Derita Manisnya Madu Sukadana


101_0999

Mau loncat, loncatlah katak

Meloncat ke arus yang deras

Mau melekat, melekat am Jatak

Dari kulit sampai ke teras

 (Mantra sebelum membuat Jatak)

???????????????????????????????

 Sore itu saya mendatangi rumah kediaman Jainudin yang biasa disapa Pak Usu Jai. Lelaki Melayu berusia 60 tahun, kelahiran Sukadana yang berprofesi sebagai tukang panen madu lebah liar Sukadana. Kedatangan saya bermaksud hendak membeli madu lebah liar yang biasa dipanennya  dari hutan pegunungan Sukadana dan sekitarnya.

Akan tetapi Pak Usu Jai mengatakan tahun ini beliau tidak menemukan sarang lebah yang ada madunya, bahkan sekarang ini sudah jarang sekali dia menemukan sarang lebah yang menggantung.

Pak Usu Jai menceritakan kepada saya, hasil panen madu liar sekarang ini sangat jauh menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Pak Usu Jai berkata, “Saye biase dapat sampai 30 botol sekali panen. Karena pada sebatang pohon mencapai puluhan sarang yang ada madunya. Ape agek kalo’ di pohon Benuang,” tuturnya dalam dialeg Melayu khas Sukadana.

Ketika saya tanyakan apa penyebab menurunnya pendapatan madu belakangan ini? Beliau mengatakan mungkin karena sudah banyak musnahnya pohon-pohon besar yang menjadi tempat lebah membuat sarangnya . Pak Usu Jai mengatakan di daerah Kayong ini hanya ada beberapa pohon yang biasa dijadikan lebah untuk menganggar (membuat) sarang, yakni pohon Bengkirai, Benuang, Pelaik , Belayang, Sindur, dan Dabong atau yang biasa dikenal dengan pohon Kedaung .

Di sela ceritanya Pak Usu Jai menaruh harapan kepada semua pihak, baik masyarakat individu maupun pihak perusahaan  agar tidak menebang pohon Bengkirai, Benuang, Pelaik , Belayang, Sindur, dan Dabong karena pada pohon itulah lebah biasanya membuat sarang.

Pada kesempatan lain saya juga mendatangi pohon Benuang yang telah dipasangi Jatak (tangga dari bambu yang merekat di batang pohon) oleh beliau. Tepatnya, terdapat di antara pohon durian warga.

“Sudah lama pohon Benuang ini tak didatangi lebah,” keluh Pak Usu Jai.

Pak Usu Jai sempat berujar mungkin karena letak pohon ini berada di antara tanaman durian, saat durian berbuah si pemilik kebun menebas dan membakar rumput di bawah pohonnya, sehingga asap dari pembakaran itu diperkirakan menjadi penyebab lebah enggan membuat sarang.

Di ujung pembicaraan beliau melantunkan mantra yang biasa digunakannya saat membuat Jatak , ketika akan mengambil madu lebah liar  di atas pohon. Saya tertarik mendengarnya dan minta kepada beliau untuk mengulangi mantra tadi, syairnya sangat mirip dengan pantun orang Melayu.

N

Alang’ Dy

Posted on 18 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: