Kisah Mak Usu Dare, Nenek Miskin Pengumpul Batu Kali


kisah nenek pengumpul batu kali 2015 pasir mayang

(WK Bersama Rakyat Jelata, Dalam Serial Ujang Tampoy Bekisah) *

“Ironi Tuntutan Ekonomi dan kerusakan Alam”

Sahabat ujang yang baik, …! minggu ini kami jalan jalan ke pesisir pantai pasir mayang bersama mpmangrove.com, banyak cerita di panti yang indah itu. Salah satu cerita yang membuat ujang tertarik adalah kisah sang nenek renta. Berikut kisahnya.

Nenek ini bernama Dare, atau biasa di panggil mak usu DARE, ia tinggal di Desa Sungai belit Kecamatan sukadana kabupaten kayong utara. Nenek yang sudah berusia 70 tahun ini dengan terpaksa mengais batu kali di sungai pasir mayang demi sesuap nasi.

Mak usu dare hanya tinggal sebatang kara, anak anaknya tidak tinggal di desa, semuanya jauh dan merantau dari desa dengan tujuan merubah takdir. Mak usu dare harus berjalan ber kilo kilo demi mendatangi sumber rezekinya di sungai Pasir Mayang. Walau tubuhnya tak lagi kuat dan matanya tak lagi awas, ia tetap setia berjalan berkilo kilo menembus jalan berpasir dan semak belukar juga bebatuan licin dan terjal untuk mengais rezeki.kisah nenek pengumpul batu kali 2015 pasir mayang kisah nenek pengumpul batu kali 2015 pasir mayang

Siang hari WK menemani mak usu dare di tempat kerjanya, saat itu mak usu sedang makan siang. Ia sengaja memasak pagi hari untuk bekal makan siangnya di tempat kerja. Sedangkan jam makan berikutnya, baru ia pulang kerumah malam harinya.

Dengan penuh kesabaran, satu persatu mak Usu Dare memungut batu, lalu di masukkan ke dalam ember lalu membawanya ketepian. “Aku ndak kuat agik cuk nitik batu, make gak aku mungot ek batu kekecik yang ade lam paret ni am”. Ungkap mak usu dare dengan bahasa melayu kentalnya.

Mak usu dare sadar, yang ia lakukan adalah salah satu aktivitas yang ikut menyumbang kerusakan alam. Namun apa daya ia tak memiliki sesuatu yang lain untuk di kerjakan. Ia tak punya kebun atau keahlian lain. Maka dengan terpaksa bekerja sebagai pemungut batu kali yang penghasilannya tak seberapa yang ia jalani.

Dalam satu hari mak usu dare paling mampu mengumpulkan batu hanya 10 karung saja. Sedangkan satu kubik batu berkisar sebanyak 40 karung dan di hargai Rp. 100.000,-. Jadi jika di hitung hitung dalam satu hari mak usu dare hanya mampu mendapkan penghasilan Rp. 10.000, saja.

Sungguh memilukan nasib Mak usu dare ini, selain penghasilannya yang minim  ia juga tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah, baik BLSM, atau sejenisnya. Benarkah program pemerintah banyak yang salah menyasar ?. sungguh lucu sekali negeri ini, banyak program mercusuar dan manis terdengar dari berbagai media, namun masih saja orang orang seperti mak usu dare ini terabaikan.

Dari sekelumit kisah nenek ini, setidaknya patut menjadi tauladan bagi kita, bahwa Hidup adalah sebuah upaya bertahan. Bertahan dari apapun termasuk bertahan untuk tetap meneruskan hidup hingga kuota Tuhan yang di berikan pada kita telah habis. Dengan sisa sisa kuotanya nenek ini terus bekerja keras tanpa mengharap belas kasih dari orang lain. Setidaknya itu yang kita teladani.

Walau Dari sisi lain apa yang di lakukan Nenek ini adalah merusakalam. Mak usu dare dan orang orang lain para pekerja batu pantai sebenarnya mau mau saja untuk tak lagi bekerja mencari batu pantai, asalkan saja di berikan solusi lain sebagai sumber mata pencaharian pengganti saat ini. toh yang mereka lakukan juga tak membuat mereka kaya, semua hanya pas pasan untuk makan, itupun terkadang sering kekurangan.

Di sinilah peran pemerintah sebagai pusat regulasi di harapkan agar dapat memberikan win win solusi agar masyarakat pinggiran pantai seperti nenek ini dapat terlokalisir dan mendapat pekerjaan layak. Sebab bicara program strategis para pemangku kepentingan paling faham soal itu, namun yang paling di tunggu tunggu adalah bagaimana aksinya di lapangan agar masyarakat lapisan paling bawah benar benar tersentuh.

Diharapkan dengan adanya sinergisitas yang baik, maka rakyat dengan sendirinya juga akan sadar bagaimana pentingnya menjaga lingkungan alam. Wal hasil mereka dapat mengambil manfaat tanpa merusak. (MIFTAHUL HUDA)

Posted on 18 Maret 2015, in Humaniora and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Duuh miris bacanya, semoga anaknya diberi rezeki melimpah dan bisa membahagiakan ibunya dihari tua. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: