Pulau Karimata Dan Ikan Napoleon


menuju kelong tempat ikan napoleon karimataFoto : Tempat ikan napoleon di Padang karimata.

Beberapa nelayan di kecamatan Kepulauan Karimata mulai budidaya jenis ikan Napoleon atau Suumay di bahasa lokal. Menurut kesaksian warga, penangkaran ikan Suumay ini dengan patungan dan didukung modal dari investor Pontianak.

Tiap 1 kg ikan Suumay harganya Rp1 juta di Pontianak. Sebanding karena susahnya membudidayakan ikan Napoleon atau Suumay. Ikan ini selain dikoleksi warga Pontianak, juga diminati warga Jakarta, Surabaya, Singapura, Hong Kong, Seoul, Tokyo, serta untuk pasokan aquarium raksasana di negara-negara Timur Tengah.

“Budidaya ikan Suumay yang dilakukan nelayan kecamatan Kepulauan Karimata dengan prinsip saling menguntungkan,” ungkap Hasanudin, kepala desa (Kades) Betok kecamatan Kepulauan Karimata di sela-sela lokasi penangkaran di lepas pantai pulau Karimata.

02-04-2014--Mahmud, tokoh masyarakat pulau Pelapis kecamatan Kepulauan Karimata 02-04-2014–Mahmud, tokoh masyarakat pulau Pelapis kecamatan Kepulauan Karimata

Ia mengharapkan adanya kreativitas nelayan di penangkaran ikan Suumay dapat memberikan penghasilan lebih. Sebab berburu ikan tangkap di laut tak selamanya menguntungkan, sebab tergantung musim dan iklim di lautan.

“Semoga saja budidaya ikan Suumay dapat memberikan manfaat bagi kaum nelayan Karimata. Imbasnya pertumbuhan ekonomi kawasan juga bisa meningkat. Hasilnya warga nelayan dan membeli barang-barang bermutu tinggi dan bermanfaat dalam mendukung kehidupan sehari-hari di kepulauan,” kupas Hasanudin.kelong tempat ikan napoleon karimata

ikan napoleon karimata

Bagi wisatawan yang beruntung, dapat melihat ikan ini ketika menyelam di terumbu-terumbu karang kawasan Suaka Alam Laut (SAL) Karimata yang jernih airnya. Pada wajah dan badan ikan ini yang sudah usia 5 tahun ke atas, biasa ditemukan relief-relief mirip batik yang indah dan sedap di mata.

Pada awalnya warga Pulau Pelapis kecamatan Kepulauan Karimata, sebagian besar tidak menyangka kalau ikan Napoleon atau Suumay di bahasa ibu warga Pelapis, begitu mahal di pasaran. Sebanding karena susahnya menangkap ikan Napoleon atau Suumay.

“Kalau warga Pulau Pelapis menyebut ikan Napoleon sebagaimana orang Pontianak menyebutnya, Suumay. Ingat di lafaz ‘u’ sedikit panjang dan agak menyerupai lafaz ‘o’ mirip di penyebutan makanan Somai. Ikan Suumay masih banyak dijumpai di terumbu karang di kawasan Pulau Pelapis dan sekitarnya. Demikian juga di karang-karang Karimata. Memang susah menangkap ikan ini, sebab pandai lari ke celah-celah karang,” ungkap Mahmud, tokoh masyarakat Pulau Pelapis saat bertandang ke Sukadana, beberapa waktu lalu.

Warga pulau Pelapis, juga masih banyak tidak tahu kalau jenis ikan Napoleon atau Suumay hampir terancam punah di dunia.

Saking tidak pahamnya tentang jenis ikan Suumay ini, kadang kala ditangkap hanya untuk dibelah dan dijadikan ikan asin. Padahal di Pontianak dan kota-kota hawa tropis lain di dunia, ikan ini santapan lezat nan mahal sekali.

“Wisatawan dalam negeri biasa melihat ikan-ikan kita yang banyak jenisnya. Kalau wisatawan mancanegara biasanya ingin melihat yang ikan bentuk aneh-aneh. Ikan Suumay masih boleh dijumpai di daerah kita. Boleh juga nanti makan hewan laut yang biasa disebut Kimak. Ini bukan umpatan ya, maaf,” timpal Mahmud.menuju kelong tempat ikan napoleon karimata di padang karimata foto by irwansyah SiMPANG MANDIRI PRODUCTION_resize

 kelong tempat ikan napoleon karimata di padang karimata foto by SiMPANG MANDIRI PRODUCTION_resize

Dikatakan dia hewan laut Kimak ini, bentuknya dua lempengan besar bisa mirip tampah beras agak lonjong, dua lempengan merekah ke atas dan di tengahnya ada dagingnya. Mirip kerang. Daging Kimak yang nyaman kalau masih kecil-kecil.

“Kalau sudah besar macam tampah, rasanya tidak enak lagi. Yakin saja pemerintah itu, adat warga Pulau Pelapis dan sekitarnya sangat menghargai terumbu-terumbu karang. Sebab itu tempat hidup ikan-ikan yang biasa kita makan juga,” kata Mahmud.

Ikan Napoleon atau Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) merupakan ikan karang berukuran besar anggota dari familia Labridae, dengan ukuran bisa mencapai 2 m dan berat 190 kg. Ikan Napoleon terutama ditemukan di terumbu karang di kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Ikan ini mempunyai pola reproduksi hermafrodit protogini dengan sebaran di wilayah perairan India-Pasifik. Jenis ikan karang ini mempunyai daya tarik menarik bagi para penyelam untuk menikmati wisata alam bawah laut.

Ikan ini disebut orang Australia dengan nama Hump Head Maori Wrasse, dibedakan karena bagian mukanya mempunyai guratan-guratan yang menyerupai hiasan muka orang Maori. Guratan-guratan tersebut berwarna krem (kuning susu) yang saling tumpang tindih pada bagian hidung dan pipi. Kemudian meluas ke atas badan dan seberang ujung sirip dada.

Badannya disepuh dengan warna hijau cerah dan di bagian atas seluruh seluruh sirip-siripnya berwarna coklat. Panjang ikan ini bisa mencapai 1,5 meter. Beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun.

Ketika muda, ikan Napoleon terlihat pucat dengan garis-garis vertikal lebih gelap. Begitu dewasa, warna tubuhnya menjadi hijau kebiru-biruan dengan garis-garis lebih jelas. Bibirnya kemudian. Bagian atas kepalanya, di atas mata, menjadi benjol ke depan. Karena ponoknya itu, orang pun menamainya Wrasse kepala berponok (Humphead wrasse).

Wajahnya memiliki garis-garis tak beraturan. Di belakang matanya terdapat dua garis pendek berwarna hitam. “Goresan” hitam ini menyerupai ornamen wajah suku Maori di Selandia Baru. Maka, ikan napoleon pun mendapat julukan lain, Maori wrasse.

Hunian

Habitat ikan Napoleon merupakan salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Biasanya juga, sangat jinak dengan para penyelam. Ikan ini biasanya tidak terusik dengan aktivitas para penyelam.

Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat dinantikan oleh para penyelam, untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini. Biasanya ikan berenang sendiri mencari makan di daerah dekat karang, karena makanannya yang berupa beberapa jenis sea urchin, molusca, dan crustacean memang banyak berada pada daerah sekitar karang.

Cara makannya dengan membongkar karang mati dengan gigi besarnya untuk mencari siput dan cacing-cacingan yang terkubur. Mereka gemar sekali makan kerang-kerang yang berukuran besar seperti Triton.

Ikan ini sanggup memecahkan cangkang kerang-kerangan tersebut dengan mudah untuk diambil dagingnya. Bunyi gerusan mulutnya ketika makan, sangat menarik bagi para penyelam sehingga diibaratkan seperti sekelompok anak-anak yang sedang memakan kembang gula.

Kadang-kadang juga ikan besar ini mengasah giginya pada karang massif (padat) sehingga meninggalkan bekas goresan yang menakjubkan.

Berganti kelamin

Ikan ini mempunyai pola reproduksi yang Hermafrodit protogini. Biasanya ikan ini lahir sebagai hewan jantan dan akan berubah menjadi betina saat menjelang dewasa. Sehingga kadang ditemukan dominasi jantan pada satu populasi ikan kecil, sampai ukuran sedang dan akan berubah menjadi dominasi populasi betina saat mendekati matang gonad.

Ini memang fenomena unik di alam yang merupakan salah satu strategi sebagian besar hewan laut untuk mempertahankan kehidupan populasi mereka. Di sini ikan napoleon jantan ada dua tipe, yakni mereka yang terlahir sebagai jantan dan tetap sebagai jantan sejati sampai akhir hayat. Mereka yang memulai hidup sebagai betina dan dalam masa kehidupan berikutnya berubah fungsi sebagai jantan!

Perubahan menjadi betina biasanya terjadi setelah berumur 5-10 tahun atau berbobot badan kurang dari 10-15 kg. Namun, pergantian kelamin dan bagaimana perubahan kelamin terjadi masih menyimpan misteri. Ada sejumlah faktor yang diperkirakan bisa mendorong perubahan jenis kelamin tadi.

Yakni, hubungan antara ikan napoleon jantan dan dominasi sosial, atau dalam hal lebih spesifik, ukuran tubuhnya. Ikan napoleon betina bertelur sepanjang tahun di pinggir atau bagian luar lereng terumbu karang.

Proses bertelur ini terjadi dalam kelompok maupun berpasangan. Kegiatan bertelur dalam kelompok sungguh dramatis. Aktivitas itu dimulai dengan berkeliling bersama secara perlahan membentuk suatu kelompok. Saat anggota kelompok bertambah, mereka berenang lebih cepat dan lebih cepat lagi, akhirnya makin rapat membentuk kelompok besar.

Pada puncak hiruk-pikuk tadi, seluruh kelompok naik ke arah permukaan laut kemudian secepat kilat berbalik arah dan meninggalkan sebuah massa telur dan sperma di belakang yang segera terbawa oleh arus.

Jika proses bertelur dilakukan secara pasangan, yang jantan menyiapkan tempat bertelur pada seonggok karang atau batu yang menyolok. Dari sini dia menarik perhatian betina yang lewat, yang kira-kira bisa memberi harapan. Caranya, di atas calon pasangan dia bergerak ke atas dan ke bawah dan menggetarkan tubuhnya sembari berenang kembali.

Kalau siap menerima pinangannya, si betina akan membalasnya dengan memberi sinyal ke ikan jantan yang meminangnya. Dengan bangga si betina melengkungkan tubuhnya membentuk huruf “S” sembari mempertontonkan perut buncitnya yang berisi telur.

Mereka kemudian bertelur dalam suatu gerakan naik turun secara cepat ke permukaan. Proses bertelur ini berlangsung singkat dalam suatu hari, tergantung pada kondisi setempat. Di areal dengan arus pasang surut yang kuat, bertelur terjadi hanya setelah puncak pasang naik, keadaan yang ideal untuk memindahkan telur ke luar terumbu karang.

Konservasi

Akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan karang hidup, ikan napoleon mengalami penurunan populasinya di alam. Penangkapan ikan napoleon umumnya menggunakan racun sianida dan merusak ekosistem terumbu karang.

Ikan Napoleon merupakan ikan yang memerlukan waktu lama untuk mencapai usia matang reproduktif. Ikan napoleon menjadi matang seksual pada usia 5-7 tahun (pada ukuran 40-60 cm).

Ikan Napoloen di Malaysia dan Filipina, sudah tidak boleh ditangkap dan diperdagangkan. Australia melarang semua mengambil dan memiliki Ikan Napoleon.

Indonesia memungkinkan memancing hanya untuk penelitian, marikultur, dan memancing rakyat berlisensi.

Penelitian International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) tahun 2005 di Sulawesi Utara (Sulut), Bali, Raja Ampat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan di habitat yang mendapat tekanan (target penangkapan) sangat tinggi. Ikan Napoleon sangat jarang ditemukan. Akan tetapi pada saat ikan tersebut tidak menjadi ikan target nelayan para penyelam masih dapat menemukan spesies itu.

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat kepadatan ikan Napoleon di Kangean-Bali hanya 0,04 perhektar, Bunaken-Sulut 0,38 perhektar, Raja Ampat 0,86 perhektar, Nusa Tenggara Timur (NTT) 0,18 perhektar, Maratua 0,15 perhektar, dan Banda 1,6 perhektar.

Menurut penelitian Sadovy dalam pemaparannya, akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan karang hidup, ikan Napoleon rentan (vulnerable) mengalami kepunahan. Oleh karena itu akibat penurunan drastis di berbagai tempat menyebabkan ikan Napoleon dimasukkan ke dalam daftar merah IUCN (Endangered) pada tahun 2004 dan appendix II CITES pada tahun 2005.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam. Ini merupakan perjanjian internasional antarnegara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union IUCN tahun 1963.

Konvensi bertujuan melindungi tumbuhan dan satwa liar terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Selain itu, CITES menetapkan berbagai tingkatan proteksi untuk lebih dari 33 ribu spesies terancam. (MAHMUDI/WK)

Posted on 29 Maret 2015, in ekonomi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: