Kembang-kempis Jasa Meubeler


101_0016

Siang itu, Juliansyah, 37 tahun, sibuk memainkan pahat bubut. Membentuk lekuk-lekuk pada nisan yang dibuatnya pada kayu belian (ulin). Sesekali Jul, sapaan akrabnya, memberikan instruksi kepada dua orang karyawannya, untuk mengerjakan finishing (penyelesaian) pada pintu jendela pesanan langganannya.

Sejurus kemudian, Jul kembali memainkan pahat bubut dengan lincah. Bentuk nisan yang dibuatnya menggunakan kayu belian itu hampir selesai, hanya tinggal finishing saja. Ketika Warta Kayong datang, Jul mengulurkan tangan dan mempersilakan duduk, berteduh di bawah bangsal berukuran kurang lebih 10×20 meter. Bertiang batang nibung, berdaun atap daun nipah. Sungguh indahnya.

“Belian ini dari pemesan. Kami tidak menyediakan bahan belian karena sekarang dapatnya susah, bisa-bisa malah jadi masalah,” timpal Jul membuka obrolan.

Jul, pemilik meubel “Jati Mulia”. Beralamat di Kilometer (KM) 3 Telok Batang ini mengaku sudah enam tahun menjalankan usahanya. Bermodal pinjaman kredit dari bank, Jul memberanikan diri  membuka usahanya dan mulai membuat aneka jenis furniture (perabotan). Karena belum banyak saingan dan kayu masih mudah didapat dari penyalur.

Enam tahun lalu, Jul kebanjiran pesanan, hingga harus mendatangkan 12 orang tenaga terampil dari Jepara (Provinsi Jateng), untuk memenuhi pesanan pelanggan yang semakin ramai. Nama Jul mulai dikenal mulai dari Telok Batang bahkan sampai ke Batu Ampar (Kabupaten Kubu Raya).

“Pernah ada tukang rias pengantin dari Batu Ampar datang untuk memesan satu set kursi pelaminan. Kala itu harganya Rp7 juta. Karena puas melihat hasil pesanannya, orang itu tidak menawar lagi,” kenang Jul di masa jaya-jayanya.

Seiring berjalannya waktu dan ketatnya larangan penebangan kayu, sekarang ini Jul mengeluh susahnya bahan baku kayu untuk usaha meubelnya. Walaupun masih ada tetapi hanya kayu jenis lokal saja dan harganya semakin tinggi. Belum lagi dengan nilai beli masyarakat semakin menurun, sebab banyaknya tumbuh usaha yang sejenis di kampungnya. Bahkan meubeler yang didatangkan dari luar Provinsi Kalbar semakin murah harganya.

“Padahal kalau bicara kualitas kayu maupun pekerjaan, kita tidak kalah dibandingkan dengan kualitas ekspor-impor. Hanya saja yang namanya masyarakat kebanyakan lebih mencari harga yang murah bukan karena kualitasnya,” analisis Jul.

Berapa kali usahanya rebah-bangun namun Jul tetap semangat. Jul masih sanggup menyelesaikan puluhan pintu dan jendela pesanan pelanggan..

“ Sekarang ni karyawan saya tinggal dua, sepuluh orang sudah balik ke Jepara. Nanti kalau kebanjiran pesanan, didatangkan lagi,” timpal Jul dengan tatapan menerawang jauh ke depan. (tio)

Posted on 26 Oktober 2014, in berita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: