Pemanfaatan Alsintan untuk Kaum Tani


Pemanfaatan Alsintan untuk Kaum Tani

Sejumlah perwakilan dari beberapa kelompok tani (Poktan) berkumpul di kediaman Mat Marsudi, warga Trans Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, 21 Oktober 2014. Mereka berasal dari beberapa dusun di desa Penjalaan ini, memenuhi undangan dalam rangka kunjungan kerja tim Kementerian Transmigrasi yang memberikan pelatihan dan pemanfaatan beberapa peralatan. Tepatnya yang pernah diperbantukan pemerintah pusat pada tahun 2012.

Warga transmigrasi Penjalaan mendapatkan berkah kedatangan tim dari pemerintah pusat. Apalagi yang datang ahli pengolahan pasca panen, Sidiq Effendi yang sudah berpengalaman membagikan ilmunya kepada kaum tani. Didampingi kepala desa (Kades) Penjalaan, Widodo dan staf yang lain, tim dari pusat itu mengadakan praktik bersama-sama dalam pengolahan keripik dan makanan ringan lainnya.

Pendamping dari Tim Kementerian Transmigrasi, Kusharianto memaparkan peningkatan percepatan pembangunan berbasis agro-industri sangat erat bersentuhan dengan para pelaku pertanian. Pada saat ini pembinaan penggunaan alat mesin pertanian (Alsintan), untuk pembuatan keripik yang nantinya akan dipasarkan.

Peserta pertemuan, Rozikin mengatakan problem utama pertanian desa Penjalaan adalah pengairan. “90 persen sawah adalah sawah tadah hujan yang tidak memiliki irigasi teknis,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, sawah-sawah yang bisa dialiri air hanya di sekitar Sukadana, sementara di tempat lain, termasuk desa Penjalaan cukup kesulitan pengairan. “Pemberdayaan masyarakat sangatlah diperlukan untuk menunjang ekonomi kami, warga trans ini,” kata dia.

Dalam kegiatan tersebut diterangkan pula manfaat pengolahan hasil pertanian secara rinci. Seperti manfaat yang bisa didapat pengolahan pasca panen. Pertama, memperpanjang waktu dan jumlah persediaan pangan. Bahan mentah yang diawetkan dapat disimpan lama. Manfaatnya dapat menjadi cadangan bahan pangan jika terjadi kriris bahan pangan mentah. Contohnya, ikan asin.

Kedua, memudahkan penyimpanan dan distribusi. Semua bahan pangan yang diolah dapat dengan mudah disimpan dan dikirim ke daerah lain. Manfaatnya, bahan pangan tidak akan busuk sebelum sampai di tujuan. Contohnya, makanan kalengan.

Ketiga, meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial. Bandingkan, lebih mahal mana ketika kamu membeli sayur di supermarket dengan pasar tradisional? Tentu lebih mahal di supermarket padahal sayurnya sama. Namun sayur di supermarket rata-rata diberi sentuhan plastik warp dan diletakkan di lemari pendingin, sehingga sayur akan terlihat segar.

Kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran maupun warna untuk memudahkan pembeli. Banyak pasar tradisional, hal itu tidak berlaku. Padahal, sedikit sentuhan dapat meningkatkan nilai jual tinggi, menambah nilai sosial yaitu ketersediaan lowongan pekerjaan. Contohnya, pemberian kemasan pada produk.

Keempat, memperoleh produk hasil pertanian yang menarik dari segi tampilan, rasa, dan sifat fisik. Kelima, mengurangi tingkat kerugian. Hal ini jelas. Misalkan saja, tomat yang harganya jatuh di pasaran karena panen besar-besaran sangat merugikan. Namun jika tomat tersebut diolah jadi saus tomat maka tidak ada kata rugi. Oleh karena itu, kaum tani juga harus dibekali keterampilan mengolah bahan pangan ini.

Keenam, tersedianya limbah yang mungkin masih dapat digunakan untuk memproduksi bahan lain. Contohnya, limbah hasil pertanian dapat dijadikan pupuk kompos.

Ketujuh, mendorong tambahnya industri non pertanian yang menunjang industri pertanian dan industri lainnya. Dengan melakukan pengolahan pasca panen, membutuhkan alat yang banyak sekali. Alat-tersebut bukan dari industri pertanian.

Kedelapan, mengurangi pencemaran lingkungan. Bahan pangan mentah yang diolah dengan benar akan menekan porsi mubazir. Kesembilan, meningkatkan nilai gizi. Susu yang diolah menjadi keju dan yogurt, sudah berbeda nilai gizinya. Begitu pula kedelai yang diolah menjadi tempe ataupun tahu.

Usai kegiatan terlihat para peserta begitu puas mendapat hasil penjelasan. Mereka mendapatkan tambahan ilmu yang begitu bermanfaat untuk kelangsungan masa depan. (Miftahul Huda)

Posted on 5 Desember 2014, in berita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: