Berbahagialah yang Masih Punya Ibu


rebutan hak asuh orang tua

Dikutip dari aryginanjarr.com, mengisahkan pengadilan Qasim, Saudi Arabia. Berdiri Hizan al Fuhaidi dengan air mata bercucuran hingga janggutnya basah. Ia kalah terhadap perseteruannya dengan adik kandungnya.

Terkait pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta, bahkan hanya memakai cincin timah di jari keriputnya. Seumur hidupnya, beliau tinggal dengan Hizan yang selama ini menjaganya. Tatkala Hizan telah menjadi Manula (manusia lanjut usia), datanglah adiknya dari kota mengambil ibunya agar tinggal bersamanya. Beralasan fasilitas kesehatan dan lain-lain di kota jauh lebih baik.

Namun Hizan menolak, beralasan selama ini mampu menjaga ibunya. Perseteruan berlanjut ke pengadilan. Sidang demi sidang dilalui hingga sang hakim meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis. Kedua bersaudara ini membopong ibunya, beratnya sudah tidak sampai 40 Kg. Sang Hakim bertanya kepada sang ibu, “Siapa lebih berhak tinggal bersamamu Ibu?”

“Ini mata kananku,” jawab sang Ibu menunjuk ke Hizan.

“Ini mata kiriku,” ungkap Ibu menunjuk ke adiknya Hizan.

Sang Hakim berpikir sejenak, kemudian memutuskan hak pengasuhan kepada adik Hizan, berdasarkan kemaslahatan bagi si Ibu. Sebab adiknya Hizan masih sehat, berkecukupan, dan masih mampu menjaga ibunya juga.

Begitulah sejarah air mata Hizan yang juga mulai tua renta. Air mata penyesalan karena tak bisa memelihara ibunya jelang ajalnya. Dan, betapa terhormat dan agungnya sang Ibu yang diperebutkan anak-anaknya hingga seperti ini.

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang Ibu mendidik kedua putranya hingga Ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya untuk diperebutkan. Ini pelajaran mahal tentang berbakti, tatkala durhaka sudah menjadi budaya.

Baik Hizan, adiknya, dan ibunya akhirnya berbahagia dan berbagi peran bersama. Hizan menangis bukan karena benci adiknya, tapi hanya ingin mengabdi juga ke ibunya jelang masa ajalnya. Walaupun badan Hizan juga sudah mulai tua renta dan sakit-sakitan.

Beruntunglah yang masih mempunyai Ibu dan bisa membahagiakannya. Dulu ketika kita masih kecil suka merepotkan dan menangis tak tentu pasal tapi Ibu kita dengan tangan terbuka, tersenyum dan membahagiakan kita. Kalau di masa tuanya, Ibu kita menangis karena pikun dan merepotkan tak tentu pasal, tolonglah jangan dibentak-bentak!. (wk team- ariginanjar.com)

Posted on 26 Oktober 2014, in Humaniora and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: