Angka Melek Huruf Naik, IPM KKU Akan Meningkat


nazril hijar kabid PNF kayong utara kabid kesos kayong utara pejabat pemda warta kayong

Nazril Hijar, Kabid PNF Kayong Utara

Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kayong Utara, menempati urutan ke- 13, dari 14 Kabupaten/Kota se- Kalimantan Barat. Kedua terakhir setelah Kabupaten Sambas, yang menduduki peringkat 14.

Melihat realita ini, WK menjambangi Dinas Pendidikan Kayong Utara. Mencari tahu faktor penyebab IPM KKU rendah dari sisi pendidikannya. Alhasil, yang dapat WK temui, yaitu H. Nazril Hijar, S.Ag. Kepala Bidanag (Kabid) PNF, Dinas Pendidikan Kayong Utara.

Nazri tidak membantah, bahawa IPM KKU masih diperigkat ke- 13 dari 14 Kabupaten/Kota di Kalbar. Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama. Perlu langkah-langkah startegis, agar IPM kita naik ke level yang lebih baik. Setidaknya, tahun 2017, IPM KKU menempati posisi ketujuh.

IPM diukur dari tiga faktor, yaitu ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Khusus di bidang pendidikan, diukur dari dua hal, yaitu lama sekolah dan angka melek huruf.

Rendahnya IPM Kayong Utara bukan dipengaruhi rendahnya pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesahatan masyarakat saja. Namun lebih dipengaruhi faktor pendidikan juga. Data BPS 2010 menunjukan, rata-rata lama sekolah di KKU sekitar 5,67 tahun saja. Artinya, anak cenderung memutuskan sekolah sebelum tamat Sekolah Dasar (SD).

Untuk angka lama sekolah di KKU, alhamdulillah semakin membaik. Dengan pendidikan gratis, angkah tersebut tentu semakin berkurang. Semangat masyarakat untuk sekolah hingga ke jenjang SLTA tinggi. Sebab anak-anak di KKU, mulai dari SD, SLTP dan SLTA tak dipungut biaya pendidikan. Semuanya ditanggung Pemerintah Daerah.

Untuk menghitung angka rata-rata lama sekolah butuh waktu. Setidaknya 5-7 tahun. Satu-satunya yang bisa meningkatkan IPM dalam waktu cepat, yaitu melek huruf. Sebab hanya butuh waktu sekitar 7 bulan saja, masyarakat yang buta aksara sudah bisa baca, menulis dan berhitung (calistung).

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) KKU tahun 2014, angka melek huruf KKU sekitar 11 persen. Namun ada perbedaan, antara data BPS dengan data yang dimiliki Dinas Pendidikan – Bidang Pendidikan Non Formal (PNF).

Hasil pendataan yang dilakukan PNF, melalui Mahasiswa KKL 2014 dan Pemerintah di tingkat desa. Terdapat 6.000 jiwa warga KKU yang belum melek huruf (buta aksara). Atau sekitar 6 persen, dari total jumlah penduduk KKU, lebih kurang 99.500 jiwa.

Perbedaan ini dikarenakan, anak yang belum sekolah pun masuk kategori belum melek huruf oleh BPS. Atau BPS mendata dari 0-60 tahun. Sedangkan Dinas Pendidikan hanya mendata usia produktif saja. Yaitu usia 15-59 tahun. Karena itu di dapat angka 6.000 jiwa se- KKU.

Melek huruf ini penting diberantasi. Sehingga mempengaruhi IPM KKU dari sisi pendidikannya. Target FNP, 2017 angka melek huruf di KKU naik menjadi 95 persen. Artinya, tinggal 5 persen orang KKU yang belum melek huruf. Jika demikian, kita bisa kampanye, bahwa KKU bebas buta aksara. Sebab, melek huruf, merupakan indikator penting dan dapat mempercepat peningkatan IPM.

Dalam melaksanakan program pemberantasan buta aksara 2015-2017 nanti, PNF menargetkan 2.000 orang pertahun. Sehingga 2017, angka 6.000 tuntas dilaksanakan.

Stategi yang dilakukan PNF untuk menaikan IPM KKU dari sisi melek huruf yaitu, pertama pendataan/validasi data. Data ini penting. Dari data tersebutlah kita bisa melakukan tindakan. Dan ini sudah dilakukan PNF. Sehingga muncul angka 6.000 tersebut.

Kedua, tentang pelaksanaan. PNF merubah paradigma di tingkat pelaksananya. Awalnya ini dilakukan oleh PKBM. Sekarang PNF melibatkan, Camat, PKK Kecamatan, Kasi Pendidikan di Kecamatan. Kemudian Kepala-kepala Desa dan ibu-ibu PPK. Serta elemen-elemen lain yang ada di desa sebagai penyelenggaranya.

Mengapa harus desa? Agar desa ikut bertanggung jawab terhadap pemberantasan buta aksara di desanya. Desa merasa memiliki, bahwa  ini bagian dari program mereka. Termasuk dalam hal menetapkan tutor (guru) yang mengajar di desa, menjadi tanggung jawab Kades menunjuknya. Tentu dengan pembinaan dan pengawasan Bidang PNF. Alasan kedua, agar kegiatan belajar mengajar (KMB) ini lebih aktif dan tidak fiktif.

Ketiga, yaitu merubah metode pembelajaran. Artinya, tidak memandang warga belajar sebagai objek semata, tanpa melibatkan proaktif mereka dalam kegiatan tersebut. Misalnya, jika besik totornya guru agama, maka kegiatan tersebut bisa dinamakan pengajian.

Bagi kalangan tua, pengajian mungkin lebih menarik. Sehingga semangatnya untuk ikut serta tinggi. Sebab, pola pikir orang tua khususnya, berorentasi pada akhirat. Kegiatan pengajian tentu bernilai pahala untuk bekal mereka di akhirat.

Dalam pengajian tersebutlah kita sisipkan proses pengenalan huruf dan angka. Kemudian belajar membaca, menulis dan berhitung (calistung). Misalnya, materi pengajian fiqih tentang wudhu’. Untuk lafazd doa wudhu’, tutor bisa menulis dengan huruf latin. Dengan demikian, rasa ingin tau mereka akan tinggi tentang huruf yang ditulis tutor. Proses pengajian berjalan, meraka bisa hafal lafazd wudhu’. Juga mengenal huruf yang dituliskan tutor.

Selain dengan metode pengajian. KBM buta aksara dapat dilakukan dengan metode suka-suka. Misalnya ada yang suka bernyanyi. Tutor bisa menuliskan bait lagu denga huruf latin. Seperti lagu Evi Tamala “Selamat Malam”.

Bagi ibu-ibu yang hafal lagu tersebut. Secara berlahan dia akan mengenal teks huruf/kata-kata ‘selamat malam duhai kekasihku’, misalnya. Mereka kita suruh, bernyayi, menulis dan mengeja teks tersebut. Jadi proses pembelajaran lebih menarik dan tidak monoton.

Jika motode pembelajaran diterapkan seperti tadi. Nazril optimis, bahwa proses pembelajran buta aksara akan lebih mudah diterima masyarakat. Dengan demikian, program melek huruf di KKU, secara berlahan dapat teratasi. Apabila proses ini terus menerus kita lakukan hingga 2017. Sesuai target, Nazril yakin, IPM KKU akan naik. Tentu dibarengi pembenahan di bidang lain pula.

Kaitan dengan perubahan paradigma ini pula, bahwa Dinas Pendidikan tidak semata-mata sebagai user atau pembuatan kebijikan saja. Namun Dinas langusung ke lapangan. Melihat dan mengevaluasi langsung apa yang terjadi dan dibutuhkan di lapangan. Melibatkan semua elemen yang ada, sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama.

Pembngunan paud raudhatul hasanah teluk batang nazril hijar kabid PNF kayong utara kabid kesos kayong utara pejabat pemda warta kayong

Foto: Pembngunan paud raudhatul hasanah teluk batang 

Stategi keempat, yaitu adanya reword (penghargaan) pada desa yang berprestasi melaksanakan program melek huruf. Misalnya, desa yang berhasil melaksanakan 95 persen melek huruf, akan diberikan penghargaan. Sehingga menjadi motivasi buat desa-desa yang ada, untuk berlomba-lomba melaksanakan program melek huruf.

Namun tantangan yang dihadapi PNF pun tak gampang. Pertama, rendahnya motivasi warga untuk belajar. Terutama bagi yang tua-tua, menganggap tak penting tahu calistung. Kerena itu Dinas merubah pola, motode atau stategi yang dapat diterima masyarakat. Kemudian terus-menerus mengkampanyekan, betapa pentingnya calistung.

Kedua, kurangnya dukungan dari stackholder yang ada. Kerena menganggap, melek huruf  bukan sesuatu yang penting. Pada hal, ini sangat berpengaruh terhadap IPM itu sendiri. Menyangkut citra kabupaten di mata luar. IPM KKU diperingkat bawah, menunjukan betapa buruknya kualitas KKU dari sisi pendidikan. Yaitu, masih banyaknya masyarakat KKU yang tak bisa baca, tulis dan berhitung.

Perlu sinergisitas semua elemen dan stackholder yang ada. Termasuk antara ekskutif dan legislatif dalam hal penganggaran. Sebab, ini menyangkut kualitas dan citra kabupaten. Jadi harus ada kesepahaman, antara dua lembaga tinggi di daerah ini. Sehingga, angka IPM KKU meningkat.

Meningkatkan IPM KKU bukan tanggung jawab satu unsur saja. Atau tanggung jawab bagian terkecil yang ada di Dinas ini. Namun tanggung jawab kita bersama. Termasuk legislatif, yang memiliki otoritas dalam penentu anggaran.

Tantangan ketiga, yaitu minimnya anggaran. Anggaran ini penting. Bagaimana mungkin program pemberantasan buta aksara bisa jalan, jika anggaran tidak tersedia. Atau ada anggaran, tapi tidak memadai.

Disatu sisi, PNF ditekankan harus memberantasi buta aksara. Namun disisi lain, anggaran untuk kegiatan ini semakin tahun semakin berkurang. Sekedar contoh, anggaran yang disetujui untuk Tahun Anggaran 2015, hanya Rp 250 juta saja. Sedangkan sebelumnya, yaitu lebih kurang Rp 300 juta.

Jika anggaran yang disediakan tahun 2015 hanya Rp 250 juta, ini bisa mines. Pasalnya, untuk menuntaskan angka buta aksara tahun 2015-2017. Tiap tahunya ada 2.000 warga belajar yang harus difasilitasi PNF.

Menurut petunjuk teknis (juknis), 6.000 warga belajar, dibutuhkan 600 tutor (guru). Jika pertahun, dimulai 2015, warga belajar yang difasilitasi 2.000 orang, berarti butuh 200 orang tutor.

Andai honorarium tutor Rp 300.000,- saja perbulan. Dikali 2.000 orang, dikali 6 bulan (lama belajar). Maka dana yang dibutuhkan untuk honorarium tutor tahun 2015, yaitu Rp 360 juta. Artinya mines Rp 110 juta. Ini belum termasuk ATK dan lain-lain.

Tantangan keempat yang dihadapi PNF adalah, di internal Dinas Penidikan itu sendiri. Ada semacam imej, bahwa Bidang PNF kurang penting. Sebab PNF hanya mengurus pendidikan non formal saja. Secara tak langsung, bahasa yang muncul, bahwa PAUD itu tidak penting. Melek Huruf itu tidak penting. Tak ada istilah “Masuk ambung tak masuk hitung” dalam dunia pendidikan. Semua itu penting.

Pada hal, PAUD dan melek huruf ini bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan. Salah satu tujuan PAUD sudah jelas. Yaitu menyiapkan mental anak sebelum masuk SD. Yang paling penting lagi, adalah pembentukan karakter anak semenjak dini.

Usia dini adalah masa keemasan bagi anak. Sebab, di usia pula, lebih kurang 2 juta sel otak anak bekerja maksimal. Anak-anak akan menuru apa yang dilakukan orang-orang yang ia lihat dan dengarkan. Kerena anak adalah peniru yang palin sempurna. Jika tidak dibimbing, diarahakan dan diajar dengan baik. Maka berefek buruk terhadap perkembangan mental anak selanjutnya.

Bagaimana kita bisa berpikir bahwa PAUD itu tidak penting, sedangkan ini program nasional? Tentu sebuah program telah melalui penelitian dan kajian yang mendalam, baru dapat dilaksanakan.

Alangkah bijaknya, institusi yang ada. Baik di Dinas, guru-guru SD/MI di lapangan. Mendorong agar orang tua atau masyarakat sadar untuk menyekolahkan anaknya ke PAUD, sebelum anak mereka masuk SD/MI.

Jadi, imej bahwa tak masuk TK/PAUD pun bisa masuk SD/MI, itu harus kita hilangkan secara berlahan. Agar masyarakat semakin sadar untuk memasukan anaknya ke TK/PAUD. Sehingga, tujuan pembangunan nasional dapat tercapai dengan baik dan sejalan.

Sedangkan melek huruf menjadi penting, tentu menyangkut kualitas pendidikan dan sumber daya manusia itu sendiri. Ini erat kaitannya dengan IPM. Belum lagi jika dilihat dari aspek manfaat langsungnya buat masyarakat. Ada kebanggaan ketika mereka bisa calistung.

Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan PNF, Nazril berharap. Agar rencana, stategi dan tantangan yang dihadapi Bidang PNF dapat pihami semua pihak. Menjadikan PNF bagian terpenting juga dalam proses peningkatan IPM di KKU. Bukan bicara ego sektoral.

Bagaimana mungkin kita dapat meyakinkan masyarakat tentang pentingnya PNF. Sementara di internal kita, antar SKPD, atau antara ekskutif dan legislatif tidak sepaham?. ( HASANAN)

Posted on 29 November 2014, in Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Mohon dikoreksi untuk paragraf ke-10 tentang definisi Angka Melek Huruf (AMH) yang dikeluarkan oleh BPS. AMH adalah Proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya, tanpa harus mengerti apa yang di baca/ditulisnya terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: