Pekerja Batu Pantai, Berkarya Menjemput Badai


lingkungan--Berkarya Menjemput Badai--ok

Kemana pihak terkait? Lembaga peduli lingkungan? Apakah ini cara manusia memperlakukan lingkungan? Ironisnya kreativitas penambang batu ini di zona pagar pantai Pulau Datok yang jelas ada di depan mata. Saat ini sudah hampir separoh bukit yang digali para kreator penambang batu pantai.

Karya para penambang batu tradisional yang bekerja di ujung pantai Pulau Datok menyisakan hamparan kosong gersang. Saat ini sudah hampir separuh karya mereka membelah salah satu bukit di pantai Pulau Datok.

Tampak hilir-mudik mobil pickup pengangkut batu kerikil dan berbagai macam jenis batu, serta tanah untuk berbagai kepentingan. Mulai untuk pasokan proyek pemerintah maupun keperluan bangunan rumah warga. Berbagai keperluan inilah maka tambang batu ini hadir untuk memenuhi permintaan yang semakin hari semakin meningkat.lingkungan--Berkarya Menjemput Badai--oke

Para penambang batu tersebut pada umumnya adalah warga lokal. Tinggal di dusun Tanah Merah desa Sutra kecamatan Sukadana. Pekerja batu pantai, Syarifah, 42 tahun, mengungkapkan ada sekitar 53 kepala keluarga (KK) menggantungkan hidupnya dari bekerja menambang batu. Satu mobil pickup untuk harga batu kerikil ia jual Rp200 ribu. Dari nilai itu, Syarifah juga berbagi dengan pemilik tanah yakni Rp30 ribu.

“Tanah penambang batu tersebut walaupun di areal pantai Pulau datok, namun itu dimiliki beberapa orang warga yang mengizinkan untuk melakukan aktivitas penambangan. Saya sudah 30 tahun bekerja. Bersama para pekerja batu pantai yang lain pernah diimbau pemerintah untuk menghentikan aktivitasnya. Namun tuntutan hidup, terus melakukan penambangan. Walaupun di sisi lain juga sadar kalau itu aktivitas merusak,” kata dia.

Lain halnya dengan Amat, 45 tahun, ia bekerja dari pagi sampai sore sebagai penambang batu. Amat mengaku juga sebenarnya sudah jenuh dan lelah dengan pekerjaan itu. Apalagi akhir-akhir ini banyak proyek tersendat. Ia juga mengaku pernah dilarang pemerintah. “Namun sayangnya pemerintah tak memberikan solusi untuk bekerja yang lain, sehingga mau tidak mau kami harus berkais cari makan dengan cara yang seperti ini,” timpal Amat.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Kabupaten Kayong Utara, Abdul Halim mengatakan para penambang batu yang beroperasi itu, tidak mengantongi izin sama sekali. Namun sampai saat ini pemerintah belum bisa melakukan penertiban, sebab berkaitan dengan permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat yang cukup mendasar.

“Yang pasti penanganan ini memerlukan proses waktu yang mungkin cukup lama untuk diselesaikan. Ya pelan-pelanlah kita sikapi masalah ini, agar bagaimana bagusnya antara pemerintah dan masyarakat,” ungkap Abdul Halim via telepon kepada Warta Kayong.

Kepala Kantor Lembaga Gemawan Distrik Kayong Utara, Agus Budiman mengatakan seharusnya pemerintah harus cepat melakukan tindakan atas terjadinya aktivitas penambangan yang cenderung merusak alam tersebut.

“Pemerintah harus duduk bersama mencari solusi yang terbaik bagi alam dan kemaslahatan masyarakat. Untuk menyikapi hal ini pemerintah harus melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar pantai. Langkah nyatanya seperti memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan lain dan pendampingan terhadap masyarakat agar tidak lagi melakukan aktivitas yang sangat merusak alam tersebut,” saran Joy, sapaan akrabnya.

Lembaga Pemantau Penyelidikan Pemberantasan Korupsi Cabang Kayong Utara, Hermanto mengungkapkan, sebuah keharusan bagi pemerintah dan dinas instansi terkait untuk cepat-cepat melakukan tindakan. Jika hal ini terus dibiarkan ataupun pihak terkait masih lamban dalam menentukan keputusan, akibatnya para penambang terus menggunduli bukit dan mengambil batu. Pada akhirnya manusia akan menuai badai di kemudian hari. Sungguh ironis memang, kawasan wisata yang juga berada di dekat areal Taman Nasional Gunung Palung yang seharusnya dijaga keasliannya, kini ternoda tangan-tangan kreatif para penambang batu liar di sekitar pantai. (WK Team /MH)

Posted on 28 Oktober 2014, in berita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: