Terpencil Tidak Berarti Terbelakang


rangga intan 2_warta kayong

Ketapang, Warta Kayong – Kota dalam Desa. Itulah kalimat yang pas untuk mengambarkan kondisi Desa Rangga Intan, Kecamatan Jelai Hulu. Desanya bersih, indah dan terta rapi. Penduduknya ramah dan terbuka terhadap orang asing. Namun mereka tetap memegang teguh nilai luhur dan tradisi mereka.

Ketika memasuki desa ini, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan lingkungan dan alamnya yang indah, hutannya yang lebat. Dinginnya hawa pegunungan, membuat kita betah meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan kota yang panas, melepaskan penat di kotanya desa ini.

Berada di desa dengan penduduk 113 KK dan 388 jiwa ini, seolah kita sedang berada di tengah kota. Yang membedakan desa ini dengan kota sebenarnya, yaitu tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Tidak ada bangunan pencakar langit. Jalannya belum di aspal. Dan jaringan listrik tidak tersedia.

Kiri kanan jalan, tepatnya di depan rumah warga sepanjang jalan, berpagar rapi dan lurus. Di bahu jalan tersedia saluran air (drainase) permanen. Ini mengambarkan, betapa kompak dan sejahteranya kehidupan penduduk Desa Rangga Intan.

Menariknya. Selama anggota/rombongan Journalist Visit berada di desa ini. Dari tanggal 1-5 September 2014. Tak satu pun ternak besar, seperti babi berkeliaran di jalan. Padahal, warga Rangga Intan beternak babi juga. Tak seperti desa pedalaman lainnya. Ternak-ternak berkeliaran di jalan.

Warga Rangga Intan memiliki kesadaran tinggi untuk tidak melepaskan ternaknya secara bebas. Tidak seperti di tempat kita. Kebanyakan peternak membiarkan sapi dan kambing berkeliaran bebas. Bahkan di Ibukota Kabupaten dan kecamatan saja, ada peternak yang membiarkan kambingnya berkeliaran di jalan raya. Ini tentu dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.

Padahal, Undang-Undang Nomor 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, jelas mengatur cara bertenak yang baik. Bahkan jika pengguna jalan mengalami kecelakaan karena ternak kita, pemilik ternak bisa di sanksi hukum (denda/penjara).

Meminjam ungkapan Cornelis, SH, MH, Gubernur Kalimantan Barat. “Di tempat kita ini aneh. Tanaman di kandang (di pagar). Sementara sapi, babi dan kambing dilepaskan, alias tidak di kandang”. Dan faktanya itu benar. Tapi tidak dengan Rangga Intan.

Desa pemekaran dari Desa Tanggerang tahun 2005 ini, menyimpan segudang prestasi. Bulan April 2014, Desa Rangga Intan pemenang pertama lomba desa tingkat Kabupaten Ketapang. Menjadi delegasi Ketapang di tingkat provinsi bulan Juni 2014. Hasilnya, Rangga Intan sebagai pemenang kedua se- Kalimantan Barat.

Ini tentu berbeda dengan daerah dan desa lain. Lomba desa dianggap kegiatan musiman. Serimonial semata. Ketika lomba desa selesai, selesai pula semuanya. Lingkungan indah, bersih, tanaman toga tersedia dan administrasi desa baik hanya pada saat lomba saja. Setelah itu, kembali seperti semula (semeraut).

Terpencil dan berada di pedalaman tak membuat desa ini terbelakang. Sumber daya manusianya tidak bisa dianggap gampang. Terbukti dari prestasi yang mereka raih. Untuk menjadi juara 1 lomba desa tingkat kabupaten itu tidak gampang. Dua ratus lebih desa harus mereka taklukan. Belum lagi persaingan di tingkat provinsi.

Pemerintahan Desa Rangga Intan dan masyarakatnya tidak serta merta ditunjuk dan memenangkan kompteisi teresebut. Budaya kompak, tertib dan bersih sudah tertanam jauh sebelum kompetisi desa dimulai. Inisiatif mereka dalam mengelola desa luar biasa. Inilah menjadi alasannya, mengapa Pemda Ketapang menetapkan Rangga Intan sebagai pemenang lomba.

Dalam dunia pendidikan. Baik formal, nonformal maupun informal mereka tidak ketinggalan dengan daerah lain. Bahkan ada diantara mereka, belajar dan mengikuti kegiatan hingga keluar Kalbar.

WK jadi ingin tahu, apa kunci suskses Rangga Intan dalam mengelola desanya. Jum’at, 5 September 2014, sebelum kembali ke Ketapang. WK berkesempatan ngobrol dengan Danatus David (28), Kepala Desa (Kades) Rangga Intan. Kades muda ini bercerita, bahwa masyarakat di desanya sangat kompak. Selama tujuannya baik dan untuk kepentingan bersama, mereka akan ikut.

Setiap bulan, pada tanggal 20 kalender Masehi, warga desa gotong-royong membersihkan lingkungan. Bahkan ibu-ibu pun aktif dalam kegiatan ini. Cara mereka mengumpulkan warga sangat sederhana. Cukup dengan memukul gong, maka warga akan berkumpul dan kerja bakti.

Berbeda dengan tempat kita. Dipukul sampai pecah pun gongnya, tak akan ada satu orang pun yang datang. Karena tradisi tersebut telah tengelam ditelan arus jaman. Diumumkan secara resmi saja warga enggan datang. Apa lagi hanya dengan memukul gong? Bisa dianggap orang sinting. Kenapa? Karena kita tidak lagi menyepakati tradisi baik ini, yang dulu pernah ada.

Benar saja. Pagi-pagi, warga Rangga Intan pada sibuk membersihkan halaman rumah mereka. Ini menjadi rutinitas warga sehari-hari. Setiap rumah warga tersedia bak sampah. Sulit kita temukan sampah berserakan di jalan dan halaman rumah penduduk. Desa ini benar-benar bersih.

Saat WK Tanya dari mana warga mendapatkan bak sampah kayu ulin tersebut. Orang nomor di Desa Rangga Intan menjelaskan. Bahwa itu merupakan hasil swadaya masyarakat setempat.

Wajar saja jika Rangga Intan mendapatkan prestasi gemilang. Pemimpin dan masyarakatnya sangat kompak. Pengelolaan desanya sangat baik. Baik pengelolaan lingkungan, hutan, maupun administrasi Pemerintahan Desa.

Antara Kades dan masyarakat, seakan tak berjarak. Keterbukaan Kades dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, membuat masyarakat mengaguminya. Sehingga munumbuhkan semangat dan kesadaran masyarakat, untuk berpartisipasi aktif di desanya. Ini patut kita tiru. (Has)

Posted on 10 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: