Kisah Nyata: ZAINI EDREF, Gurunya Para Guru dari Tanah Kayong


???????????????????????????????

 

Foto : Zaini berfoto bersama para murid muridnya pada tahun 2005

*Mencari Spirit yang Hilang dari Alm Muhammad Zaini Edref (1934-2011)**

Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kayong Utara (KKU), mesti bangga memiliki seorang guru, yang layak di sebut “Guru dari Para Guru” yang bernama Muhammad Zaini Edref.

Ia sangat tenar, terutama di kalangan aktivis Praja Muda Karana (Pramuka). Bahkan Ia di tetapkan sebagai pejuang perintis Pramuka ketika masih zaman Kabupaten Ketapang (daerah induk KKU dahulu). Sehingga setiap tahun para anggota pramuka selalu melakukan ziarah Kubur ke pemakamannya, berikut bersama makam istrinya (almarhumah Ismah) yang juga mendapat gelar pahlawan perintis Pramuka.

Penghargaan yang pernah ia dapat di Pramuka adalah Anugrah Pancawarsa V, dan pelatih nasional gerakan Pramuka dari pemerintah pusat. Di bidang pendidikan Ia mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan di era masa pemerintahan Orde Baru masih zaman Kabupaten Ketapang. Namun semua penghargaan itu tak lantas membuat ia sombong dan berhenti di tempat. Bahkan sampai pensiunpun ia tetap terus mengabdi pada bangsa dan negara ini.

Selain dikenal di dunia pendidikan dan ke-Pramukaan, nama Zaini Edref juga harum di lingkungan para budayawan serta penggiat seni budaya lokal di Kayong Utara. Sekalipun Ia bukan keturunan bangsawan, namun kecintaannya terhadap seni budaya lokal sangat terasa, terutama Ia mencintai budaya Pencak Silat Melayu.

 

Dalam berbagai even Ia sering pula tampil atraksi membawakan pencak silat Melayu, baik even pernikahan maupun acara ceremonial pemerintahan. Bahkan sampai usianya sudah tua ia tetap berusaha tampil dengan tujuan melestarikan budaya Melayu serta memberi contoh pada kawula muda saat ini. Terakhir, Ia tampil yakni pada event Festival Budaya Keraton Simpang Matan pada Agustus 2009.

alm zaini duduk paling depan sedang memegang topi korpri pada tahun 1980 an

 

Foto alm zaini duduk paling depan sedang memegang topi korpri pada tahun 1980 an

Meniti karier

Muhammad Zaini Edref, Lahir di desa Pulau Kumbang pada tahun 1934 dari tiga bersaudara. Pada usia 20 tahun, Ia tamat dari Sekolah Guru Bangsa (SGB), pada saat itu setara dengan Sekolah pendidikan guru (SPG), jika sekarang SMA/SMK.

Ia kemudian mengawali karirnya pada tahun 1954 sebagai guru yang ditugaskan oleh pemerintah pusat di daerah Menyuke, sekarang bernama Daret, yakni daerah di Kabupaten Landak.

Di Menyuke itulah, Ia mempersunting gadis anak seorang camat yang juga mantan siswanya saat SMP. Ia akhirnya menikah dengan Ismah pada tahun 1966.

Gaji guru pada saat itu sangat minim, dan hampir hampir tidak pernah ada orang yang mau menjadi Pegawai pada saat itu, sebab pekerjaan swasta/bertani/berladang dinilai lebih menghasilkan ketimbang menjadi guru atau abdi pemerintah lainnya. Apalagi Zaini muda saat itu sudah tidak lagi lajang, Ia sudah beristri, dan sebentar lagi akan dikaruniai buah hati, namun gajinya tidak pernah mencukupi.

Hal lain yang Zaini muda lakukan guna mencukupi keperluan ekonomi adalah bertani ladang yang menumpang di tanah orang. Beberapa tahun kemudian Ia dikarunia anak pertama, namun sayang tidak bertahan lama lalu meninggal. Dengan penuh kesabaran Zaini muda yang tinggal di perumahan guru terus saja menapaki kehidupan bersama istri tercintanya dengan penuh ikhlas dan semangat pengabdian.

Meskipun dengan berbagai kekurangan Zaini muda yangmemiliki semangat dan mental baja tidak pernah menyerah dengan keadaan. Semangat pendidikannya memang menggelora, jiwa patrotisme dan nasionalismenya sulit tertandingi.

pelantikan raja simpang matan 8 Zaini main silat

Foto Zaini sedang melakukan atraksi pencak silat saat pelantikan raja simpang matan tahun 2008

Di luar kegiatan belajar mengajarnya ia masih saja mendedikasikan dirinya untuk para siswa, yakni dengan kegiatan Pramuka dan ekstrakurikuler. Kendati ia juga masih kekurangan, namun  ia juga kerap berbagi pada siapapun yang memrlukan pertolongannya.

Pada sekitar tahun 1973, Zaini muda pindah ke Teluk batang, saat itu ia sudah memiliki dua buah hati yang masih kecil. Di teluk batang kembali ia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan secara totalitas. Ia masih tinggal di perumahan guru. Dan saat itu ia pernah pula mendirikan sekolah SMP swasta di teluk batang yang dinamai SMP Candra Dimuka. Tepatnya di Desa sungai Padauan pada tahun 1975.

Kemudian Pada tahun 1978, Zaini muda pindah tugas ke Ketapang, saat itu istrinya (Ismah), juga sudah menjadi guru. Di Ketapang, Ia pernah beberapa kali pindah juga, yakni di Sukabangun, Kali Nilam, kampung Tuan-tuan, dan Desa Kauman.

Perpindahan terakhirnya yakni pada tahun 1986, yang mana pada saat itu ia pindah ke Teluk Melano, dan bertempat di perumahan guru SD 4 jalan PLN Teluk Melano, saat ini SD 02. Saat itu Zaini bukan lagi guru, namun sudah menjadi penilik sekolah atau pengawas, sedangkan istrinya (Ismah), menjadi kepala sekolah.

Zaini dan Ismah dikaruniai enam orang putra dan putri dengan kehidupan yang masih sederhana. Zaini dan Ismah terus berjuang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan. Ia tidak pernah berpikir untuk memiliki rumah sendiri, atau kendaraan mewah. Satu satunya kendaraan adalah inventaris dari pemerintah. Setelah aktivitas wajib mengajar ia selalu saja sibuk mengisi kegiatan luangnya dengan kegiatan Pramuka.

Bahkan hampir setiap hari sekolah sekolah yang dapat dijangkau, Ia datangi untuk di berikan pembinaan Pramuka. Ia melakukan itu semua tanpa motif ekonomi, semangat berbagi dan jiwa pendidiknya benar benar terpatri di dalam dirinya.

Zaini akhirnya pensiun pada tahun 1994, menjelang pensiun Ia menjabat sebagai Kakandep (Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), wilayah kecamatan Simpang Hilir selama satu tahun. Setelah pensiun bukannya menikmati masa istirahat di hari tuanya, namun justru malah semakin menggebu-gebu mengabdi di dunia pendidikan.

tauladan--Kisah Guru dari Para Guru--ok zaini bangunan aliyah melano kayong utara masa lalu warta kayong

Hingga akhir nafas

Bara semangat mendidik di dalam jiwa zaini tak pernah padam, di usianya yang sudah uzur, Ia bersama almarhum H Salim (tokoh agama Simpang Hilir), mendirikan sekolah tingkat SMA pada tahun 1996. Sekolah itu dinamai Madrasah Aliyah Swasta Attaqwa, bangunan sekolah menumpang di gedung bekas pelaksanaan MTQ tingkat Kabupaten pada tahun 1995 di lapangan bola Kecamatan Simpang Hilir.

Untuk menutupi biaya operasional sekolah yang sering kekurangan, Zaini Edref berkorban menggunakan uang pensiun pribadinya untuk menghidupi sekolah. Maklum pada zaman itu BP3 atau yang lebih di kenal dengan SPP, jarang dibayar siswa. Namun demikian Zaini Edref tidak memaksakan siswa yang tidak membayar, bahkan untuk biaya pendaftaranpun setiap siswa masuk sekolah di gratiskan. Kebahagiaan Zaini, mana kala anak mau sekolah saja ia sudah merasa bersyukur.

Sekolah yang dirikannya bersama rekan-rekan, jauh dari predikat layak apalagi berprestasi atau favorit, sebab pada saat itu sekolahnya kerap menjadi pilihan terakhir setelah tidak ada lagi yang lain. Bahkan kerap kali sekolah Aliah swasta di kenal orang sebagai sekolah buangan. Maka wajar apabila banyak siswa/i yang bolos bahkan pulang sebelum waktunya.

Menghadapi ulah siswa yang nakal serta beragam ini, Zaini tua memiliki cara tersendiri. Setiap siswa yang misalkan pulang belum waktunya, di susul satu persatu untuk kembali sekolah. Bahkan pernah suatu saat, Ia menyusul siswa yang sudah pulang dari sekolah lalu pergi ke kebun. Kemudian bagi siswa yang malas sekolah, tak jarang Zaini tua mendatangi ke rumahnya.

alm ismah istri zaini sedang memimpin paduan suara pada tahun 1990

Foto : alm ismah istri zaini sedang memimpin paduan suara pada tahun 1990

Misalkan siswa tersebut beralasan tidak punya sepatu, Ia tanpa segan segan membelikannya. Hal tersebut kerap kali Ia lakukan. Bukan hanya satu atau dua kali ia merogoh sakunya untuk membelikan siswanya baju seragam atau sepatu bahkan keperluan yang lain. Semua dilakukannya tulus ikhlas tanpa pamrih.

Bukan hanya kepada siswa/siswinya diperhatiannya dan ringan tangan. Terhadap para gurupun Ia tetap memberikan perhatian ekstra. Menutupi keperluan pribadi guru dengan uang pribadinya sudah biasa, yang penting guru tersebut betah mau ikut mengajar di sekolah Aliah.

Memang rata-rata guru yang mengajar di sekolah itu hanyalah guru honorer yang tidak memiliki penghasilan cukup. Orientasi mereka bukanlah semata mata karena materi, mereka mengajar di sana hanya karena panggilan jiwa serta hati nurani.

Setiap hari Zaini selalu pergi ke sekolah menggunakan motor inventaris Jadul (jaman dulu) ketika masih bertugas. Hidupnya masih saja sederhana. Rumah pribadinya berukuran sangat mini. Cukuplah dengan dua kamar dan satu ruang tamu kecil. Hidupnya masih sangat sederhana, sebab dengan kesederhanaan itulah Ia dapat menemukan kebahagiaan. Dengan Ia mengajar di sekolah juga kebahagiaan lain yang tak dapat tergantikan.

???????????????????

Tak jarang zaini harus mengajar beberapa mata pelajaran di sekolah Aliah. Hal ini dilakukannya sebab kekurangan tenaga guru. Jujur saja sesungguhnya era tahun tahun itu para sarjana sudah banyak menjamur, para pendidik juga sudah banyak lebih. Namun sayang, tidak banyak di antara mereka yang memiliki jiwa semangat juang seperti Zaini. Sehingga banyak yang tutup mata dengan keadaan Zaini tua yang sudah renta namun masih mengajar.

Hitung-hitungan matematika mengajar di Aliah yang didirikan Zaini, memang tak memiliki masa depan, sebab bukan lagi hitungan pegawai honor yang disandangkan guru di sana namun hanya pada pangkat relawan pengajar saja. Maklum yang namanya relawan, tentu lebih banyak pengorbanan dari pada mendapatkan hak yang wajar sebagaimana pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai layak lainnya.

Karena usianya sudah tak lagi muda, fisiknya juga tak lagi kuat, ditambah lagi ingatannya juga semakin memudar, maka tak jarang Zaini tua sering lupa dengan nama nama siswanya. Bahkan kerap kali lupa dengan materi pelajaran yang akan disampaikannya. Ya, zaini tua saat itu sudah mulai pikun, bahkan suatu hari ada sebuah kejadian lucu yang hingga saat ini banyak orang yang sering membicarakannya.

Suatu ketika, Zaini mengejar wanita berkerudung warna cokelat dan memakai seragam pramuka yang sedang berjalan melintasi sekolah Aliah. Ketika sampai, Zaini tua langsung saja memarahi wanita tersebut. Ia menyangka bahwa wanita tersebut adalah siswinya, sehingga ia memarahi dan mengajak untuk kembali ke sekolah sebab waktu pulang belum sampai.

Namun wanita yang ternyata juga guru tersebut kebingungan, bahkan ia menjelaskan ke Zaini tua bahwa Ia bukan siswinya, namun tetap saja tidak digubris oleh Zaini. Bahkan Zaini menuduhnya pembohong.

Hingga akhirnya ada seseorang lewat dan menyatakan jikalau Zaini salah tangkap, bahwa yang ditangkapnya itu adalah guru bukan siswinya, setelah itu ia baru percaya. Kejadian itu hingga kini masih menjadi ingatan banyak para guru angakatan terdahulu, khususnya di kecamatan Simpang Hilir.

Pada tahun 2007 Zaini berduka, sebab orang yang selam ini cintai telah terlebih dahulu meninggalkannya. Istrinya (Ismah), telah meninggal dalam kecelakaan perjalanan pulang dari Ketapang ke Teluk melano. Orang yang setia selama berpuluh puluh tahun penuh integritas yang sama dengannya sudah terlebih dahulu mangkat. Namun demikian, Zaini tua tetap tegar dan terus mengabdikan diri ke dunia pendidikan.

Sepeninggalan istrinya, Zaini tua sering sakit-sakitan. Untungnya saat itu dibantu salah seorang kepercayaannya, yakni Zainal. Namun demikian sakit fisiknya tak menghalangi kemauannya yang gigih untuk terus mengajar, sampai-sampai Zaini berpesan kepada guru atau siswa untuk menjemputnya manakala sudah betul-betul tidak mampu lagi naik motor sendiri.

Para keluarga dan anak anaknya sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisi Zaini, mereka sebetulnya sudah sepakat jika ayahnya istirahat saja di rumah tanpa melakukan aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Sebab sampai di sekolahpun terkadang Zaini renta hanya mampu tersandar di kursi. Bahkan terbaring lemah di ruangan Unit Kesehatan Siswa (UKS) sambil ditemani salah satu anaknya (Agus Diansyah) yang saat itu juga sering membantu mengajar.

Bukan Zaini namanya kalau mudah menyerah. Suatu saat karena khawatir kondisi fisiknya yang semakin memburuk, sepakatlah keluarga tidak mengantarkan Zaini ke sekolah. Namun akalnya tidak kurang, Zaini berpesan pada siswanya untuk menjemput. Walaupun kondisinya sudah sangat parah namun terus saja memaksakan diri melakukan aktivitas mengajarnya.

Pada masa-masa kritisnya Zaini masih memaksakan dirinya untuk pergi ke sekolah. Sekalipun di sekolah tidak dapat lagi melakukan apa-apa. Namun sebuah kebahagiaan baginya dapat melihat anak-anak di sekolah. Seakan akan aroma dan suasana sekolah adalah sebagian dari nafas hidupnya.

Suatu saat ada kisah yang cukup menggetarkan hati salah seorang muridnya, ketika itu ia sedang duduk dengan wajah pucat de depan para siswa-siswinya. Zaini tua yang sakit sakitan sedang menyampaikan materi pelajaran di depan kelasnya dengan kondisi yang uzur.

Siswa-siswniya yang biasa nakalpun pada hari itu cukup iba melihat kondisinya. Biasanya Zaini mengajar dengan suara lantang dan wajah yang menyala-nyala. Namun pada hari itu tatapan matanya sayu, wajahnya putih pucat. Beberapa kali Zaini berhenti menyampaikan materi sambil sesekali mengurut kepalanya. Beberapa kali hal itu terjadi hingga akhirnya tak mampu bertahan. Kemudian tatapannya mulai tidak fokus dan mencoba berdiri. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung lunglai. Untung saja Pak Guru langsung dipapah siswanya dan dibawa ke ruangan UKS.

Setelah dibawa ke UKS, tubuh Zaini renta yang sakit mulai membaik, bukannya meminta bantuan pada guru atau siswanya untuk mengantarnya pulang. Malah Pak Guru memerintahkan kepada para siswa untuk kembali masuk ruangan kelas. Zainal, salah seorang guru yang patuh mengabdi bersamanya dengan pelan membujuk agar Zaini tidak meneruskan aktivitas mengajarnya.

Namun apa kata Zaini, ia bilang pada Zainal, “Aku akan lebih sakit kalau tidak mengajar. Sudahlah badanku sakit hatikupun sakit, jadi usah kitak tegah-tegahlah.” Demikian penuturan Zainal mengisahkan perkataan Zaini saat itu, sembari matanya menerawang mengenang masa masa di mana Ia bersama sosok pendidik yang penuh integritas dan keihklasan itu.

Puncaknya ketika beberapa hari pada saat sakit keras, Zaini sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Pak Guru hanya bisa terbaring lemah di pembaringan. Meski begitu masih saja menanyakan bagaimana sekolah Aliah? Bagimana keadaan para siswa dan bagaimana para guru-guru?

Bahkan hingga detik-detik ajal menjemputnya, Zaini masih sempat berpesan untuk mencarikan orang yang bisa menggantikan perjuangannya. Akhirnya datanglah Zainal, salah seorang guru yang sering dipercayainya untuk mengurus manajemen sekolah Aliah selama sakit. Dengan tangan penuh gemetaran Zainal memegang tangan renta yang sudah dingin itu, sambil berjanji akan sekuat tenaga membantu untuk meneruskan perjuangan sang Guru Sejati.

Merasa perjuangannya ada yang meneruskan, Zaini akhirnya menutup mata dengan tenang untuk selamanya pada tahun 2011 di kediamannya yang sederhana di desa Rantau Panjang. Hari itu dunia seakan akan juga ikut berduka. Alampun ikut mencurahkan air matanya.

Masyarakat Kayong Utara kehilangan satu orang pahlawan pendidikan, para guru kehilangan tokoh gurunya. Dan kita semua kehilangan seseorang panutan yang bisa memberikan teladan, yang bisa memberikan contoh hidup yang sesungguhnya, untuk siapa dan untuk apa sejatinya kita hidup.

Hari ini kita meneladani semangat kerja keras, ketulusan, kedisiplinan, dan kejujuran dari sosok Muhammad Zaini Edref. Kita semua di mata pendidikan adalah bagian dari puzel-puzel kecil, di mana puzel itu akan terkumpul dan menyimpulkan, bahwa kita semua memiliki beban tanggungjawab pendidikan. Paling tidak kita bertanggungjawab atas pendidikan yang kita bersama keluarga.

Terlebih lebih hari ini ada sebagian kita yang memang menyandang profesi sebagai “guru” , yang mana dalam salah satu sumpah dan janji guru akan mengabdi serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi sang guru ini tentunya menjadi tanggungjawab lebih yang harus disandang. Bukan hanya sekadar tuntutan perut yang membuat mereka jadi guru, atau karena sekadar iseng-iseng atau gengsi karena status sosial.

Sampai saat ini sekolah Aliah yang didirikan Zaini, sudah berpindah tempat ke gedung baru, yakni bekas MTs Al- Kubra yang kini sudah negeri, sebab gedung lama sudah roboh. Hingga saat ini kondisi Aliyah At-Taqwa juga masih belum banyak berubah, siswanya masih minim dan para gurunya juga masih kurang. Tongkat estafet selanjutnya setelah Zainal menggantikan sementara, kini Iswandi ditunjuk dari Kemenag Kayong Utara untuk mengurus sekolah tersebut.

Sekolah Aliah Sawasta At-Taqwa adalah salah satu warisan Zaini Edref ketika meninggalkan dunia. Ia tak meninggalkan harta pada anak ataupun cucunya. Ia hanya memberi mereka ilmu serta ladang pendidikan, guna mencerdaskan anak bangsa yang lainnya. Siapapun yang mewarisi sekolah Aliah tidak pernah jadi masalah. Paling penting adalah bagaimana Pak Guru Zaini juga dapat mewarisi sikap dan keteladanan yang di miliki oleh “Sang Guru dari Para Guru” telah berdarah-darah mendirikan sekolah dan mempertahankannya hingga nafas terakhirnya.

Persembahan Spesial bagi kaum Guru untuk mengenang Pahlawan Pendidik, sekaligus Sang Guru dari Para Guru, Almarhum Muhammad Zaini Edref, 1934 2011 . (MIFTAHUL HUDA)
KISAH ini sudah di muat di WK Off line edisi 12 . semoga pembaca online dapat memetik hikmahnya amieeen.

Posted on 4 Januari 2015, in Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: