Sang Pelukis Gila


melukis-pelangi cerkung--Sang Pelukis Gila--ok

Ku tatap jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi. Ku coba pejamkan mata namun sekeras apapun kuberusaha akhirnya gagal jua. Nyamuk pinggiran kota tiap beberapa saat menghampiri telinga membisiskkan desingan nada, di luar rumah terdengar sedikit riuh suara manusia. “Pasti anak-anak penyabu,” pikirku.

Ku coba intip dari sela-sela jendela yang tertutup tirai, terlihat anak muda seusia 30-an tahun berbadan kurus, muka setengah pucat, rambut panjang lurus sedang bergumam monolog, seperti dialog saling bersahutan kata.

“Risau… Risau… Risau,” ucap Rishadi sambil menorehkan cat ke kanvas yang berada tepat di hadapannya. Sesekali mencipratkan cat seperti tak terarah. Rasa penasaran memaksaku keluar kamar, untuk melihat lebih dekat dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pelukis yang katanya gila itu.

Awalnya aku hanya bisa menikmati lukisan abstrak yang belum jadi dan tak bisa ku pahami maksudnya. Dia pun sibuk dengan karyanya, tak menghiraukan aku yang sudah beberapa menit berada di sampingnya. Namun setelah 30 menit berlalu, Rishadi berhenti dan menatap ku.

“Boy kau ade rokok tadak?” tanya dia kepadaku.

Tanpa ku jawab, ku ulurkan bungkusan rokok beserta korek api padanya. Kepulan asap rokok yang menyelumuti sekitar bibirnya sejenak menetralisir kegelisahan semalaman.

Pemuda itu pun duduk diam tapi dari tatapan matanya, seolah ia ingin bercerita. Aku pun paham dan memulai basa-basi kata, sambil menunjukan detail detail coretannya, “Lukisan ape tu bang?”

Sang pelukis itu menunjukkan maknanya. “Yang ini carut marut kehidupan kota.” Kemudian beralih ke arah yang lain, “Ini tong besar kosong simbul para pembesar kota.”

Sejenak menghela nafas sambil menyandarkan diri pada kursi tua. Ia pun mulai bercerita, “Di kota ini, seniman kurang dihargai, kebanyakan orang menyamakan sebuah karya lukis seperti sebuah hasil kerja tukang batu dan tukang kayu harian. Ku tukar karyaku disanding penjaja pakaian bekas dari negeri Tiongkok. Lelong kebanyakan orang menyebutnya. Tanpa ku beri patokan harga, seberapapun itu, asal mereka menyukai dan mau memanjang lukisanku di dinding-dinding rumah mereka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Ku beli kanvas dan cat dari pemberian para penikmat lukisan-lukisanku.”

“Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lebih layak saja bang? Supaya lebih bisa mengekspresikan karya abang ke depan, memiliki istri dan anak sebagai penerus abang?” tanyaku lebih panjang.

“Haha… Aku sudah terpatri di sini, bercinta dengan kanvas, bercengkrama dengan warna-warni cat, aku menyayanginya seperti Tuhan menyayangiku. Jika suatu saat nanti Aku memiliki keturunan, maka sudah pasti itu terlahir dari wanita yang sama-sama terjebak di dunia ini. Atau bahkan seorang wanita yang sengaja menjatuhkan diri dari meja kerja ruang ber-AC di gedung tinggi ke arah kanvas yang terkapar di pinggiran jalan.”

“Demi Tuhan, Aku tidak ingin hidup kaya. Apalagi rela mengambil harta rakyat seperti kebanyakan para pejabat. Biarlah Aku melarat asal tidak jauh tersesat. Biarlah tetangga mengatakan aku gila karena lebih asyik  diam dan bercerita dengan lukisan daripada mengosip bersama mereka. Biarlah mereka memanggilku Bolot karena tak pernah mau mendengar panggilan dan makian-makiannya,” tambahnya.

Subuh sudah hampir tiba, Rishadi masuk ke rumah. Pikirku, ia sudah cukup lelah dan pembaringan telah sejuk menanti.

Selang beberapa saat ia mengeluarkan kunci sepedamotor dengan penggantung berhiaskan patung kecil kepala orang Dayak yang penuh karya seni. “Boy, ku ajak kau lihat-lihat lukisan di galeri milik temanku,” ajaknya. Tanpa bertanya-tanya aku pun mengangguk, walau sejatinya ada sebuah pertanyaan yang ingin ku sampaikan, “Jam 3 subuh galeri siapa yang buka?” Tapi pertanyaan itu sengaja ku pendam.

Bruuum… Bunyi sepedamotor butut miliknya yang cukup memekakkan telinga. “Jam segini Polantas masih lelap, lampu merah tak sering menyala. Kita bisa belenggang menikmati kota yang penuh kejujuran, walau kadang tampak kupu-kupu malam mencari mangsa.” Ia berkata sambil mempersilahkan Aku duduk di jok belakang sepedamotornya.

Setelah melintas  beberapa jembatan panjang tibalah di depan sebuah rumah tua yang agak miring  di sebagian tongkat penyangganya. Pintu yang terbuka lebar subuh hari, seolah mempersilahkan para pencuri.

Rishadi mengajak ku masuk. Betapa terkejutnya melihat lima manusia yang masing-masing berlumuran cat pada tangan mereka, sambutan hangat mereka sungguh sangat  berkesan. Rudiansyah salah satu pelukis bertanya kepadaku, “Mas pelukis dari daerah mane?”

Aku pun menjawab, “Saye bukan pelukis dan atau bahkan seniman. Saye saudare Rishadi dari daerah Kayong Utara yang kebetulan berkunjung ja’ (saja),”

Segelas kopi sejuk disuguhkan kepadaku, sembari mempersilakan duduk, Rudiansyah pun bercerita panjang lebar. Intinya kurang lebih seperti cerita Rishadi yang tadi dipaparkan padaku.

“Kami sedang banyak melukis, dan hasilnya nanti akan kami sumbangkan untuk kawan pelukis kami yang sedang terbaring di rumah sakit setelah kecelakaan, akibat pengendara lain  yang menerobos lampu merah kemarin. Beginilah mas di kota ini orang miskin tidak boleh sakit,” tutur Rudiansyah sang pemilik galeri kepadaku. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-katanya.

Di sudut lain ku melihat lukisan indah yang terpajang, ku pandangi tiap inci goresannya. Sungguh sangat sempurna, dan tak terbayang seberapa mahal orang akan menjualnya. Ku coba bertanya, “Ini karya siapa?” Asbun menoleh sambil menjawab, “Itu karya saya mas, kalau mau silakan dibawa pulang.”

Betapa terkejut, sebuah mahakarya hebat diberikan secara cuma-cuma kepadaku. Dan akhirnya setelah beberapa basa-basi ku bawa pulang juga. Prinsip para seniman ini sama, ‘mereka akan sangat suka karya-karya mereka disukai orang, walau tidak ada imbalan sedikit pun’.

Pagi terlewati mata hari mulai tinggi, rasa kantuk hasil gadang semalam semakin merenggut mata. Aku harus pasrah meninggalkan kebisingan kota. Mengunjungi mimpi semalam yang tertunda. Tapi di mana tempat nyaman meregang badan? Sementara di setiap sudut rumah masing-masing ramai mencari nafkah? Haruskah ku tunda kantuk ini sampai kembali ke Tanah Bertuah?. ( M RIDHO).

 

 

 

Posted on 30 November 2014, in Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: