Menimba Teladan dari Buya Hamka


Pempadahan-Menimba-Teladan-dari-Buya-Hamka-ok

Oleh: Hasanan

Siapa yang tak kenal Buya Hamka? Putra terbaik bangsa asal Sumatra Barat ini, memilik prestasi gemilang dalam catatan sejarah Indonesia. Dia adalah sastrawan Indonesia, ulama, aktivis politik, dan ahli filsafat kebanggaan bangsa.

Kebesaran nama tokoh Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), atau lebih dikenal dengan panggilan ‘Buya Hamka’, tak hanya diakui di Indonesia. Sebagai seorang ulama, namanya pun dikenal di banyak negara sahabat. Bahkan, ulama ini berhasil menyandang gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar Kairo dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Dia adalah salah satu sosok pendakwah yang lurus dan istiqamah. Penerus perjuangan dakwah ayahandanya Syekh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenal sebagai Haji Rasul. Seorang pelopor Gerakan Islah Tajdid (usaha perbaikan/pembaharuan) di Minangkabau. Dari Haji Rasul dan Siti Shafiyah Tanjung inilah Buya Hamka lahir dan didik. Dan kelak tumbuh sebagai anak bangsa yang berjasa besar.

Ulama yang lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau Sumatera Barat ini, dikenal sebagai ulama yang teguh dan kritis. Pada masa pemerintahan Orde Lama (Orla), Buya Hamka pernah dipenjara. Ketegasannya menetang Demokrasi Terpimpin yang diperankan Soekarno, ketika dia ingin memasukkan Islam sebagai Dasar Negara dalam sidang perumusan Dasar Negara. Tak lama setelah itu, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Kemudian Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) tempat dia bernaung, dibubarkan. Para pemimpin Masyumi ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa proses hukum. Termasuk Buya Hamka.

Kebijakan Soekarno yang cenderung sekuleris, selalu memenjarakan lawan politiknya yang lebih Islamis. Beberapa kali diasingkan. Kemudian di penjara, tak membuat Buya surut dalam berjuang, kendati dengan secarik kertas dan sebatang pena. Banyak orang-orang yang meminta fatwanya, walau Ia terkurung di balik jeruji bersi. Alhasil, lahirlah tafsirnya yang fenomenal, yaitu Tafsir Al Azhar.

Kendati perlakuan zalim penguasa terhadapnya. Kendati dia tuduh makar tanpa bukti. Dijemput paksa dan dipenjarakan tanpa proses hukum selama 2 tahun 4 bulan. Buya Hamka tak pernah menyimpan dendam kepada Soekarno. Tak pernah keluar kata-kata kotor, atau sumpah-serapahnya kepada Soekarno. Padahal, tak hanya dipenjara, buku-buku karya Buya pun dilarang beredar. Ketawakalan dan keistiqamah Buya sulit tertandingi. Sulit kita jumpai hari ini.

Walaupun secara politik mereka berseberang. Tak ada niat Hamka untuk balas dendam. Hamka tetap menjaga silaturrahimnya dengan siapapun, termasuk Seokarno. Bahkan ketika Buya keluar dari penjara, Ia ingin segera bertemu Soekarno untuk mengucap terima kasih. Berkat dia dipenjara, Tafsir Al Qur’an Al Azharnya pun rampung digarapnya. Namun sayang, keinginannya segera bertemu dengan Soekarno tak segera terwujud. Mereka berjumpa, setelah Soekarno terbujur kaku tak bernyawa.

“Jika bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu (menggarap tafsir Al Azhar),” ungkap Buya Hamka. Ini ungkapan seorang yang berjiwa besar dan mulia. Ungkapan seorang penulis dan berilmu luas.

Semasa sakit, Soekarno berwasiat. Jika ia meninggal, maka dia (Soekarno) minta agar Buya Hamka yang menjadi imam shalat jenazahnya. Permintaan Presiden Pertama RI ini, bisa jadi isyarat permintaan maaf Soekarno kepada Buya. Tanpa meminta maaf pun, Buya tidak menyimpan dendam dan telah memaafkannya. Dengan tetesan air mata, Buya memimpin shalat mayat Soekarno. Sebagai bentuk penghormatan terakhir Buya kepada orang yang telah berjasa besar padanya.

Buya Hamka hidup pada tiga masa. Yaitu era sebelum kemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru. Setiap era, tak ada catatan hitam yang ditorehkan Buya Hamka. Seluruh hidupnya Ia dedikasikan untuk kemajuan bangsa. Tak memikirkan gaji. Tak memikirkan nama besar. Tak memikirkan gelar atau tanda kehormatan. Yang ada dibenaknya, ialah pengabdian kerana Allah ta’ala. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah kering dari pemikiran kebangsaan dan agama.

Ketegasan Hamka bukan isapan jempol belaka. Semua itu Ia lakukan karena prinsip dan keyakinannya akan kebenaran. Dia tidak takut dengan cemoohan penguasa, tak panik dengan ancaman penjara. Kritikannya benar-benar untuk membangun dan untuk kemajuan bangsa.

Hamka kerap menentang kebijakan pemerintah Orde Baru yang otoriter. Sebuah pemerintahan yang didominasi oleh Golongan Karya (Golkar) atau Partai Golkar sekarang, baik kritik langsung maupun dalam bentuk tulisan yang dimuat di media massa.

Masa Pemerintahan Orde Baru, hak politik bangsa terbelenggu dan terintimidasi. Semua orang seakan dipaksa harus loyal pada satu  golongan politik (monoloyalitas) ke Golkar. Semua institusi negara, PNS, ABRI (TNI/Polri), hingga ke RT, wajib warna kuning. Namun tidak demikian dengan Buya.

Musim Pemilu 1971. Dalam keadaan sakit ketika itu, Buya menjawab imbauan penguasa agar PNS mencoblos Golkar. Bagi Hamka, ini bertentangan dengan hak politik dan hak asasi seseorang. Bertentangan dengan Pemilu yang digaungkan pemerintah sendiri, yaitu dengan prinsip Pemilu yang Luber (langsung, umum bebas, dan rahasia).

Mengenang cengkraman Orba yang otoriter ini, penulis jadi teringat musim Pemilu 1997. Saat itu undangan memilih penulis ditahan oleh oknum ketua KPPS yang PNS. Penahan tersebut ada maksudnya. Ketika penulis menanyakan undangan, oknum KPPS tersebut mendoktrin penulis agar mencoblos gambar Pohon Beringin pada hari H nanti.

Karena penulis yang ketika itu cenderung ke P3, sontak membantah. Debat ringan pun terjadi. Penulis dikeroyok tiga orang anggota KKPS. Namun semangat muda penulis patang menyerah. Penulis pun diancam, jika tak memilih Pohon Beringin, masa depan penulis akan suram.

Apa kata penulis ketika itu? “Nasib saya bukan ditentukan oleh Golkar tapi dari hasil kerja keras saya dan ridhanya Allah SWT. Tunggulah saatnya kehancuran Golkar akibat kezalimannya,” cetus penulis berapi-api, maklum masih muda. Akhirnya, ketua KPPS dan dua orang anggotanya tersebut, hanya memendam sakit hati tak berlawan. Dan tahun 1998, kekuasaan Golkar pun runtuh karena gerakan Reformasi.

Kembali ke cerita Buya. Apa komentar Buya menyikapi imbauan penguasa ketika itu?

“Saya adalah seorang rakyat Indonesia yang pertama berlindung kepada Allah, di bawah kibaran Merah Putih dan presidennya adalah Soeharto. Dari segi keahlian saya dan bidang saya, telah saya bantu presiden ini dan tetap akan saya bantu. Selama tenaga masih ada dan kalau presiden memerlukan! Kalau presiden tidak memerlukan tidak pula saya akan kasak-kusuk minta diperhatikan. Inilah yang bernama loyalitas. Dengan pernyataan loyalitas ini bukan berarti bahwa saya mesti masuk salah satu partai politik. Bukanlah berarti saya mesti membantu kampanye Golkar! Saya akan tusuk 3 Juli nanti tanda gambar yang tetap rahasia dalam hati saya,” ungkap Buya Hamka.

Ini sangat kontras (berlawanan) dengan perangai tokoh-tokoh kita hari ini. Banyak di antara tokoh terkemuka hari ini, bersuara lantang hanya untuk mengejar kedudukan. Bersuara keras, hanya untuk minta perhatian dan diperhatikan penguasa. PNS menjadi tim sukses penguasa (incumbent), hanya ingin memperoleh jabatan strategis. Cara ini tentu berbeda jauh dengan prinsip Buya Hamka.

Buya tidak menggadaikan agamanya untuk menggalang massa. Buya tidak menjual posisinya untuk mendapatkan materi. Buya tidak membela kepentingan pemimpin ketika ia zalim dan lalim. Inilah cara Buya Hamka menunjukan loyalitasnya kepada bangsa. Bukan kepada penguasa yang haus kekuasaan.

Hamka pun pernah mengkritisi awal pembentukan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang dilakukan pemerintah Orde Baru. Bagi Hamka, akan lebih baik jika keberadaan MUI sebagai penyeimbang pemerintah. Membantu memberikan nasihat ke pemerintah, baik diminta maupun tidak. Beliau tidak ingin, MUI sebagai tameng pemerintah. Atau pemerintah membeli para ulama, demi membela kepentingan pemerintah yang sebetulnya merugikan rakyat.

Dengan tegas Buya Hamka mengatakan, “Kalau saya diminta menjadi anggota Majelis Ulama saya terima. Akan tetapi ketahuilah saya sebagai Ulama tidak dapat dibeli.” Sebuah pernyataan sikap yang memiliki pesan moral yang sangat dalam.

Untuk pertama kalinya, Hamka pun terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Jabatan ini sempat, Ia emban dua priode, kendati periode keduanya tidak selesai. Namun sebagai perintis MUI, beliau meletakkan dasar-dasar yang kokoh untuk para ulama kala itu. Walaupun pondasi ini tidak banyak diikuti ulama-ulama hari ini.

Pada periode petamanya, 1975-1980, Buya berusaha keras melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai Ketua Umum MUI. Pengabdiannya benar-benar tulus untuk umat dan bangsa. Dia tak henti-henti mengingatakan pemerintah, ketika pemerintah salah dalam melangkah. Baik dipinta maupun tidak.

Di periode 1980-1985, ia merasa mendapat cobaan yang berat. Tawaran materi pun datang kepadanya. Dia menolak menerima gaji sebagai ketua MUI dari pemerintah. Yang menurutnya dapat mempengaruhi pandangannya, dan prinsip-prinsip hakiki yang Ia yakini.

Sebab itu, tahun 1981 Hamka memutuskan melepaskan jabatannya dari Ketua Umum MUI. Karena Ia merasa sudah tidak sejalan lagi dengan pemerintah. Fatwa-fatwanya pun tidak diindahkan pemerintah. Dan di tahun ini pula, Buya Hamka menghembuskan nafas terakhirnya.

Sangat banyak cerita-cerita hikmah yang bisa kita petik dari Buya Hamka. Sikap ini menjadi bukti keistiqamahannya dalam menjaga prinsip pengabdiannya terhadap agama, bangsa dan negara.

Kendati kita tak sehebat, seikhlas dan sesabar Buya Hamka. Tak sekhusyu’, setawakal dan setawadhu’ pribadi Buya. Setidaknya, ada pelajaran mulia yang dapat kita petik dari Buya Hamka. Yaitu, terus belajar menjadi orang yang senantiasa istiqamah dalam nilai-nilai perjuangan. Apapun bentuk, waktu dan kondisinya. Semoga.

Posted on 17 Maret 2015, in Tokoh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: