Jeritana Nelayan Pulau Karena Perubahan Iklim


Perubahan iklim berdampak luas pada jutaan masyarakat nelayan di seluruh dunia. cuaca yang tidak menentu sudah mengganggu mata pencaharian. Kejadian-kejadian seperti tenggelamnya beberapa kapal dan terdampar adalah sebagian kecil dari dampak perubahan.

Perubahan iklim berdampak luas pada jutaan masyarakat nelayan di seluruh dunia. cuaca yang tidak menentu sudah mengganggu mata pencaharian. Kejadian-kejadian seperti tenggelamnya beberapa kapal dan terdampar adalah sebagian kecil dari dampak perubahan.

Nelayan adalah sebuah profesi yang memiliki ketergantungan pada ekosistem yang rentan akan perubahan sangat besar. Kenaikan suhu lingkungan dari suhu toleransi karang akan berpengaruh pada matinya karang, dan hal ini akan mengakibatkan berkurangnya populasi ikan di laut.

Naiknya muka air laut juga merupakan ancaman bagi tambak-tambak dan permukiman penduduk di daerah pesisir yang berada di kayong utara, yang sebagian besar di pesisir adalah berprofesi sebagai nelayan.

Para nelayan memiliki pengertian berbeda tentang perubahan iklim, mereka memaknai perubahan iklim dengan sulitnya membaca tanda-tanda alam (angin, suhu, astronomi, biota, arus laut), yang semuanya sulit di prediksi.

Jeritana Nelayan Pulau Karena Perubahan Iklim 2015

Perkara perubahan Iklim ini juga di rasakan oleh nelayan di kayong utara. Supardi adalah salah satu di antara ribuan nelayan asal Pulau Maya. ia mengishkan bahwa Karena terjadi perubahan dari kebiasaan sehari-hari, sehingga ia susah untuk memprediksi kapan waktu melaut dan memprediksi dimana daerah tangkapan yang potensial.

Bahkan menurutnya terkadang ia datang dari laut dengan tangan kosong. Supardi mengaku hasil tangkapan ikan di laut Pulau maya semakin tahun semakin menurun. Kalau dulu ia mencari ikan tidak perlu jauh jauh, cukup di sekitar laut Tanjung satai atau setengah Mil saja dari laut sudah banyak mendapat Ikan. Tapi sekarang Jangan Harap lagi, jarak bermil mil harus ia tempuh, itupun terkadang ia merugi.

Belum lagi resiko gelombang atau badai malam hari yang harus ia hadapi. Yang pasti sebagai nelayan ia harus siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Malam adalah waktu bekerja, sedangkan siang adalah waktu untuk beristirahat. Walaupun terkadang waktu istirahat yang di dapat tidak begitu ideal, namun cukuplah sekedar untuk melepas lelah.

Menyikapi perubahan iklim, menurut Abdul Rahman SH. Sebagai pemerhati lingkungan dari MPM ( Masyarakat Peduli Mangrove Kayong Utara) mengajak agar semua pihak harus bertindak cepat untuk menyelamatkan pembangunan, baik itu pemerintah pusat, daerah, maupun masyarakat disemua lapisan memiki tanggung jawab yang sama besar. Kita harus mempersiapkan sejak dini untuk adaptasi sebelum semua terlambat.

Meminjam kalimat dari Ban Ki-moon “Ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa Perubahan iklim sedang terjadi. Faktanya ada di sekitar kita. Kita akan melihat kenaikan muka air laut, badai, banjir, kekeringan, kelaparan, kemiskinan, dan punahnya beberapa spesies hewan dan tumbuhan. Kita harus bekerja sama, ini adalah tantangan moral generasi kita.”. (MIFTAHUL HUDA)

 

Posted on 30 Maret 2015, in berita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: