Pandangan Sempit Kelompok Eksklusif


*Menyikapi dan Meluruskan

wahabi

Di Kabupaten Kayong Utara akhir-akhir ini banyak kelompok eksklusif yang memiliki pemahaman sempit terhadap hukum Islam dalam memahami masalah furu’iyah (perbedaan). Sebagaimana diketahui tradisi bagi masyarakat merupakan warisan yang sangat kental, seperti ber-tawassul (perantara) kepada Nabi Muhammad SAW, pujian (shalawat) sebelum adzan atau pujian setelah adzan sebelum iqamah, dzikir setelah berjamaah shalat fardhu, kelompok shalawatan (gema shalawat), ruwahan (tradisi di bulan Sya’ban), upacara tahlil atau pelaksanaan tahlil selama tujuh hari setelah kematian, pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, ziarah kubur, talqin mayit, membaca surah tertentu dari Alquran di makam ketika mayit sudah dikuburkan, membaca Alquran yang dikhususkan kepada mayit.

Kesemua praktek kerohanian dan lain sebagainya tersebut telah menjadi adat. Namun dituduh oleh kelompok eksklusif sebagai syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) dan bid’ah (berbuat sesuatu yang baru di luar syari’ah).

Menurut kelompok eksklusif, amalan yang bersumber ‘Urf (adat) dicari argumentasinya melalui dalil-dalil syara’ (hukum) tidak ada, bukankah adat positif yang justru dibenarkan oleh Islam?

Mereka menganggap karena di zaman Nabi tidak ada seperti itu, maka haram orang zaman sekarang mengadakan segala hal yang di zaman Nabi tidak ada sehingga pelakunya divonis Takfir (kafir) dan menyesatkan.

Perbedaan furu’ lainnya antar madzhab dianggap pertentangan yang tak bisa dikompromi dan mungkin digauli secara kaku hingga menimbulkan permusuhan.

Namun, sebenarnya dapat dimaklumi bila masyarakat pada umumnya sudah mengamalkan tradisi tersebut. Dan tidak ada dalil-dalil yang melarang secara khusus terhadap tradisi yang dianggap baik bagi kaum muslimin maupun bagi Allah, sehingga perbuatan-perbuatan tersebut dapat dibenarkan dalam Islam, sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud: “Apa yang menurut kaum muslimin baik, maka baik pula bagi Allah SWT.”

Begitu juga dalam Qawaid Al-Fiqhiyyah (kaidah-kaidah fikih) seperti pada kaidah yang ketiga, “Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum.” Artinya dapat kita pahami bahwa tradisi (kebiasaan) di masyarakat bisa menjadi ketetapan hukum.

Dengan kita banyak membaca buku dan kitab-kitab karangan ulama klasik, sholeh, dan ikhlas, di mana ilmunya tidak diragukan lagi, akan memberikan pengaruh jiwa kepada kita untuk tidak mudah mengkafirkan atau menuduh orang lain melakukan perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan bid’ah. Karena seorang yang menganggap dirinya Muslim, sangat tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain yang telah mengucap kalimat tauhid (syahadat).

Hal ini telah disebutkan dalam sebuah Hadits Shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka tuduhan itu akan menimpa salah satu dari keduanya, jika tuduhan itu memang benar, maka tuduhan itu akan mengenai orang yang dituduh, kalau tuduhan itu tidak benar maka tuduhan itu akan kembali kepada yang menuduh.” (Hadits Riwayat Imam Muslim)

Jika mengkafirkan seorang Muslim saja berakibat pada dosa yang besar, lalu bagaimana dengan pengkafiran yang dituduhkan pada sekelompok Muslimin yang terbanyak dan menuduh berbuat syirik, hanya dikarenakan mereka melakukan tawassul dan tabarruk (memohon berkah) dengan atsar orang-orang yang shaleh? Kemudian dituduh bid’ah terhadap pelaku tahlil, ruwahan sebagai tradisi lokal mayarakat Kayong Utara ketika di bulan Sya’ban atau tradisi-tradisi yang lainnya?

Untuk memahami hal ini semua, Imam Syafi’i berkata: “Sesuatu yang baru dan itu bertentangan dengan Alquran atau sunnah atau ijma’ (kesepakatan ulama) atau atsar (riwayat) maka dinyatakan bid’ah dhalalah (sesuatu baru yang menyesatkan). Dan apa yang diadakan daripada kebaikan dan tidak bertentangan sedikitpun daripada itu semuanya maka itu adalah perbuatan terpuji. ”

Oleh karena itu, sebaiknya kita harus tafahum (saling memahami) antara furu’ dan tidak sembarangan mengkafirkan sesama Muslim yang melaksanakan praktek tradisi-tradisi tersebut oleh kelompok tertentu sebagai syirik dan bid’ah.

Dan bagimasyarakat, sebaiknya harus waspada terhadap pemahaman kelompok eksklusif dan tetap mempertahankan tradisi yang dianggap baik selama tidak bertentangan dengan syara’. (Rudiansah SHI)

Posted on 31 Januari 2015, in Warta Umat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: