KRPL Sekar Sari: Membangun Kemandirian Bersama


eko siswanto di medan jaya 2015  ok

Desa Medan Jaya- Kecamatan Simpang Hilir – Kabupaten Kayong utara memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal khususnya untuk pengembangan pertanian  yang meliputi tanaman pangan dan holtikultura, perikanan dan peternakan. Ketersediaan pangan merupakan kebutuhan mutlak. Ke depan, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk pekarangan, dalam menyediakan pangan bagi keluarga.

RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Apabila RPL dikembangkan dalam skala luas, berbasis dusun (kampung), desa, atau wilayah lain yang memungkinkan, penerapan prinsip Rumah Pangan Lestari (RPL) disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Selain itu, KRPL juga mencakup upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dan lainnya), lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil.eko siswanto di medan jaya 2015

Di jelaskan oleh penyuluh lapangan desa Medan jaya bahwa Prinsip dasar KRPL adalah:, (i) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, (ii) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, (iii) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), dan (iv) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa menuju (v) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kehadiran KRPL Mekar sari di bawah binaan penyuluh lapangan dari dinas ketahanan pangan, memberikan efek positif baik secara psikologis bagi masyarakat medan jaya yang kebanyakan sebagai petani maupun dampak positif secara ekonomi. kehadiran KRPL yang berada di desa medan jaya ini bisa di katakan lain dari pada yang lain. Di sini tata kelola dan manajemennya terasa lebih baik. hal ini dapat di buktikan dari tampilan secara fisik di setiap rumah yang mana terssusun rapi pagar dan di dalamnya betul betul terdapat tanaman yang bermanfaat.

Selain peranan penyuluh hal utama di medan jaya yang menjadi pengikat dan semangat para masyarakat membuat KRPL ini adalah keteladanan daro sosok seorang Guru di MTsN simpang hilir, yakni Eko Siswanto, selain berrofesi sebagai guru ia juga sebagai Ustadz sekaligus bermasyarakat dan dalam kesehariannya ia menekuni tani dan kebun sejak tahun 2009. Pada Mulanya Ustadz Eko (sapaan akrabnya), merasa prihatin dengan kondisi yang ada di sekitar, yang mana pada saat itu lahan banyak kosong dan gersang, sehingga yang ada hanya rumput rumput liar dan tanaman yang tak terawat.

Dengan niat yang sungguh sungguh di sertai ikhtiar ustadz eko dengan modal tenaga dan sedikit uang ia mulai berkebun dan bercocok tanam. Karena backroundnya orang terpelajar maka segala sesuatu sudah ia hitung dengan matang. selama ini ia mengaku sudah banyak mendapatkan hasil dari bercocok tanam tersebut. di samping nilai ekonomi, nilai keindahan dan estetika juga di miliki oleh pria berusia 40 an tahun ini. terbukti pekarangnnya yang tertata rapi serasa sejuk asri dan nyaman. Padahal dulunya tanah itu tandus dan gambut serta sulit di tanami, namun saat ini ustadz eko dengan kegigihnannya berhasil memberikan percontohan bagi masyarakat sekitar, bahwa dnegan bertani dan berkebun seungguhnya kita bisa menapaki masa depan.

Maka tak di pungkiri, itulah yang menjadi motivasi utama para warga masyarakat melakukan aktivitas berkebun supaya lebih giat kembali. Di tambah masuknya program KRPL dari dinas ketahanan pangan justru membuat nilai tambah tersendiri. Terhitung ada 30 anggota dari kelompok yang di perbantukan mendapatkan progra KRPL, total dana yang di berikan kepada setiap orang adalah 400 ratus ribu. Total bantuan yang di berikan sebanyak 25 juta dalam satu kelompok, namun tidak semua dalam jumlah uangg kas, misal saja untuk keperluan pembuatan pagar bibit, pupuk dan lain lain sudah terakumulasi di dalam hitungan 25 juta tersebut.

Munurut Arimi 50 tahun, salah seorang anggota kelompok yang mebndapatkan program KRPL merasa bersyukur dengan di perbantukannya ia dan warga yang lain. Hal ini menambah semangat dirinya yang memang sudah menjadi petani sebelum program ini ada. Ungkap Arimi saat di temu wk di kebun ustadz eko saat memetik buah cabe.

Di jelaskan oleh Munawwaroh 28 tahun, yang juga salah satu anggota kelompok sekar sari, jikalau hasil penjualan dari kelompok tani uangnya untuk saat ini tidaklah di bagi bagi, namun akan di berdayakan kembali untuk keperluan pembelian bibit dan lain sebagainya, namun jika yang KRPL pribadi itu terserah mau hasilnya dikonsumsi sendiri juga tidak masalah ungkap munawaroh.

Diharapkan dengan adanya program KRPL melalui kelompok tani mapun masayarakat, dapat kiranya bermanfaat guna menopang perekonomian dan membangun ekonomi mandiri.

(MIFTAHUL HUDA)

Posted on 6 Januari 2015, in ekonomi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: