Saya Orang Islam


*Cerkong.

Oleh: Hasanan

imagesa (1)

Kampung Kembang, adalah kampung (desa) metropolitannya orang-orang kampung. Sesuai nama, Kampung Kembang lebih maju dan berkembang dibanding kampung lain di sekitarnya. Nama ini, mungkin bagian dari doa para pendiri kampung ini dulu, agar kampungnya maju dan sejahtera.

Suasana kampung ini asri. Bukit-bukitnya menjulang tinggi, dengan pepohonan yang lebat dan rindang. Hamparan sawah luas membentang, dengan pemukiman yang tertata rapi dan lingkungan yang bersih. Penduduknya ramah, pekerja keras, dan agamis. Mayoritas penduduk kampung ini, sekitar 95 persen Muslim. Sisanya penganut Buddha, Kristen, dan Khonghucu.

Berada di Kampung Kembang, seolah kita sedang berada di Kota Metropolitan. Bedanya dengan kota metropolitan, di kampung ini tak ada pusat perbelanjaan modern, hotel, dan fasilitas lain sebagaimana kota. Namun kampung ini menawarkan sejuta pesona yang mampu menyisir mata. Yang fantastis, ialah pesona alamnya. Karenanya, kampung ini pun menjadi tujuan wisata para pelancong.

Suasana agamis kentara terasa di kampung ini. Kampung yang mendapat julukan ‘Kampung Seribu Menara’. Sebab, menara Masjid dan Langgar (surau), banyak kita jumpai di sini. Namun demikian, sentuhan pergaulan kota pun telah menjamah Kampung Kembang. Karena, adaptasi warga dengan orang luar kerap terjadi. Jelas! Karena Kampung Kembang-kampung wisata.

*****

agama_1e

Suasana malam ini terasa hangat di Kampung Kembang. Cuaca sangat bersahabat. Purnama memancarkan cahayanya, menerangi seisi kampung. Di jalan, orang-orang pada sibuk hilir mudik. Beraktivitas menurut kepentingan mereka masing-masing. Pun demikian bagi muda-mudi. Maklum, malam ini adalah malam Minggu. Merupakan malam penting bagi mereka. Tapi tidak dengan Firman.

Firman baru saja pulang dari pengajian. Seperti biasa, saban malam Senin, Firman rutin mengikuti pengajian pimpinan Ustadz Mustafa. Malam Jumat, Ia ikut jamaah yasinan keliling. Sedangkan malam Minggu, mengikuti pengajian pimpinan Kyai Ibrahim.

Firman tergolong anak yang shaleh. Usianya baru saja menginjak 25 tahun, dan masih lajang. Guru ngaji dan mengkajinya, lebih dari sepuluh orang, dengan latar belakang yang berbeda. Baik saat mengaji di pondok pesantren dulu, maupun ngaji di luar pondok pada ustadz yang dianggapnya mumpuni (kredibel). Karena itu, banyak kitab yang telah dia pelajari dari murabbi (gurunya). Kendati demikian, dia tak pernah tampil angkuh dengan segudang ilmu dan wawasan yang Ia miliki. Karena dia sadar, semua adalah titipan.

Saat Firman tiba di rumahnya, suasana rumahnya agak gaduh. Ada lima orang terlibat debat, termasuk orangtua kandungnya. Perdebatan mereka seputar golongan dalam Islam. Ada yang bilang aliran ini, begini. Yang lain bilang, bahwa aliran itu tidak sesuai dengan kebiasaan umat Islam secara umum. Dan seterusnya. Suasana di rumah Firman malam itu, seperti debat kandidat Bupati dan Wakil Bupati. Seru! Tegang, dengan argumentasi mereka masing-masing.

Yang berhaluan Nahdlatul Ulama (NU) bilang, bahwa dalam melaksanakan ibadah, Muhammadiyah berbeda dengan praktik umat Islam Indonesia umumnya. Tak mengenal tahlilan, doa qunut saat shalat subuh, tak ada talqin untuk penguburan mayat. Selalu berbeda dalam menetapkan (hilal) awal puasa dan 1 Syawal, atau Hari Raya Idul Fitri. Meninggalkan hal-hal yang dianggap sunnah dan seterusnya.

Sementara yang Muhammadiyah berpandangan lain. Bahwa orang-orang NU itu membolehkan tradisi dalam praktik ibadah umumnya. Seperti adat dalam gunting rambut anak, pijak tanah, tabur beras (beras kuning), beruah (kenduri), perdukunan dan sebagainya, tergantung adat-istiadat masyarakat setempat. Yang menurut sebagian mereka, parktik ini tidak memurnikan ajaran Islam.

Belum lagi klaim terhadap Jamaah Tabligh, Persis (Persatuan Islam), Hizbul Tahir Indonesia (HTI), Al Irsyad, DDII, klaim terhadap aliran Wahabi dan lain-lainnya. Semua mengarah pada stigma negatif, kecuali aliran mereka yang diklaim baik. Sehingga muncul bahasa pengkotakan/cibiran, ‘itu orang A, ini orang B, sana orang C’.

Firman tak langsung nimbrung. Dia berusaha menjadi pendengar yang baik. Kadang, sesekali dia tersenyum mendengar perdebatan yang menurutnya tak penting diperdebatkan. Sebab, yang diperdebatkan seputar golongan dan mazhab dalam Islam. Pikir Firman, cara pandang inilah yang membuat Islam itu terkotak-kotak dan mudah terbelah. Karena peluang orang lain mengadu-domba itu sangat terbuka. Inilah yang menyebabkan penganut agama ini mencari pola baru. Membentuk aliran-aliran sendiri yang kadang muncul juga penyimpangan dan penodaan.

Suasana debat sempat hening sesaat. Mungkin kelelahan, karena lebih dari satu jam debat tersebut berlangsung. Atau mungkin, masing-masing telah kehabisan bahan debat. Sementara, goreng ubi dan air kopi satu ceret ukuran sedang telah kikis.

Dalam keadaan hening, tiba-tiba pak Andi nyeletuk bertanya kepada Firman. Pak Andi sendiri adalah aktivis Muhammadiyah di daerahnya. Pertayaannya tak jauh dari topik yang mereka perdebatkan.

“Firman, ente sebenarnya orang NU atau Muhammadiyah, atau apa? Terus, bagaimana menurut ente tentang NU dan Muhammadiyah?” tanya pak Andi ke Firman menyelidik.

Firman tak langsung menjawab. Dia menyambut pertanyaan pak Andi dengan senyuman. Baginya, pertanyaan pak Andi tak penting untuk dijawab. Pertanyaan seperti inilah yang membuat kita selalu terkotak, sulit bersatu. Namun sikap menghargai siapapun dia tunjukan. Tak ada tanda-tanda, bahwa sebenarnya dia muak dengan pertanyaan semacam ini.

“Maaf pak Andi, sebenarnya saya berat mau menjawab pertanyaan pak Andi. Baik NU maupun Muhammadiyah, menurut saya, semuanya baik. Semuanya Ahli Sunnah Wal Jamaah. Saya bukan orang NU, bukan Muhammadiyah, bukan Wahabi, atau apapun namanya. Tapi saya orang Islam,” jawab Firman.

“Berarti ente tak punya pendirian dong? Tak punya pandangan dan pegangan yang jelas soal mazhab, atau ente tidak sepaham dengan Ahli Sunnah wal Jamaah?” timpal pak Zakir yang sedikit kesal dengan pernyataan Firman. Sebab, pak Zakir tokoh yang fanatik dengan NU.

Lagi-lagi, Firman menyambut pernyataan dan pernyataan pak Zakir dengan senyum khasnya. Emosi Firman tak pernah tersulut, dalam kondisi apapun. Baginya, pertanyaan dan pernyataan pak Zakir hal yang wajar saja. Tentu wajar juga dia harus menjelaskannya.

“Begini pak Zakir. Bukan saya tidak punya pandangan atau pegangan. Atau tidak sepaham dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah (Aswaja). Bagi saya, mau NU, Muhammadiya dan lainnya, semua itu baik. Dan saya yakin dan mendukung Aswaja tersebut,” komentar Firman. Kemudian dia lanjut menjelaskan secara rinci maksudnya.

Firman memaparkan apa yang ada di benaknya, tentang topik debat yang Ia dengarkan. Dan mencoba menjawab pertanyaan pak Andi dan pak Zakir. Menurut Firman, sikap inilah yang membuat umat ini sulit bersatu. Selalu mempermasalah bendera organisasi. Selalu berbicara soal furu’iyah (perbedaan pandangan) yang sebetulnya tidak menyimpang. Bukan bagaimana caranya bersatu, membenahi umat ini agar menjadi manusia yang lebih baik. Agar tidak mudah terseret arus negatif globalisasi.

Kita seringkali mempertajam perbedaan. Bukan mencari kesamaannya atau saling menghargai. Bukan menjadikan perbedaan itu sebagai motivasi untuk saling memperbaiki, bukan saling mencaci.

Padahal, setiap orang atau golongan memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebetulnya, kekurangan dan kelebihan ini bisa saling melengkapi. Merupakan potensi dan sumber kekuatan Islam. Bukan dipertajam dan saling melemahkan.

Perbedaan itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Ini bagian dari rahmat dan anugerah. Zaman Rasulullah saja, perbedaan pandangan itu terjadi diantara sahabat. Namun rujukan terakhir sahabat, tetap Rasulullah. Sedangkan pedoman Rasul adalah wahyu (al-Qur’an).

Sebagaimana firman Allah, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Jika kamu berselisih dari suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya (QS. An Nisa, 4 : 59).”

Tidak ada suatu hukum yang dianggap salah, apabila hukum tersebut jelas sumbernya. Rasul saja tidak pernah menyalahkan perbedaan pendapat di antara sahabatnya, selama pendapat tersebut jelas hukum dan sumbernya. Lalu, kenapa kita yang mengaku pengikut Rasulullah ini, merasa lebih hebat dari beliau yang menghargai perbedaan?

Perbedaan seharusnya tidak membuat Islam itu terpecah. Selama akidah mereka tidak melenceng, seharusnya tidak ada yang mengklaim, bahwa golongan mereka lebih baik dari golongan yang lain. Selama seorang mukmin-mukminat pendomannya Alquran dan Hadist. Percaya pada Rukun Iman, Rukun Islam, syahadatnya sama, dan seterusnya. Mereka adalah saudara kita seiman.

Menurut Firman, selama Ushulnya (ilmu dasar) tidak menyimpang, kenapa kita memperdebatkan fiqih ibadah seseorang? Yang penting mereka menggunakan dalil syar’i dan tidak merusak syarat sahnya ibadah yang disepakati empat mazhab. Maka kita tidak bisa mengklim bahwa mereka salah atau golongan yang sesat.

Teladan itu bisa kita petik dari kisah Imam Syafi’i, pendiri Mazhab Syafi’iyah. Alkisah, Imam Syafi’i pernah tidak membaca qunut saat shalat subuh, ketika ia berada di Bagdad. Persisnya dekat makam seseorang yang ia hormati. Siapa orang tersebut? Yaitu Abu Hanifah bin Nu’man bin Tsabit, atau yang lebih dikenal dengan Imam Hanafi.

Sepintas, apa yang dilakukan Imam Syafi’i terlihat ganjil. Melanggar prinsip dasarnya. Melanggar ijtihadnya. Padahal dengan tegas ia mengatakan, bahwa qunut itu sunnah dibaca saat shalat subuh. Tapi ini tidak ia lakukan, hanya karena menghormati Mujtahid Agung, yaitu Imam Hanafi. Sebab, menurut Imam Hanafi dan Imam Hambali, qunut pada shalat subuh tidak disunnahkan, tetapi pada shalat witir saja. Dalil yang mereka gunakan pun jelas. Namun, Imam Syafi’i tidak ego. Dia tetap menghormati Imam Hanafi, dengan tidak membaca qunut saat berada di dekat makam Imam Hanafi.

Bahkan dengan gurunya Imam Malik pun, Imam Syafi’i kadang berbeda pandangan soal fiqih. Tetapi ini tidak menyebabkan empat imam ini pecah dan mengklaim paling benar. Justru mereka saling menghargai dan melengkapi. Sebab, rujukan terakhir mereka tetap pada Alquran dan Hadits.

Mereka, pendiri empat mazhab ini seperti satu saudara. Tidak pernah mencela satu dengan lainnya. Bahkan mereka saling belajar/berguru kepada yang lainnya. Seperti cerita Imam Hanafi. Beliau merupakan imam tertua pendiri dari kalangan empat mazhab. Namun Imam Hanafi tidak segan dan gengsi menelaah dan mempelajari kitab Imam Malik, pendiri mazhab Maliki.

Demikian juga cerita menarik dari Imam Malik. Beliau pernah menolak tawaran Khalifah Manshur, yang ingin memperbanyak kitab karyanya, untuk disebarkan ke seluruh negeri. Tujuan khalifah, agar seluruh negeri mengikuti ajaran Imam Malik, tidak ajaran yang lainnya. Tapi itu ditolak Imam Malik. Saran beliau kepada khalifah, agar membiarkan penduduk negeri memilih untuk diri mereka sendiri. Mana yang baik menurut mereka.

Dan sangat banyak cerita menarik lainnya, yang dapat dipetik dari empat imam tersebut. Intinya, tidak ada diantara mereka yang merasa paling hebat, merasa paling benar dan layak diikuti. Tetapi, rasa yang mereka tumbuhkan adalah kebersamaan, rasa persaudaraan (ukhuwah) dan rasa saling menghargai satu sama lainnya. Lalu kenapa kita hari ini mempertajam perbedaan itu?

Kita tidak bisa me-NU-kan atau me-Muhammadiyah-kan seseorang/golongan dan/atau menjadikan seseorang harus mengikuti golongan tertentu. Biarkan saja mereka dengan golongan yang mereka merasa nyaman di dalamnya. Selama akidahnya tidak menyimpang, mereka saudara seiman kita. Jika golongan yang mereka ikuti menyimpang pun, tentu ada cara bijak untuk mengingatkannya. Bukan mencaci atau memusuhinya.

Biarkanlah saudara kita berada di golongannya. Mari kita jadikan perbedaan dan keberagaman itu sebagai khazanah dan sumber kekuatan Islam. Bukan sumber untuk saling mengklim benar. Biarkan mereka bergerak dan berbuat menurut ideologi golongannya, selama itu mereka pandang benar dan jelas dalil syar’inya. Serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, atau merusak kepentingan umum. Biarkan saja mereka berekspresi dan mengabdi dengan cara mereka! Kita dengan cara kita. Yang penting tujuan kita sama, kendati cara mencapainya berbeda.

Orang di luar sana akan tertawa melihat kita terpecah. Orang di luar sana akan bangga, melihat kita terbelah. Orang di luar sana terus mengadu, karena kita tidak bersatu. Kenapa kita tidak merasakan itu?

Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah memberikan rambu-rambu kepada kita. Golongan yang mengklaim Islam akan dianggap sesat, apabila; mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam, mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Alquran dan Hadist). Menyakini adanya Nabi/Rasul lain setelah Nabi Muhammad, mengingkari keotentikan dan kebenaran Alquran. Dan melakukan tafsir Qur’an yang tidak sesuai kaidah tafsir.

Selanjutnya, mengingkari kedudukan Hadits nabi sebagai sumber hukum atau ajaran Islam, melecehkan atau merendahkan para nabi dan rasul. Mengingkari nabi Muhammad sebagai Nabi/Rasul terakhir. Mengingkari pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah. Dan terakhir, mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Penjelas panjang lebar dari Firman membuat pak Andi, pak Zakir dan tim debat lainnya malam itu tercengang. Mereka tidak menyangkan ditohok dengan penjelasan yang panjang dan detil. Tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya anggukan dan bahasa ringan yang bisa mereka sampaikan. Apa yang disampaikan Firman, mereka yakini itu benar. Selama ini mereka sadar, keegoan golonganlah yang sering mereka tampilkan.

Tak terasa, jam di dinding rumah Firman menunjukan pukul 02.00 dini hari. Karena kesimpulan debat telah mereka peroleh, forum debat sepakat mengakhiri debatnya. Di antaranya ada yang mengeluh karena ngantuk. Yang pasti, forum debat malam ini mereka rasakan luar biasa. Banyak ilmu dan hikmah yang mereka dapatkan. Mereka pulang dengan hati yang tenang dan membawa wawasan baru.

Sejak itu, di Kampung Kembang jarang terdengar lagi perdebatan soal mazhab atau golongan. Tak terdegar lagi cibiran soal si A orang ini, si B orang itu dan si C orang anu. Pelan tapi pasti, cara pandang masyarakat sudah berubah. Mereka saling menghargai, mengisi, mengingatkan, dan bersatu dalam bingkai Islam yang membawa misi “Ramantan lil ‘alamin”.

Posted on 8 Maret 2015, in cerkong and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: