baru-Saka-1937-ok

//FOTO: Warga Hindu Kayong Utara melaksanakan upacara Melasti menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 di tahun 2015 Masehi di Pantai Pulau Datuk Sukadana, Minggu (15/3) pagi. MAHMUDI/WK

 *Penyucian Diri Warga Hindu Kayong Utara

SUKADANA—Dihiasai suasana mendung, ratusan warga Hindu Kayong Utara hingga Ketapang, melaksanakan upacara ritual Melasti di Pantai Pulau Datuk Sukadana, Minggu (15/3) pagi. Sebagai ajang penyucian jiwa dan raga sambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 pada Sabtu (21/3).

Mantra-mantra doa upacara Melasti yang dipanjatkan ke Sang Hyang Widhi Washa dipimpin imam I Ketut Reget. Dalam beberapa doa, gamelan Bali ditabuh untuk mengiringi menambah semangat warga Hindu dalam berdoa.serba-serbi-Upacara-Melasti-Sambut-Tahun-Baru-Saka-1937-okw

Selain berdoa bersama-sama, upacara Melasti juga diiringi dengan melarung sesajian ke tengah laut di lepas pantai Pulau Datuk Sukadana. Termasuk di dalamnya ayam. Ketika perahu sudah di tengah laut, ada tokoh umat Hindu wanita yang membawa dedaunan yang diikat rapi dan dikibas-kibaskan ke arah laut.

Jelang akhir upacara, imam pemimpin doa membagi-bagikan air suci untuk diciprat-cipratkan ke umat Hindu yang bersembahyang. Termasuk pula beras putih yang sudah dicampur dengan air suci tersebut.

Beberapa kaum wanita Hindu yang mendapatkan beras tersebut, dimakan beberapa butir, sisanya ditempelkan ke tengah-tengah dahi, kemudian di belakang telinga, di atas kepala, dan di antara leher dan payudara.

Demikian juga dengan bunga-bunga yang digunakan untuk berdoa, diselipkan ke ikatan rambut maupun di atas telinga.

Kelian Banjar Adat Desa Sedahan Jaya Generasi III, I Ketut Sekawan sekaligus tokoh masyarakat Hindu Kayong Utara, Provinsi Kalbar, menerangkan kalau acara Melasti ini persiapan menghadapi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937, Saniscara Wage PrangbakatPenanggal 1 Sasih Kedasa Saka 1937 pada Sabtu, 21 Maret 2015.

“Upacara Melasti ini selain diikuti warga Hindu Kayong Utara juga diikuti warga Hindu dari kabupaten Ketapang. Mayoritas warga Hindu yang datang berasal dari desa Sedahan kecamatan Sukadana, KKU. Saat ini memiliki sekitar 125 kepala keluarga (KK) dan warganya mencapai 400-an orang,” ungkap I Ketut Sekawan.

Sedangkan Ketua Panitia Melasti di Pantai Pulau Datuk Sukadana, Komang Surapada S.Ag yang juga Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) KKU, menerangkan Melasti merupakan upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi, digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke laut.

“Melasti ini membersihkan diri, boleh di mata air, danau ataupun pantai, dan kita ambil di pantai. Warga Hindu dalam melaksanakan hari raya Nyepi tidak bersamaan waktunya. Kita ambil di hari Minggu yang libur ini, supaya peserta upacara tidak hanya anak-anak namun orang yang sudah bekerja seperti pegawai negeri sipil (PNS) juga dapat ikut,” kata Komang Surapada.

Setelah Melasti, lanjut dia, nanti ada Tilem Pensange atau satu hari sebelum Hari Raya Nyepi. Berarti membersihkan Buana Agung dan Buana Alit. Buana Agung itu alam semesta dan Buana Alit itu tubuh manusia.

“Dalam Nyepi sendiri kita melaksanakan empat Brata atau pantangan. Yaitu, Amati Geni, kita tidak boleh menyalakan api maupun api di dalam tubuh kita. Kemudian Amati Lelungan, tidak boleh bepergian. Amati Lelaungan, tidak boleh pesta pora, makan, minum, atau kita sebut puasa. Amati Karya, kita tidak boleh bekerja,” kata Komang Surapada.

Doa bersama menyambut hari raya Nyepi dilaksanakan Jumat (20/3) dimulai jam 13.00 siang di perempatn pura di desa Sedahan. Setelah selesai acara doa bersama, warga Hindu berpuasa jelang malam hari sampai 24 jam kemudian. Namun ada juga yang puasa hanya memakan nasi putih belaka. Mereka mematikan api dan menyepi untuk meminta ampun di tahun sebelumnya dan berdoa menjadi lebih baik di tahun berikutnya. (mah)

Posted on 7 April 2015, in adat budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: