Kisah Nyata : Karena Kenikmatan Sesat (KKS)


cerkong-Karena-Kenikmatan-Sesat-ok

“( Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat, tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya :)“ Hasanan.

Inilah yang terjadi dengan ibu dua anak, asal Kota Pontianak. Usianya 32 tahun, terlihat muda, cantik dan seksi. Anak pertamanya perempuan, usia 8 tahun. Anak kedua laki-laki berusia 5 tahun. Sebut saja nama ibu dua anak ini, Mawar. Rumah tangga Mawar berantakan karena selingkuh dengan mantan pacarnya, Judi (bukan nama sebenarnya).

Mawar mulai merasakan ketidakharmonisan rumahtangganya, sejak kelahiran anak kedua mereka. Suaminya tak memiliki pekerjaan tetap, pengangguran, dan malas berusaha. Hari-hari suami Mawar hanya bisa berkumpul dan mabuk-mabuk bersama temannya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Mawar harus pontang-panting kesana-kemari. Manjadi pedagang pakaian keliling.

Sang suami, masa bodoh saja. Tak peduli apakah dapur harus mengepul. Tak peduli, apakah anaknya butuh makan, jajan, pakaian, sekolah atau tidak. Yang penting, pulang ke rumah siap makan dan dilayani istri. Itupun jika pulang. Kadang seminggu ia tak pulang ke rumah, tanpa bekerja dan membawa hasil untuk keluarga. Inilah alasan ketidakharmonisan rumah tangga Mawar.

Alasan lain yang selalu mengganggu pikiran Mawar. Sang suami, saat berhubungan intim, selalu tidak memuaskan. Menurut Mawar, suaminya sangat egois dalam berhubungan intim dengannya. Asal dia puas saja. Tanpa peduli perasaan Mawar yang mengingkan hal yang sama. Menurut Mawar, kepuasan yang Ia inginkan. Itulah nafkah batin atau biologis yang wajib dipenuhi suaminya. Tapi itu tak Ia dapatkan.

Muncul rasa jenuh di hati Mawar. Nafkah lahir dan batin tak Ia dapatkan dari suaminya. Awalnya Mawar mencoba untuk bersabar, ikhlas menerima semuanya. Seiring berjalannya waktu, rasa sabar, dan keikhlasan Mawar mulai memudar.

images

Bertahun-tahun Mawar hanya bisa memendam rasa. Sampai akhirnya, dia menemukan mantan pacarnya yang tak pernah berjumpa, sejak 14 tahun silam. Cinta mereka melebur karena jarak. Sejak itu, mereka tak pernah berjumpa dan berkomunikasi lagi. Hingga Mawar menikah dan punya dua anak.

Seperti gayung bersambut. Saat Mawar dirundung duka, menghadapi tingkah laku suami yang abai dengan tanggungjawab. Di saat Mawar merasa, bahwa hubungan dia dengan suaminya tak mungkin membaik lagi. Munculah sosok lelaki yang pernah mengisi masa-masa indahnya dulu. Sosok lelaki yang selalu memberikan kesejukan hatinya.

Perjumpaan Mawar dengan mantannya, Judi seakan telah terencanakan. Rasa ragu dan malu-malu membalut hati Mawar, saat menatap wajah sang mantan yang tak banyak berubah. Hatinya bertanya, “Apa aku tak salah lihat ya?”

Benar. Mawar tak salah lihat. Komunikasi antara Mawar dan Judi pun mengalir manis. Maklum, 14 tahun mereka tak saling tegur sapa. Bukan karena bermusuhan. Tapi karena jarak yang terbentang jauh. Tambah lagi saat itu, alat komunikasi seperti hand phone (HP/telepon genggam) belum ada.

Lantai satu gedung A Yani Mega Mall—Pontianak, menjadi saksi pertemuan dua sejoli ini. Duduk di bangku lobi, sembari melihat ke lantai dasar mall. Menatap kesibukan manusia di ibukota. Mawar dan Judi seakan engan beranjak dari tempat duduknya.

Rasa cinta yang dulu pernah ada seperti bersemi kembali. Dua si joli pun saling tukar nomor HP. September 2011, menjadi bagian hari yang paling bersajarah dalam kehidupan Mawar. Dia merasa menemukan kembali cintanya yang dulu pernah hilang. Padahal, Judi pun tak sendiri lagi. Judi sudah punya satu anak pula.

Sejak pertemuan itu, hati Mawar mekar bak namanya. Dia benar-benar melupakan kesedihannya. Melupakan hiruk-pikuk rumah tangganya. Baginya, ada atau tidak suaminya, itu tak penting lagi. Selama ini, rumah tangga mereka hanya diselimuti pertengkaran dan pertengkaran. Sudah beberapa kali Mawar minta berpisah dengan suaminya. Tapi si suami tak menggubrik permintaannya.

selingkuh-ilustrasi-_131118141725-145

Mawar merasa rumahtangganya seperti neraka. Anaklah yang membuat ia tetap bertahan di rumah. Kehidupan Mawar dengan suaminya, telah bertolak belakang jauh. Mereka seperti menjalani hidupnya masing-masing. Mawar tak mau tahu urusan suaminya. Dan suami pun tak usah tahu urusan Mawar. Itu komitmen yang mereka bangun. Weleh, weleh….

Hubungan Mawar dengan Judi semakin hari semakin intens. Tanpa rasa ragu dan segan, Mawar selalu menghubungi Judi, kendati suaminya ada di rumah. Tak hanya sebatas berhubungan via HP saja, mereka sering ketemu di tempat lain, saat Judi berkunjung ke ibukota Provinsi Kalimantan Barat.

Tak diduga sebelumnya, reuni mereka berbuah cinta. Cinta lama bersemi kembali. Layaknya suami istri, berulang kali mereka melakukan hubungan intim saat bertemu. Semua mengalir begitu saja. Terasa begitu indah, romatis dan penuh suka-cita. Tak ada rasa menyesal atau bersalah di hati mereka. Baik Mawar maupun Judi.

Kadang mereka bertemu dan bercumbu di hotel, kandang juga di tempat lain. Siang atau malam tak peduli. Selama ada kesempatan, Mawar akan datang ke hotel tempat Judi bertengger. Karena dengan Judi, Mawar menemukan kepuasan batin dan kebuthan biologisnya. Ini tak pernah ia dapatkan selama 13 tahun menikah dengan suaminya.

Mawar benar-benar menikmati hidupnya bersama Judi. Muncul rasa penyesalan di hati Mawar. Kenapa dulu dia tak menikah saja dengan Judi? Kenapa harus menemukan laki-laki yang tak bertanggungjawab terhadap kebutuhan ekonomi keluarganya? Lelaki yang lemah saat di ranjang. Laki-laki yang tak sesempurna Judi.

Benar saja. Kehidupan Judi jauh lebih mapan dibanding suami Mawar. Judi berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pejabatan esselon di kabupaten terujung Kalbar. Mawar merasa iri ketika membandingkan suaminya dengan Judi yang jauh lebih sempurna.

Tapi apa daya. Jodoh pula yang membuat mereka tidak bersatu dalam bingkai pernikahan. Setelah selesai kuliah di salah satu universitas di Pontianak, Judi pulang kampung dan tak pernah kembali lagi. Komunikasi mereka terputus. Dan ketika ketemu Mawar, Judi telah jadi orang sukses.

Rasa cinta Mawar tak terperi. Hari-harinya selalu dibayangi wajah tampan Judi. Setiap saat, rasanya ingin selalu bersama Judi. Namun karena jarak, Mawar hanya bisa mengurungkan rasa itu. Mawar hanya bisa mengobati rasa rindunya, dengan mendengar suara Judi via HP. Inilah yang dilakukan Mawar, saat Judi jauh darinya.

Saat ada kabar, bahwa Judi akan turun ke Pontianak, bukan main senangnya hati Mawar. Rasa rindunya akan terobati. Mimpi-mimpi buruknya bersama suami di rumah akan hilang. Seminggu dalam sebulan keberadaan Judi di Pontianak, adalah waktu yang tak boleh disia-siakan Mawar. Dia harus benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut bersama Judi.

Tak terasa, cinta gelap Mawar dan Judi telah berjalan dua tahun. Wow.

Berkali-kali istri Judi curiga dengan tabiat suaminya. Tiap bulan Judi harus turun ke Pontianak, dengan alasan kegiatan dinas. Bahkan kadang, dua kali dalam sebulan. Namun karena Judi punya berjuta alasan, kecurugiaan istrinya tertutupi dengan perhatian dan sikap romantisnya.

Tak salah. Judi memang tipe pria romantis. Tutur bahasanya lemah lembut. Dia tak pernah kasar dan sangat perhatian dengan istrinya. Dan sikap ini tak penah berubah di mata istrinya. Mungkin ini pula yang membuat istri Judi yakin, bahwa hati suaminya masih utuh miliknya.

Sementara, di balik semua itu. Ada sosok wanita lain yang selalu merindukan dan menati kehadiran Judi. Setiap bulan Judi harus membagi kasihnya buat wanita simpanannya. Judi harus rela menguras energi. Menghabiskan uang demi menjumpai selingkuhannya. Dialah Mawar, kekasih gelap Judi.

Betapa terkejutnya Judi. Tiba-tiba Mawar bicara telat satu bulan. Jeng..jeng…

Hasil pemeriksaan bidan dengan test pack, ia positif hamil. Mawar pun menunjukkan hasil tes tersebut ke Judi. Padahal Mawar sudah cukup hati-hati agar tidak hamil. Menggunakan alat kontrasepsi. Dia pun tak menduga, bisa bocor begini. Mungkin Tuhan berkehendak lain atas garis hidup Mawar, yang tak mungkin bisa Mawar bantah.

Judi sempat terdiam sesaat. Hatinya benar-benar galau. Rasa bersalah dan penyesalan pun datang. Raganya seperti tersambar petir. Dia hanya bergumam. Lidahnya serasa kelu. Takut khalayak akan tahu. Karena Judi adalah pejabat publik. Ini perasaan Judi yang bisa Mawar tafsirkan.

Mawar terus berujar. Dia meminta agar Judi menikahinya. Judi sempat berkilah. Bisa saja itu janin suami Mawar sendiri. Namun Mawar bersumpah, Selama berhubungan dengan Judi. Bahkan sudah berjalan dua tahun. Mawar tidak pernah disentuh suaminya. Karena hubungan Mawar dengan suaminya, antara ada dan tiada.

Untuk meyakinkan Mawar, Judi berjanji akan menikahinya. Namun setelah ia pulang dari kampung halamannya. Kemudian akan datang dan menikahi Mawar. Mawar yang sedikit lugu ini, langsung percaya saja. Mungkin karena Ia terbuai dengan tatap Judi yang teduh.

Ini merupakan malam keempat Judi di Pontianak. Malam ini malam terakhir. Karena besok Judi harus pulang ke kota asalnya. Sejenak mereka melupakan masalah yang mereka hadapi. Malam ini, waktu benar-benar mereka habiskan berduaan di hotel berbintang 4. Malam itu, dunia seakan milik mereka berdua. Manusia lain di di planet ini mungkin dianggapnya alien.

Mawar tak menyangka, malam itu merupakan malam terakhir ia bersama Judi. Nomor HP Judi tak aktif lagi ketika dihubungi. Sementara, semakin hari perutnya semakin membesar. Rasa gundah-gulana pun berkecamuk di dada. Takut akan ancaman suami dan cacian keluarga.

Mawar mencoba mendatangi tempat tinggal Judi. Satu hari satu malam waktu dihabiskan di jalan, demi menemui orang yang telah membuat perutnya tak langsing lagi. Sesampai di kota tujuan, Mawar langsung beraksi. Mejajaki tempat satu ke tempat lain. Seminggu lebih ia kesana-kemari. Namun, tak ada satu pun yang tahu alamat Judi. Alamat yang Judi berikan alamat palsu. Sementara, keuangannya semakin menipis.

Akhirnya Mawar sadar, bahwa benar-benar telah tertipu. Berkali-kali ia memaki Judi dan dirinya. Namun itu tak bisa merubah keadaan. Laki-laki yang dikaguminya ternyata buaya darat, buaya buntung, buaya keselak, buaya penyauk. Dan dia kembali ke Pontianak dengan membawa harapan hampa.

Dada Mawar terasa sesak. Tak ada teman tempat ia mengeluh dan meluapkan emosinya. Rasa malu terus berkecamuk. Dia hanya bisa menangis dan menangis, meratapi kesalahannya. Murung dan berdiam diri di rumah. Dia tidak berniat lagi mencari Judi. Mawar pasrah, apapun yang akan terjadi padanya. Ini resiko yang harus ia terima.

Hanya penyesalan dan penyesalan yang bisa dirasakan Mawar. Kenapa mudah termakan rayuan Judi? Kenapa tertipu dengan ketapanan dan kelembutan Judi? Mengapa harus melakukan perbuatan sekonyol ini? Kenapa tidak terlalu jauh tahu tentang latar belakang Judi?

Yang ditahuinya, bahwa Judi orangnya baik, ganteng, lemah-lembut dan ramah. Mawar hanya tahu, Judi pejabat di daerahnya, menurut pengakuan Judi. Dan yang Mawar tahu, bahwa telah jatuh cinta dan berkorban untuk Judi. Sehingga membuat hidupnya semakin terpuruk.

Suami Mawar yang dulu cuek, sekarang mulai menaruh curiga. Karena ia melihat bentuk fisik Mawar tak seperti biasa. Perutnya besar. Jika Mawar hamil, siapa yang menghamilinya? Sementara, sang suami merasa, sejak lama tak pernah menyentuh Mawar.

Kondisi ini membuat Mawar semakin tertekan. Dan akhirnya Mawar buka mulut juga. Sontak saja suami naik pitam. Mawar yang merasa bersalah, hanya bisa pasrah saja. Keputusan suami harus meninggalnya dalam keadaan hamil, harus Mawar telan kendati pahit. Mawar pun harus merelakan kedua anaknya dibawa suami pulang ke kampung halamannya. Tentu sulit bagi Mawar menjenguk anak-anaknya setiap saat. Sebab jaraknya begitu jauh dari tempat tinggal Mawar.

“Kenapa aku harus menghiati suami dan anak-anakku? Sehingga aku harus kehilangan mereka yang aku cintai? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” sesal mawar memaki dirinya.

Hanya karena kepuasan sesaat. Hanya karena cinta semu dan sesat, Mawar kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Harus kehilangan keluarga, menanggung aib, dan hidup dalam lumuran dosa.

Mawar merasa, ini merupakan karma buatnya. Semoga suatu saat, ini bisa menjadi obat baginya. Agar ia bisa bertobat, lebih tegar dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.

Walaupun Mawar kembali ke rumah orangtuanya, hati Mawar terasa hampa. Biasanya, kedua anak tercinta menjadi teman setia saat di rumah. Kali ini Mawar harus kehilangan tangis dan canda anak-anaknya. Belum lagi Mawar harus menghadapi perangai bapaknya yang galak. Sang bapak sangat terpukul atas kasus yang menimpanya. Mawar pun harus menghadapi gunjingan tetangga. Cuma ibu, satu-satunya yang membuat hati Mawar sedikit tenteram.

Sambil menunggu bulan kelahiran anaknya, hari-hari Mawar diisi dengan bekerja membantu ibu dan khusu’ beribadah. Dia masih menyimpan setitik harapan, agar kelak kehidupannya lebih baik lagi. Dikaruniai anak yang shaleh/shaleha. Serta mendapatkan ampunan Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukannya.

Jika dulu Mawar selalu berpenampilan seksi. Kini ia telah menutup auratnya. Dia bertekad akan berhijab selamanya. Mawar merasa, hari-harinya dulu yang ingin tampil seksi di mata orang lain, menjadi petaka bagi kehidupannya. Inilah satu-satunya hikmah yang dapat Mawar petik dari musibah ini. Kendati itu terlambat.

Dalam upayanya melupakan Judi. Dalam rintih nafasnya, membawa beban yang ada diperutnya. Muncul sosok wajah yang ia kenal, terpampang di koran. Terlulis di keterangan foto, bahwa pejabat inisial J terlibat kasus korupsi di kota asalnya. Mawar sangat yakin, yang ia lihat di koran adalah Judi. Apa lagi inisialnya J.

Dengan seksama ia baca Koran hingga paragraf terakhir. Rasa benci, Sedih dan bersyukur berkecamuk jadi satu. Benci ketika mengingat Judi telah mengingkari janjinya, membuat hidupnya semakin terpuruk. Sedih ketika mengenang nasib keluarga Judi, pasca penetapannya sebagai tersangka. Bersyukur karena Tuhan telah membalas hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Terpikir di benak Mawar. Mungkin selama dua tahun Judi berhubungannya, telah banyak menggunakan uang dari hasil korupsinya. Karena, sebulan sekali. Bahkan kadang dua kali dalam sebulan, Judi turun ke Pontianak menemuinya. Pulang-pergi naik pesawat, nginap di hotel mewah, belanja barang-barang berharga buat Mawar, dan lain-lain.

Mawar jadi berpikir. Dari mana Judi bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Berapalah gajinya sebagai pejabat eselon sekelas Kepala Bidang (Kabid)? Kalau tidak dengan cara-cara yang tidak benar.

“Berarti, selama ini aku telah ikut menikmati uang hasil korupsi Judi? Tanpa aku sadari, aku telah bersekutu dengan kejahatan, menghianati masyarakat. Lengkap sudah dosaku. Oh Tuhan…. Ampuni hambaMu,” rintih Mawar dengan isak tangis.

Melihat kejadian ini, semakin kuat hati Mawar untuk tidak menganggu Judi. Bagi Mawar, cukuplah sudah musibah yang menimpa Judi. Sebagai peringatan dan hukuman dari Tuhan. Kelak, ketika anaknya lahir, biarlah menjadi tanggung jawab Mawar merawat, membesarkan dan mendidiknya. Karena Mawar merasa, musibah yang menimpanya, merupakan karma atas perbuatannya pula.

Apakah cerita Mawar ini, efek dari siaran televisi yang banyak tidak mendidik atau ada faktor lain yang memicunya? Entalah! Yang pasti, televisi berpengaruh besar dalam merubah pola pikir manusia. Tontonan yang tidak memberikan tuntunan, bak bom waktu, yang menunggu kapan waktunya akan meledak.

Infotaiment misalnya. Saban waktu, kita disuguhkan berita artis nikah cerai dan selingkuh. Layar kaca kita, seakan hanya pantas untuk tayangan tersebut. Setiap stasiun televisi swasta berlomba-lomba memprogramkan tayangan ini. Wajar bila ini memberikan efek negatif bagi penikmatnya. Kerena, setiap hari, setiap waktu kita dijejali dengan berita ghibah. Belum lagi efek dari sering menonton video porno.

Selingkuh seperti tren masa kini. Ada anggapan sebagian komunitas masyarakat, bahwa selingkuh hal yang biasa. Bahkan seperti topik menarik, layaknya hiburan baru di dunia penuh impian. Tak ada rasa ragu, tak ada rasa malu. Kerana bagi penikmat dunia ini, selingkuh bukanlah sesuatu yang aib. Semoga ini tidak terjadi pada diri kita, lebih khusus penulis. Amin.

Posted on 5 Februari 2015, in cerkong and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: