Hujan Itu Berkah


petuah ustadz--Hujan Itu Berkah--ok

Bulan November dan Desember 2014 Masehi, Kabupaten Kayong Utara (KKU) dan sekitarnya kembali diguyur hujan lebat dan membasahi lingkungan kota. Namun sebenarnya “hujan itu berkah”. Kalimat ini sering diungkapkan sebagian warga Kayong. Sebab hujan merupakan kodrat Alam yang semuanya Allah-lah yang mengatur.

Manusia hanya dapat mengatakan, “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah menurunkan Hujan padahal Hamba sudah bersusah payah mencari Air dan mengambilnya dari jarak yang sangat jauh.” Thank’s Allah!!!

Memang hujan sangat bermanfaat bagi para petani dan pekebun, khususnya bagi mereka yang baru saja menanam tanaman seperti padi dan lain sebagainya. Pasti mereka sangat bergembira dengan datangnya musim penghujan saat ini karena tanaman mereka akan tumbuh subur bila diguyur hujan lebat. Inilah bentuk keberkahan dari Allah.

Allah telah berfirman dalam kitab-Nya; “Dan dari langit Kami turunkan air yang mengandung berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dipanen.” (QS: Qaaf [50] : 9).

Pada Lafad “Mubaarokan” dalam QS. 50: 9, berkah (mubaarokan) diartikan dengan tambah banyaknya kebaikan (ziyaadah Al-Khaiir). Artinya bahwa air hujan yang turun dari langit merupakan keberkahan yang telah Allah berikan kepada makhluk yang hidup di muka bumi ini, yaitu manusia. Oleh karena itu, mungkin ada di antara manusia yang tidak bersyukur atas rahmat dan keberkahan yang Allah turunkan berupa hujan.

Sekitar bulan September hingga Oktober 2014, warga masyarakat kebingungan hujan belum turun-turun, walaupun sempat ada hujan beberapa kali. Akhirnya sekarang hujan turun dengan lebat dan hampir setiap hari. Sikap dan keluhan yang negatif tentunya ada di dalam lubuk sanubari manusia sebagai makhluk dhaif. Jadi apa jawaban Allah dari semua itu?

“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi MahaTerpuji.” (QS: Asy-Syuura [42] : 28).

Mungkin mindset (pola pikir) kita akan berubah ke arah yang positif dan lebih bijak dalam memaknai waktu-waktu saat turunnya hujan. Seperti dijelaskan dalam Surah An-Naba’ [78]: 14-16, Allah-lah yang menurunkan hujan dari langit, sehingga dari hujan itu tumbuh biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan serta kebun-kebun yang lebat. Di sini sudah jelas bahwa Allah memberikan berkah dan kasih sayang-Nya dalam bentuk air hujan, sehingga dengan air itu pepohonan dan tetumbuhan dapat hidup dan menghidupi makhluk hidup lainnya, salah satunya yakni manusia.

Hujan bukan saja memberikan keberkahan untuk manusia, namun hujan juga merupakan kebesaran Allah yang diberikan kepada manusia. Coba saja kita lihat renungkan ayat-Nya berikut ini; “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira.” (QS. Ar-Rum [30] : 48)

Kemudian dapat diketahui proses terjadinya hujan dan bagaimana kita memahami Ayat-Nya? Seorang tokoh pernah melakukan penelitian Ayat ini dengan tiga tahapan.

Tahap pertama: “Allah-lah yang mengirimkan angin.” Sejumlah besar gelembung udara terbentuk karena buih di lautan secaraterus-menerus pecah dan menyebabkan partikel air disemburkan ke langit. Partikel yang kaya garam ini kemudian dibawa angin dan naik ke atmosfer. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, berfungsi sebagai perangkap air. Inilah yang akan membentuk titik-titik awan dengan mengumpulkan uap air di sekitarnya, yang kemudian naik dari lautan sebagai tetesan kecil.

Tahap Kedua: “Menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal.” Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal garam atau partikel debu di udara. Karena tetesan air di awan sangat kecil (dengan kisaran diameter 0,01 dan 0,02 mm), awan menggantung di udara dan menyebar di langit, sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap ketiga: “Lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya.” Partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu akan bertambah tebal dan membentuk tetesan hujan, sehingga tetesan hujan akan menjadi lebih berat dari pada udara, dan mulai jatuh ke bumi sebagai hujan. Wallahu ‘A’lam! (Lihat Syaamil Al-Qur’an “Miracle The Reference)

Itulah tiga tahapan poses turunnya air hujan yang dapat memberikan keberkahan kepada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Namun, selain keberkahan dengan turunnya hujan, ada juga keistimewaan saat turun hujan yakni waktu mustajabah untuk berdoa. Hal itu telah diriwayatkan dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha: Sesungguhnya Nabi SAW apabila melihat hujan, beliau berdoa; “ Ya Allah, jadikan hujan ini, hujan yang membawa manfaat atau kebaikan.” (HR. Bukhari)

Di manapun kita, baik di kantor, di sekolah maupun di rumah, kita dapat berdoa apa saja yang menjadi hajat (kebutuhan) kita, baik hajat untuk di dunia maupun untuk di akhirat. Oleh karenanya, semua tanpa terkecuali dapat mengambil keberkahan hujan dan keistimewaan untuk berdoa saat hujan di turunkan oleh Allah SWT dari langit. (Rudiansah)

Posted on 3 Januari 2015, in berita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: