Adat Pernikahan Tionghoa Kayong Utara


teluk batang adat budaya pernikahan tionghoa kayong utara 2015

Dalam suatu waktu, Warta Kayong (WK) Team diundang dalam acara pernikahan yang diselenggarakan oleh Partner WK yang beretnis Tionghoa. Walaupun etnis Tionghoa di Kayong Utara sudah hidup turun-temurun, namun mereka masih kukuh menjaga adat budaya. Mereka tidak sesekali melupakan siapa sejatiya mereka, ciri khas, dan identitas mereka masih kental dipegang.

adat budaya pernikahan tionghoa kayong utara 2015 teluk batang

Hari itu pernikahan Feri (Lim Ui Heng ), putra dari Hadi Cristhoporus (Lim Tio Tjun) dan Maria (Lay Siau Heng), dengan wanita berdarah Tionghoa asal Teluk Batang bernama Ayen (Liau Xao) berjalan dengan hikmat. Dalam pernikahan adat dipimpin seorang Somoi Nyin (semacam penghulu). Kemudian diakhiri dengan sakramen pernikahan melewati kepercayaan Ajaran Kristen.

WK Team merasa tergilitk untuk menelusuri seperti apa adat budaya Tionghoa sesungguhnya dalam adat perkwaninan. Berikut hasil penulusuran berdasarkan keterangan dari Somoi Nyin (penghulu ) bernama Anai yang membimbing prosesi pernikahan adat Tionghoa.

adat budaya pernikahan tionghoa kayong utara 2015

Anai yang tinggal di desa Alur Bandung, mengaku sudah lebih 30 tahun menjadi Somoi Nyin.

Berikut penelusuran kami di lapangan mengenai pernikahan adat Tionghoa di Kayong Utara, dimulai upacara sembahyang kepada Tuhan (Cio Tao) dilaksanakan pada pagi hari. Namun adakalanya upacara sembahyang ini diadakan pada tengah malam menjelang pernikahan.

Upacara Cio Tao ini terdiri dari penghormatan kepada Tuhan, penghormatan kepada alam, penghormatan kepada leluhur, penghormatan kepada orangtua, penghormatan kepada kedua mempelai.

Pagi hari itu, tampak mempelai pria, Feri bersama rombongan menjemput mempelai wanita di penginapan Famili. Dalam massa itu juga didampingi oleh Somoi Nyin yang sangat berperan penting sebagai pembimbing nikah. Sewaktu di penginapan Famili sebelumnya mempelai pria melakukan penghormatan terlebih dahulu.

Ia melakukan pengormatan pada yang tua dari sebelah mempelai wanita dengan simbol melayani memberikan teh. Kemudian dibalas dengan angpau. Namun jika kerabat yang melayaninya lebih muda usianya, maka si mempelai justru yang memberikan angpau.

Hal ini dijelaskan Anai, merupakan sebagai bentuk perwujudan yang muda mesti menghormati yang tua, namun yang tua juga harus memelihara dan menafkahi yang lebih muda. Begitu juga sebaliknya.

Setelah mempelai pria menjemput mempelai wanita, selanjutnya penghormatan terhadap orangtua dan keluarga. Penghormatan itu kepada kedua orangtua, keluarga, dan kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan Angpao, baik berupa uang maupun emas, permata, dan lain-lain. Penghormatan dapat lama, bersujud, dan bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.

Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran Tionghoa ditukar dengan pakaian “ala barat”. Pesta pernikahan di rumah dengan dihadiri para kerabat dan handaitaulan. WK Team

Posted on 16 Februari 2015, in adat budaya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: