Gadis Janda: Kisah nyata janda muda nan cantik yang menjaga kesuciannya


nike up

Oleh : Miftahul Huda

Kisah ini dituturkan oleh seorang gadis muda yang berparas cantik bak gadis belia usia belasan tahun. Dengan rambutnya yang lurus, tubuh yang molek dengan postur sedang, senyum khas ala gadis Korea makin menambah kesempurnaanya, sebagai gadis Timur dari tanah Kayong Utara. Tak disangka tak dinyana dari parasnya yang masih segar itu, ternyata gadis yang bekerja di sebuah warung kopi itu adalah janda muda yang luar biasa.

WK Team memang sudah lama memperhatikan gerak-gerik dari gadis janda tersebut, dari sisi penampilannya yang sederhana dan sopan santun serta keluguannya mengundang magnet tersendiri untuk menggali informasi yang sedalam-dalamnya dari kehidupan gadis tersebut. Dugaan kami benar, ternyata ia memiliki dinamika kehidupan yang sulit dilalui oleh siapapun. Hari itu juga ia berkisah bagaimana ia menjalani kehidupannya dari pulau seberang hingga di warung kopi bibir pantai. Supaya pembaca lebih mudah memahami dan menyelami kisah ini, kami menyajikan dengan gaya bahasa “Aku”.

Sebut saja namaku Hani, saat ini usiaku baru beranjak 27 tahun berjalan, aku tidak menutup-nutupi statusku saat ini, sebagai janda beranak satu. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa Aku tidak mau menikah lagi? Jawabannya bukannya Aku tak mau menikah, namun saat ini Aku trauma dengan masa laluku dalam kehidupan rumahtanggaku sehingga kandas. Ditambah lagi kadang-kadang anggapan orang terhadap janda dianggap sebagai pelampias nafsu belaka. Aku sesungguhnya merindukan kebahagiaan sebagaimana banyak dimiliki oleh pasangan hidup yang lain. Namun saat ini cukuplah Aku memiliki kebahagiaan tanpa pasangan daripada berpasangan namun akhirnya menyakitkan.

Aku terlahir dari keluarga pas-pasan di sebuah desa kecil di seberang lautan Kabupaten Kayong Utara, Pulau Maya. Aku hanya tamat sekolah dasar (SD), saat itu pendidikan belum gratis seperti sekarang ini, sehingga orangtuaku tak mampu membiayaiku untuk sekolah ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Walaupun sebenarnya Aku saat itu sudah bercita-cita ingin menjadi guru ketika dewasa kelak, namun dengan keadaan ekonomi itu Aku harus mengubur cita-citaku untuk menjadi Guru.

Namun niat mulia menjadi guru yang Aku yakini tersebut—walaupun Aku tak menjadi guru formal—ketika Aku ikut bibiku di Ketapang, Aku sempat mengabdikan diri menjadi guru ngaji. Ya guru ngaji juga cita-cita mulia dan sempat ku jalani, sebelum Aku bekerja rutin di sebuah sanggar tata rias pengantin ketika usiaku beranjak 14 tahun.

Tanpa terasa waktu berlalu, ternyata sudah dua tahun lebih Aku bekerja di sanggar tata risa pengantin di Ketapang itulah babak baru sejarah kehidupan asmaraku dimulai. Di suatu acara resepsi Aku berkenalan dengan seorang pria tampan sebut saja namanya Agung, ia berasal dari Kota Pontianak. Agung bekeja di Ketapang sebagai nelayan terol dan tinggal bersama keluarganya di Kampung Sampit Ketapang.

Dari perjumpaan pertamaku dengan Agung, bibit-bibit cinta mulai bersemi. Tak perlu waktu lama menjalin hubungan asmara. Hanya dalam waktu tiga bulan Aku meminta Agung untuk serius agar cepat melamarku. Pada awalnya Agung keberatan karena alasan pekerjaan, namun setelah diyakinkan dengan bibiku untuk menyegerakan hal-hal baik adalah sunnah, akhirnya aku bersama Agung pergi ke kampungku untuk memohon doa restu orangtuaku.

Karena orangtuaku adalah orang yang berpegang pada adat dan agama yang kokoh, Ia meminta Agung untuk cepat-cepat menikahiku. Orangtuaku juga sangat senang jika anak gadisnya yang jauh dari kampung halaman cepat menikah. Sebab, orangtuaku tak mau terjadi sesuatu yang memalukan terhadap keluargaku, seperti layaknya banyak yang terjadi pada saat ini.

Dua bulan perundingan antara Agung dan keluarganya cukup a lot. Akhirnya di bulan ketiga saat usiaku menginjak 17 Tahun berjalan, Aku dan Agung melaksanakan sunnah Rasul, menikah. Ijab-qabul dilaksanakan dengan tangan renta yang gemetaran oleh orangtuaku seraya berat melepaskanku.

Akhirnya Aku resmi menjadi milik Agung. Tangis bahagia dan haru tumpah pada detik-detik itu. Tidak ada satupun kamera yang mengabadikan momen-momen indah itu. Namun sampai saat ini aku masih dapat dengan jelas mengingat, bahkan terngiang-ngiang dengan jelas bagaimana orangtuaku mengijabqabulkan Agung untuk memilikiku.

Hari bahagia pertama akan dilalui dengan indah. Keesokannya adalah hari resepsi yang telah dipersiapkan dengan matang. Malam itu juga kami akan melalui malam pertama bahagia untuk merengkuh syurga dunia yang telah sah dinisbatkan agama.

Namun yang terjadi di malam pertama itu justru sebuah pertanda yang tidak baik bagi kehidupan rumahtanggaku di kemudian hari. Malam Itu, Aku tidak disentuh oleh Agung yang telah menjadi suami sahku. Malam itu adalah malam yang hambar. Malam yang hanya menyisakan kedinginan alam dan kegundahan hati.

Agung sepertinya memiliki beban pikiran atau bahkan mungkin penyesalan yang entah Aku tidak tau saat itu apa yang Ia pikirkan.

Sebagai seorang wanita awam, aku tidak tahu dengan jalan pikiran Agung yang kurasa cukup membingungkan. Sebab, ketika keesokan harinya Ia justru meninggalkan tempat resepsi yang harusnya pasangan pengantin duduk bersanding bersalam-salaman. Saat hari yang seharusnya bahagia itu, Aku hanya bisa menahan pedih dan tangis yang mendalam.

Aku coba untuk tabah dan tetap tersenyum menyambut para tamu yang memberikan ucapan selamat atas pernikahanku ada yang bertanya, “Kemana suamiku?”

Aku coba tutupi bahwa suamiku sakit. Hingga akhirnya ketika resepsi selesai, aku tumpahkaan semua duka dan laraku di ranjang pengantin sejadi-jadinya. Seorang diri.

Setelah meminta izin orangtuaku, keesokan harinya Aku langsung menyusul suamiku di Ketapang. Tepat di rumah keluarganya, Aku tak berjumpa dengannya. Keluargannya menerangkan Agung belanjak (pergi) ke Kota Pontianak menjenguk orangtuanya yang sedang sakit. Iya, Aku maklum saja sebab orangtua Agung mungkin juga karena sakit sehingga dalam momen bersejarah, anaknya tidak bisa datang. Aku kembali tetap sabar dan tabah menunggu kedatangan suamiku sambil kembali melakukan aktivitasku bekerja di sanggar tata rias pengantin.

Satu bulan kemudian Aku mendengar khabar dari teman-temanku di kampung Sampit jika Agung datang dari Pontianak. “Namun kenapa ia tidak datang padaku?” Aku bertanya-tanya.

Aku coba datangi dan ternyata benar. Agung datang bersama kedua orangtuanya. Aku sebagai anak menantu tentu harus menghormati mertuaku. Aku bersimpuh di kaki kedua orangtua Agung tanda baktiku sebagai seorang anak.

Aku yang polos saat itu sebenarnya sudah dapat merasakan bagaimana suasana saat itu. Terutama ibu mertuaku yang memandangku dengan pandangan dingin tanda kurang suka kepadaku. Apakah lantaran Aku hanyalah gadis desa yang bodoh, tak sekolah, dan miskin lantas ia tak suka padaku?

“Ah sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja,” hiburku dalam hati saat itu. Waktu berlalu dengan lambat. Aku hidup bersama Agung dengan menumpang di keluarganya. Kendati orangtua Agung telah pulang ke Pontianak. Aku merasa ada yang kurang dalam kehidupan rumahtanggaku, sebab perilaku Agung terasa hambar padaku.

Aku merasakan cinta dan kasih sayangnya hanya sebagian saja diberikan padaku. Sering kali Aku menepis perasaanku, namun fakta yang ku hadapi berbeda dengan yang ku rasakan.

Aku bagaikan pelengkap hidup bagi Agung rumahtangga kami dikendalikan orang lain. Setiap kali Agung mendapat uang, selalu saja uang itu ia setorkan pada orangtuanya. Sementara Aku sudah disuruh berhenti bekerja di sanggar tata rias, sehingga kehidupan kami hanya bisa menumpang di keluarga Agung dengan hidup yang pas-pasan.

Aku sudah beberapa kali memberi masukan pada suamiku untuk membuka usaha, namun suamiku tak pernah mau mendengarkanku. Walaupun Aku gadis desa yang kurang berpendidikan, tidak bisa diam, terbiasa bekerja keras.

Dua bulan kemudian kami membuat rumah sederhana di atas tanah milik keluarga Agung. Melalui sisa uang tabunganku kami bersama sama membangun tempat persinggahan, walau sederhana namun rasanya lebih tenang walau tinggal di rumah istana namun bukan rumah sendiri.

Di tahun ketiga Aku melahirkan seorang anak laki-laki, setelah memiliki buah hati ku rasakan Agung semakin tidak fokus memperhatikanku. Akhirnya suatu saat tanpa sebab yang jelas setelah acara gunting rambut anakku, Agung pergi tanpa pamit meninggalkanku hingga berbulan-bulan lamanya.

Ternyata Agung pulang ke rumah orangtuanya di Pontianak, Aku bersama anakku menyusul ke sana dengan biaya pas-pasan. Namun sesampainya di sana, suamiku sengaja disembunyikan orangtuanya, namun Aku tetap tabah dan sabar hingga akhirnya Agung menemuiku dengan wajah yang bimbang, gelisah bercampur-aduk tidak menentu.

Saat itu sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya, Aku minta dengan Agung jika sudah tidak berkehendak lagi hidup denganku, kembalikan saja Aku ke orangtuaku dengan baik-baik. Sebagaimana layaknya Ia mengambilku beberapa tahun silam di hari pernikahan indah bersejarah itu.

Agung tidak memberikan jawaban pasti. Ia hanya menyuruhku pulang dan menjual rumah sederhana yang kami bangun dua tahun silam di atas tanah keluarganya. Ia hanya meminta maaf jika selama ini telah menyakiti hatiku. Ia akan menyusul jika segalanya sudah selesai, begitu akhir kalimatnya sambil meninggalkanku.

Akhirnya Aku pulang dengan duka lara nan pedih bersama anakku. Kurasa biduk (perahu) rumah tangga sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Rasa cintaku terhadap Agung ternyata tidak berbalas. Sesuai dengan anjurannya, akhirnya Aku jual rumah sederhana itu dengan harga murah, hanya Rp3,5 juta.

Setelah itu aku pamit pulang ke kampungku dengan tujuan mengubur kenangan pahit bersama Agung. Aku sudah tidak berpikir lagi Agung kembali atau menjenguk anakku. Aku pikirkan adalah bagaimana bisa memulai hidup baru tanpa memikirkannya.

Tidak sampai satu bulan Aku pulang kampung, memutuskan untuk bekerja dengan menitipkan anakku pada orangtuaku. Aku coba cari peruntungan di Ketapang, mencoba bekerja sebuah café. Awalnya aku betah karena gajiku cukup lumayan. Namun bulan kedua Aku putuskan untuk keluar sebab banyak tamu café yang iseng, nakal, genit, sehingga cepat atau lambat Aku akan terpengaruh oleh bujuk rayuan tamu-tamu nakal itu.

Kembali Aku bekerja di sebuah warung makan di Ketapang. Walau dengan gaji pas-pasan, namun Aku masih dapat mengirim uang pada keluargaku di kampung. Aku sudah mulai hidup tenang dengan bekerja dan beribadah sambil menunggu uang bulananku, hingga akhirnya suatu saat Aku kenal seorang laki-laki paruh baya yang tertarik padaku. Ia mengaku sudah menduda selama beberapa tahun karena istrinya meninggal. Singkat cerita, Ia mengajakku menikah. Namun Aku masih pikir-pikir sebab belum lama mengenalnya.

Pria paruh baya itu sebut saja namanya Pak Herman, orangnya baik dan perhatian. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Ketapang, hidupnya cukup mapan. Anak-anaknya sudah ada yang bekerja dan ada dua orang yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ia kerap juga membawa anaknya makan bersama ke rumah makan tempat kerjaku, sehingga akhirnya Aku akrab dengan keluarga pak Herman.

Tak pernah lagi Pak Herman mengajakku untuk menikah semenjak Aku menolaknysa secara halus pertama kali. Padahal saat itu Aku sudah siap untuk menikah dengannya, namun tak mungkin Aku bicara padanya. Aku adalah seorang wanita Timur yang tetap menjaga adab sopan, santun sehingga Aku harus menunggu. Walaupun Aku yakin saat itu Ia juga mungkin menunggu jawaban dariku. Sudahlah Aku pendam saja perasaanku hingga akhirnya Tuhan menggerakkan lisan Pak Herman, untuk kembali membuka kata, “Menikahlah denganku.”

Hingga suatu saat di setiap Sabtu dan Minggu biasa rutinitas Pak Herman makan di tempat kerjaku. Namun dalam perkembangannya, empat minggu berselang, Ia tidak penah muncul dan terdengar kabar berita.

Pada suatu hari datanglah secarik undangan pernikahan ditujukan kepadaku. Masyaa-Allah, gemetar tanganku membaca ketika aku tahu bahwa undangan pernikahan itu adalah pernikahan Pak Herman, orang yang Aku tunggu-tunggu ajakannya yang dulu pernah mengajakku menikah. Padahal saat itu pula, ku sudah mulai jatuh cinta padanya. Aku merasa menyesal. Ternyata Aku hanya mengulur ulur waktu dan kesempatan emas itu senyap. Dan pada akhirnya Aku kembali merana.

Kembali ku pendam hasrat cintaku. Aku coba lari dari keadaan, mengundurkan diri dari pekerjaanku. Akhirnya kota Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, menjadi tempatku berlabuh. Aku bekerja sebagai pelayan warung kopi di tepi pantai nan indah, sambil mengheningkan suasana hati yang gundah karena asmara. Bekerja di tempat baru yang hening ini Aku merasa lebih tenang. Tak lupa pula Aku selalu kirim uang untuk orang tua dan anakku setiap bulannya.

Di sini kembali Aku berkenalan dengan duda. Ia sangat baik padaku dan mengajakku untuk menikah. Hampir saja aku mengiyakan, namun naluriku menolak dengan halus untuk meminta waktu agar Aku berpikir terlebih dahulu. Pria tersebut tidak masalah, walau ada sedikit kekhawatiran dari pengalamanku dengan Pak Herman. Namun Aku tetap saja meminta petunjuk pada Allah bahwa kehati-hatian adalah jalan yang diridhoi-Nya.

Ternyata benar apa yang Aku lakukan tidak salah. Allah masih menyelamatkanku, ternyata orang yang mengajakku menikah terakhir kali itu adalah laki-laki yang tidak baik. Sebab menurut teman-temanku, perangai laki-laki duda itu sering kali membawa perempuan tak benar dan mabuk-mabukkan.

Semenjak saat itu Aku selalu berdoa kepada Allah agar diberikan jalan yang lurus dan dihindarkan dari marabahaya serta fitnah dunia. Dengan mendekatkan diri kepada Allah perasaanku lebih tenang, walau terkadang sesekali terbersit rasa gundah, mungkin itu merupakan suatu kewajaran yang manusiawai.

Tak terasa empat tahun berjalan aku bekerja dengan tenang. Aku beryukur dapat membantu orangtuaku sedikit demi sedikit membangun rumah yang sudah usang. Anakku kini sudah mulai bersekolah. Ku harapkan nasib anakku tak sepertiku saat ini. Aku ikhlas dengan statusku saat ini. Kendatipun masih janda, Alhamdulilah masih mampu menjaga kehormatan serta harga diriku sebagai janda terhornat dan tentunya sebagai umat yang beriman.

Semua Aku serahkan pada Allah SWT. Nasibku tak ubahnya mengkuti irama takdir illahi yang telah dituliskan padaku. Inipun Aku harus banyak bersyukur sebab banyak kenikmatan yang diberikan padaku dengan cuma-cuma.

Takaran syukurku adalah bagaimana aku masih dapat membesarkan anaku dan sedikit meringankan beban orangtuaku. Keluargaku saat ini adalah fokus utamaku. Kendatipun janda, Aku masih dapat berjuang untuk mereka hingga akhirnya takdir menentukan langkahku di kemudian hari. n

Posted on 23 Oktober 2014, in Sastra and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: