Menyulap Lahan Nonproduktif Menjadi Produktif


hamsyah 2Menyulap Lahan Nonproduktif Menjadi Produktif

Hamsyah Syahran, 56 Tahun. Matan Kepala Desa (Kades) Rantau Panjang Priode 1998-2012, tak pernah kering dari ide kreatif. Pensiun dari Kades sejak 2012 yang lalu, dia tak berdiam diri. Mulai dari berdangan, mengurus grup musik, hingga bertani dia lakoni.

Sejengkal tanah seakan bearti buat Hamsyah. Di lahan perkarangan seluas 2.500 meter persegi. Di belakang rumahnya di Rantau Panjang. Tangan terampil Hamsyah bekerja. Mengolah tanah yang biasa tergenang air asin, menjadi lahan yang menghasilkan tanaman sayuran yang subur dan produktif.

Sejak awal September 2014 yang lalu. Beragam tanaman sayuran dan buahan di tanamnya. Seperti bayam, labu, labu air, mentimun, periak (pare), kangkung, kacang panjang, lobak, lepang, semangka dan lain-lain. Untuk hasil mentimun saja, ratusan kilo sudah terjual. Baik untuk dikonsumsi warga sehari-hari, maupun pesanan orang kawin.

Untuk harga jual tanaman sayur-sayuran, Hamsyah jual dengan harga berpariansi. Bayam, labu, labu air, semangka dan kangkung, perkilo gramnya Rp 4.000,00. Mentimun dan lepang Rp 5.000,00 perkilo gram. Kacang panjang Rp 6.000,00 dan pare Rp 6.000,00 perkilo gram. Untuk lobak Rp 7.000,00 perkilo gramnya. Sedangkan tanaman lain, harganya berkisar antara Rp 4.000,00-7.000,00 perkilo gram.

Juta rupiah hasil tanaman sayuran, sudah dikantongi Hamsyah. Bagi orang pernah menjadi orang nomor satu di Rantau Panjang selama 2 priode ini, bertani merupakan hobinya sejak dulu. Bahkan sebelum dia menjadi Kades pun, bertani menjadi bagian dari hidupnya. Kerena dengan bertani, dia menemukan kedamaian. Bergaul dan membelai tanaman, adalah obat hati dan penghilang stres buatnya.

Sederhana saja Hamsyah menyulap lahan nonproduktif menjadi produktif. Yaitu menggunakan pupuk organik. Sekam padi bakar dicampur pupuk kandang. Sehingga lahan yang ditumbuhi padang ilalang ini, berubah menjadi lahan produktif.

Satu persatu, umbi lalang dikupas dan disingkirkannya. Dibakar, kemudian dijadikan pupuk tanaman kembali. Dia tidak menggunakan bahan kimia di lahannya. Mulai dari pembukaan/pengolahan lahan, hingga pengendalian hama penyakit. Jadi tanamannya aman dikonsumsi.

Dalam mengendalikan hama penyakit yang menyerang tanamannya. Terutama hama yang menyerang tanaman bayam dan parenya. Hamsyah mengendalikannya dengan abu. Kemudian meracik daun sisrsak, tembakau, bawang putih dan sabun colet untuk pengendalian hama secara alami. Anjuran PPL setempat dilaksanakan dan diterapkannya. Alhasil, hama dapat dikendalikan.

Prinsip Hansyah. Jika kita mau berusaha, tak ada yang tak mungkin. Termasuk mengolahan lahan yang selalu digenangi air asin. Tentu harus menyesuaikan dengan musim pasang air laut. Atau membuat galang (bedengan), sedikit lebih tinggi, agar air asin tak membanjiri tanaman.

Menurut Hamsyah. Dari mengolah tanaman sayuran saja, bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sayang, jika lahan yang ada tidak kita manfaatkan. Pada hal apabila dikelola dengan baik, dia memberikan hasil yang baik buat kita. Tak kerja lain pun, kita bisa hidup dari bercocok tanam. (HASANAN)

Posted on 30 November 2014, in ekonomi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: