Pelajaran Hebat dari Sang Nenek Renta


nenek renta jualan busiah nenek renta usia 90 tahun di medan jaya smpang hilir

*Ujang Tampoi Bekisah

Terlihat dari persimpangan jalan, tepat di tugu Bambu Teluk Melano. Seorang nenek tua dengan sisa-sisa semangatnya menyusuri jalan sambil menjajakan sayur-mayur daganganya. Langkah kaki tuanya tidak cukup cekatan lagi. Teramat pelan untuk bisa disebut sebagai melangkah. Barang kali akan lebih pas kalau disebut dengan hanya menyeret kakinya.

Ia melakukan aktivitasnya itu hampir setiap hari, jarak yang ia tempuh sekitar 7 kilometer. Jika dihitung pulang pergi setiap hari, sang nenek menempuh jalan sebanyak 14 kilometer. Dan itu ia lakukan setiap hari tanpa mengeluh dan menyesali takdir hidupnya.

Kulitnya sudah sangat keriput termakan beberapa dekade perubahan waktu yang silih-berganti. Tangannya bergetar-getar menahan beban sayur-mayur yang ia junjung di kepalanya. Memang tak terlihat banyak dagangan itu, namun bagi sang nenek berusia 97 tahun sepertinya serasa sangat berat, berhubung tenaganya juga sudah tak full (penuh) seperti ia muda dahulu.

Pendengaran dan matanyapun tidak lagi cukup jernih untuk mendengar dan melihat. Maka tak jarang ia harus terpaku beberapa saat manakala orang memanggil, layaknya ia merespon dan memproses panggilan tersebut. Beberapa saat kemudian baru ia bisa mengenali dari mana orang memanggil.

Di tengah keterbatasan fisiknya, nenek ini pantang menyerah. “Nenek tidak akan pernah menyerahkan nasib pada orang lain, nenek tak mau membuat beban orang, sekalipun itu anak nenek sendiri. Cukuplah hidup seperti ini, nenek sudah merasa bahagia. Sebab, tak menjadikan beban bagi orang lain,” demikian ungkap sang nenek pada Ujang, sembari ia meneguk air putih dari botol yang sudah usang.

busiah nenek renta usia 90 tahun di medan jaya

Saat itu sang nenek beristirahat di bawah rindangnya sebuah pohon bersama Ujang. Ujang memandanginya dengan penuh makna. Dalam hati Ujang, betapa hebat dan tangguhnya sang nenek renta ini. Betapa tidak, nenek bernama Busiah yang sudah berusia 97 Tahun dan memiliki delapan anak, 17 cucu dan 9 cicit ini, hanya tinggal sebatang kara.

Bukannya sang anak-anak atau para cucu tak mau menampungnya, namun langkah kemandirian dipilih oleh sang nenek sendiri. Kerap kali sang anak dan cucunya datang dari Ketapang, ingin menjemput agar hidup bersama. Namun setiap kali mereka datang maka, sang nenek menolaknya dengan halus.

Ujang coba bertanya, “Nek, apa yang membuat nenek begitu tegar menghadapi hidup ini?”

Sang nenek tampak tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Nenek tidak merasa tegar kok nak. Hidup nenek ya seperti ini. Dan inilah yang nenek jalani.”

“Tapi nek, nenek kan sudah renta kenapa tidak cari pekerjaan yang mudah saja?”

Sang Nenek itu memandangi saya, kemudian ia berkata, “Nenek tidak cukup miskin untuk menjadi pasrah begitu saja…”

Ujang begitu tersentuh dengan pernyataan itu. Belum sempat Ujang berkomentar, sang nenek melanjutkan kembali. “Buat nenek yang namanya ‘miskin’ itu adalah ketiadaan semangat untuk melakukan sesuatu. Kemudian memilih menengadahkan tangan pada orang lain,” ujar sang nenek tanpa beban.

Ujang hanya bisa terdiam mendengar jawaban sang nenek penjual sayur-mayur itu.

Sahabat Ujang yang baik. Hari ini kita belajar arti ‘miskin’ dari seorang nenek penjual sayur-mayur. Meskipun dengan bahasa sederhana nenek Busiah ini mengerti bahwa kemiskinan sesungguhnya bukanlah dalam wujud kealpaan materi. Namun Kemiskinan yang sesungguhnya adalah kemiskinan mental. Miskin menurut beliau adalah ketidakmauan berusaha. Miskin menurut beliau adalah mengambil barang yang bukan haknya. Miskin menurut beliau adalah ingin mendapatkan sesuatu dengan cara tidak wajar, dan miskin menurut beliau adalah ketidakpekaan hati terhadap orang yang membutuhkan pertolongan.

Nek… Beruntung nenek tidak punya HP atau Internet. Kalau nenek punya dan tahu, pasti nenek akan risau melihat dan menyaksikan begitu banyaknya ‘orang miskin’ di negeri ini. Nek terimakasih atas pelajaran yang sangat berharga ini. Doakan kami semua agar menjadi hamba-hamba Tuhan yang kaya dan bermental kaya, serta tak lupa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah pada kami.

 

Persembahan untuk Nenek Busiah, penjual sayur-mayur di desa Medan Jaya kecamatan Simpang Hilir kabupaten Kayong Utara provinsi Kalimantan Barat. (MIFTAHUL HUDA)

Posted on 24 November 2014, in Humaniora and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: