Sumardi dan Pasukan Penjaga Pulau Penebang Karimata


umardi dan Pasukan Penjaga Pulau Penebang crew mancing tembakol 2014

*Walau Tanpa Perhatian dan Digaji Mereka Tetap Mengabdi.*

Pulau Penebang terletak di wilayah Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Sebelah utara Pulau Penebang berbatasan langsung dengan Desa Dusun Besar, Kecamatan Pulau Maya. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan pulau Pelapis, sementara di kiri dan kanan pulau Penebang diapit oleh lautan lepas, serta dikelilingi pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni.

Luas areal pulau Penebang ini kurang lebih 20 ribu hektar. Pulau induk yang berpenghuni sendiri ada di wilayah Teluk Labuhan Haji. Hanya kurang lebih sembilan kepala keluarga (KK) yang menghuni pulau sebesar itu.

Di balik keindahan dan kekayaan alam laut serta darat, pulau penebang di sisi lingkungan memendam kisah dramatis, mengenai bagaimana perjuangan beberapa orang yang dikepalai salah seorang pengkeras pulau Penebang, bernama Sumardi.

sumardi dan Pasukan Penjaga Pulau Penebang tahun 2014

Sumardi bersama sembilan KK yang ada di pulau Penebang adalah penjaga alam sekitar pulau penebang. Mereka saling bahu-membahu menjaga keutuhan alam laut dari jamahan tangan-tangan nakal yang tidak bertanggungjawab. Sebab mereka memahami dan mengerti bahwa sesungguhnya kerusakan alam yang diakibatkan, juga akan berpengaruh bagi keberlangsungan hidup mereka yang juga mengandalkan hasil laut.

Tak jarang mereka harus main kucing-kucingan dengan kapal dari luar daerah yang melakukan aktivitas terlarang di areal laut pulau Penebang, menggunakan alat tangkap yang merusak laut. Tak jarang pula mereka juga harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk hal itu. Keterbatasan alat mereka terkadang menjadi faktor penentu kekalahan telak manakala mereka tak berdaya mengejar kapal canggih, sementara mereka hanya bisa mengejar dengan mesin berkekuatan Dompeng yang lajunya tidak seberapa.

Sebagai pemimpin pasukan, Sumardi yang usianya kini sudah menginjak 50-an tahun. Tak pernah sedikitpun merasa gentar dan takut atas apa yang ia lakukan untuk menjaga alam Penebang. Toh selama ini perhatian pemerintah padanya juga adem-adem saja.

Kerap kali Sumardi mengubungi petugas patroli atau dinas instansi terkait apabila sudah kewalahan mengahadapi para penyusup, namun jawaban mereka selalu saja menyerahkan padanya kembali.

umardi dan Pasukan Penjaga Pulau Penebang 2014

Sebenarnya bukan tugas utama Sumardi menjaga keamanan laut, apalagi dirinya juga bukanlah nelayan. Ia saat ini tinggal di Desa Dusun Besar, Kecamatan Pulau Maya. Anak istrinya sudah menetap di sana. Namun Sumardi merasa bahwa pulau Penebang merupakan tempat kelahirannya. Lagi pula Sumardi diamanatkan Datok dan almarhum ayahnya untuk menjaga pulau tersebut. Tak heran jika hari-harinya tinggal di pulau Penebang, sebagai wujud komitmenya untuk menjalankan tugas sebagai penjaga pulau.

Suparto, 34 tahun, salah satu dari sekian pasukan yang juga setia ikut menjaga pulau Penebang. Pria berambut panjang ini mengaku setiap kali jika melaut, selalu saja memberikan informasi pada Sumardi kalau penyusup beraktivitas terlarang di laut Penebang. Hal demikian juga di lakukan para nelayan lain, dan semua muara komandonya ada pada Sumardi.

Biasanya jika sudah ada laporan penyusup melakukan aktivitas penangkapan terlarang, Sumardi pun beraksi. Tak jarang sendirian turun mengejar si penyusup tersebut. Mental pria bertubuh gelap tinggi berambut panjang kuncir, bermata merah ini, cukup membuat nelayan penyusup yang melakukan aktivitas terlarang ciut.

Tak jarang para penyusup di gelandang ke Teluk Labuhan Haji untuk diadili dengan adat mereka. Setelah mereka di hukum adat maka mereka dipulangkan dengan janji tidak mengulangi kembali aktivitas terlarang yang merusak alam.

Larangan yang paling tidak boleh di lakukan oleh para nelayan di sana, adalah memakai pukat troll mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang tempat ikan bersarang, serta membunuh ikan-ikan kecil. Pukat ini sangat merusak sebab menggerus habis hingga ke lapisan tanah bawah.

Larangan berikutnya, memakai bubu. Jebakan ikan ini lazim di gunakan. Namun di areal laut Penebang ini mereka tak memperbolehkan, sebab bubu yang dipasang juga merusak terumbu karang. Terkadang pula di dalam bubu tersebut di pasang racun sehingga mencemari areal laut, mengakibatkan kematian pada banyak biota laut.

Larangan paling tidak boleh berikutnya, menangkap ikan memakai bom. Biasanya bom banyak dirakit manual dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan. Hal ini sangat dilarang sebab sangat merusak karang dan biota bawah laut, serta hal-hal lain yang dilarang karena juga dinilai merusak.

Aturan lain yang mereka terapkan juga adalah mengenai area tangkapan berdasarkan besaran kapal, dan alat yang digunakan. Menurut Sumardi apabila kapal besar dengan peralatan sedang, tidak boleh menangkap ikan di areal nelayan kecil yang hanya bisa dekat dengan areal pulau, sebab para nelayan kecil memakai kapal klotok atau sampan motor tidak bisa jauh dari pulau karena gelombang laut yang tinggi.

Sumardi tidak melarang nelayan manapun untuk mencari rezeki di areal laut Penebang, namun dengan catatan mereka harus menaati peraturan yang sudah diterapkan.

Dengan kehidupan yang sederhana dan sabar, para nelayan pulau Penebang hidup bergantung dari apa yang telah mereka jaga. Prioritas penghidupan mereka adalah dengan mencari ikan Talang (tangkapan primadona untuk ekspor).

Ikan Talang ini sangat bergantung dengan kondisi alam yang baik. Pernah suatu saat mereka sulit mendapatkan ikan Talang. Penyebab utamanya adalah karena alam laut yang saat itu mulai rusak. Namun mereka belum terlambat, apa yang mereka lakukan, kekompakan mereka untuk menjaga alam membuahkan hasil, setiap tahun mereka tetap kembali bisa panen Ikan Talang sebagai ikan favorit untuk menjaga dapur mereka tetap mengepul.

Yang di lakukan oleh para pasukan penjaga pulau Penebang ini, cukup kiranya menjadi contoh nyata bagi pemerintahan kita. Bahwa yang namanya pengamanan pantai bukan hanya wacana di atas kertas sahaja. Apalagi wacana yang diproyekkan yang banyak menghambur-hamburkan uang, dipoles dengan nama yang muluk-muluk nan indah tapi tak pernah terealisasi.

Lihat saja misalnya dalam proyek lelang jasa konsultasi di LPSE Kayong Utara Tahun 2013, misalnya ada beberapa item pekerjaan perencanaan yang mencolek tentang kegiatan pengamanan pantai dan Kepulauan Karimata. Tapi apa realisasinya? Ya semoag saja bisa menggantikan atau sepaling tidak nantinya dapat memperingan tugas orang orang yang ikhlas, seperti Sumardi dan pasukannya. (MIFTAHUL HUDA)

 

Posted on 7 Januari 2015, in lingkungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: