MWC NU Simpang Hilir, Dari Dahan Merambat ke Ranting


ummat--Dari Dahan Merambat ke Ranting--ok 2014

Kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan modern pada tahun 1926 yang diprakarsai KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah, merupakan suatu jawaban atas tuntutan pergerakan kebangsaan dan perjuangan merebut kemerdekaan. Kelompok ulama yang tadinya hanya berkelompok secara tradisional, merasakan kebutuhan bahwa perjuangan hanya bisa dilakukan dengan organisasi modern yang kuat dalam melawan kolonialisme.

Tapi yang membuat NU menjadi berbeda adalah kumpulan ulama dan pengikutnya yang telah bersama-sama mempraktikkan ajaran Islam sejak masuknya agama terbesar di Tanah Air itu, telah lahir dan menyatu. Basis umat sudah terbentuk jauh sebelum organisasi formalnya. Jadi bolehlah dikatakan tahun 1926, tonggak transformasi dari tradisionalis ke modernisasi gerakan ulama dan umat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah secara spiritual.

Kini di Kayong Utara, secara utuh NU telah lahir bersamaan dengan berdirinya Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2007, namun secara kultural tradisi NU sudah jauh-jauh hari dilakukan masyarakat. Saat ini secara struktural dengan pelan namun pasti, NU secara struktural merambat hingga ke kecamatan dan ranting ranting perdesaan.

ummat--Dari Dahan Merambat ke Ranting--ok

Organisasi Nahdhatul Ulama (NU) selalu siap mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah telah membuktikan NU selalu ada dalam cacatan berdirinya bangsa dan negara Indonesia ini. Demikian dikatakan Sahli, Ketua Syuriah MWC NU Kecamatan Simpang Hilir, saat pertama kali mengawali acara pembentukan ranting di Desa Teluk Melano untuk wilayah Kecamatan Simpang Hilir.

Secara tersirat Sahli mengungkapkan, sebelum negara dan bangsa Indonesia diproklamirkan warga NU telah lebih dulu menyatakan tekadnya untuk bersatu dalam sebuah wadah kenegaraan. “Sebelum negara ini diproklamirkan NU telah bersepakat untuk bersatu dalam sebuah wadah bangsa dan negara. Sejak saat itulah ulama-ulama NU bahu-membahu mengusir penjajah dari Indonesia. Jadi kalau ada orang masih mempertanyakan NU dalam mempertahakan NKRI adalah orang yang kurang memahami sejarah,” tandasnya.

Ketua Tanfidhyah yang masih tergolong muda MWC NU Kecamatan Simpang Hilir, Miftahul Jawad menyatakan setelah pembentukan ranting untuk Desa Teluk melano, masih ada beberapa agenda lagi yang menunggu, yakni pembentukan ranting di semua desa untuk wilayah Kecamatan Simpang Hilir. Namun untuk tahun 2014 ini sepertinya hanya lima desa saja yang tergarap, yakni desa Teluk Melano, Medan Jaya, Rantau Panjang, Penjalaan, serta Mata-Mata.

“Untuk desa yang lain mungkin pembentukannya akan menyusul pada tahun 2015 mendatang. Untuk ini saja kami kewalahan membagi waktu dan keuangan, sebab pembentukan ranting ini dilakukan satu minggu sekali di setiap desa,” tegas Jawad sapaan akrabnya.

Menurut Jawad, tujuan dari pembentukan setiap ranting kepengurusan NU ini, membangun komunikasi serta mempererat tali silaturahmi. “Ke depannya lebih mudah mengkoordinir adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat keagaamaan, sebab kita saat ini lebih mengarah pada pembangunan sistem dan manajemen, sebab sampai saat ini kalangan Nahdliyyin masih banyak dikenal sebagai kaum abangan. Maka dari itu bagaimana kita mewujudkan supaya NU secara struktural bisa hidup dan berjalan dengan baik,” kata Jawad.

Untuk saat ini sudah ada beberapa ranting MWC NU Kecamatan Simpang Hilir yang terbentuk, pertama kali pembentukan ranting diadakan di desa Teluk Melano pada 21 November 2014. Terpilih sebagai Rois Syuriyah adalah Raden Asbun, Tanfiziyah adalah Slamet.

Satu minggu berselang acara pembentukan di desa Medan Jaya pada 1 Desember 2014. Terpilih sebagai Rois syuriah ustadz Abdul Qirom, Tanfidiyah terpilih Abdulloh.

Memasuki 7 Desember 2014 di desa Rantau Panjang, terpilih sebagai Rois Syuriah ustadz Sukino SPdI, Tanfiziyah Anwar Anshori. Untuk desa yang lain masih dalam tahap proses konsolidasi dan penjadwalan. (MIFTAHUL HUDA)

Posted on 16 Januari 2015, in Warta Umat and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: