Kelompok Pahlawan Lancang Kuning


kreativitas--Kelompok Pahlawan Lancang Kuning--ok

//FOTO: Ketua Sanggar Lancang Kuning, Ismail (kanan) menunjukkan peralatan seni tradisional pinjaman di kediamannya. MIFTAHUL HUDA/WK

Di tengah-tengah arus zaman yang berlari kencang, serta arus modernisasi yang menggerus arus budaya yang semakin surut, rupanya masih ada kelompok budaya yang masih eksis serta konsen mengasah dan menjaga kelestarian seni budaya untuk tetap lestari, bestasi, nan abadi.

Pahlawan-pahlawan yang dimaksud, kelompok seni budaya bernama Sanggar Lancang Kuning, pimpinan Ismail, warga desa Nipah Kuning kecamatan Simpang Hilir. Ia memprakarsai berdirinya sanggar ini beberapa tahun lalu.

Melalui darah seninya yang mengalir semenjak usia dini, Ismail memberdayakan para remaja desa Nipah Kuning mengembangkan seni budaya lokal. Supaya tak tergerus modernisasi.

“Walaupun tak mendapatkan nilai ekonomi dari kegiatan ini, namun merasa memiliki kepuasan dan kebanggaan tersendiri. Manakala dapat memberikan sumbangan berupa waktu, pikiran, serta tenaga untuk perkembangan seni budaya lokal yang saat ini sangat memprihatinkan keaadaannya,” ungkap Ismail.

Di sela-sela kesehariannya sebagai Kepala Dusun, Ismael bersama para remaja berlatih rutin dua kali dalam satu minggu. Gunakan alat sederhana dan pinjaman dari partner Sanggar Simpang Betuah, pimpinan Raden Jamhari yang selama ini mereka saling mengisi dan melengkapi.

Saat ini ada 15 remaja aktif berlatih bersama sanggar Lancang Kuning. Mulai usia sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkatan atas. Selama ini biaya operasional mereka tanggung bersama sama. Bahkan Ismail sebagai pembina kerap kali berkorban untuk kepentingan itu.

Bidang seni budaya sanggar Lancang Kuning, satu di antaranya mengasah dan mendalamai seni hadrah, jepin (zapin), rodad (pengaruh Turki Ottoman), dan syair gulung dengan mengedepankan keaslian asal-muasal seni itu sendiri.

Kepala Desa Nipah Kuning, Murisidi merasa bangga dengan adanya kreativitas yang tumbuh di desanya. “Sesunguhnya sangat banyak potensi anak daerah yang memiliki minat dan bakat seni. Ke depan, desa akan berusaha memberikan support (dukungan, red) pada sanggar tersebut dan kreativitas lain di masyarakat,” ucapnya. (MH/ WK Team)

Posted on 18 Oktober 2014, in Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: