Tanjung Beulang: Bertahan di Tengah Kepungan Sawit


hutan desa tanjung beulang 3_warta kayong

Ketapang, Warta Kayong – Desa Tanjung Beulang, Kecamatan Tumbang Titi, merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Ketapang. Jarak desa ini dari Kota Kecamatan sekitar 21 km. Sedangkan ke Kabupaten, berjarak 101 km.

Desa yang berpenduduk 364 jiwa dan 136 KK ini, sangat menarik. Hingga kini, masyarakat desa tersebut konsisten mempertahankan hutan mereka. Padahal desa tetangga di sekeliling mereka, telah banyak warga yang melepaskan lahan dan hutan mereka untuk pertambangan dan perkebunan sawit.

Luas keseluruhan Desa Tanjung Beulang 9.000 hektar. Dengan areal pemukiman 1.500 hektar, HKM 2.750 hektar, HD 1.500 hektar. Dan sisanya 3.575 hektar adalah hutan lindung (HL). Dengan mengantongi Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 588/Menhut/II/2011, Hutan Desa seluas 1.750 hektar tersebut, resmi secara hukum.

Bentuk keseriusan dan komitmen penduduk setempat, tercermin dari kesepakatan mereka tentang Hutan Desa (HD) dan Hutan Kemasyarakatan (HKM). Desa ini telah memiliki peta tata ruang desa. Pembagian areal APL, HD, HKM dan HL jelas tertera dalam peta tata ruang tersebut.

Kepatuhan masyarakat Desa Tanjung Beulang terhadap hukum patut diacungi jempol. Baik kepatuhan terhadap Hukum Konvensional (adat), maupun Konstitusional. Seperti hukum adat misalnya. Bagi warga yang melanggar pantangan (larangan) menebang pohon untuk lokasi berladang, konseksuensinya akan menerima hukum adat.

Menurut Anasius S. (33), Kepala Desa (Kades) Tanjung Beulang, Rabu (3/9/2014). Kesepakatan/pantangan masyarakat dalam membuka lahan untuk berladang, benar-benar dipatuhi warga. Misalnya, sisa binatang mandi, pohon tempat bintang bersarang/diam, pohon atau tanaman yang buahnya bisa di makan, tak boleh ditebang dan dijadikan ladang.

Yang ditetapkan sebagai hutan desa atau hutan kemasyarakatan saja, tidak boleh ditebang semaunya. Apa lagi hutan yang dilindungi? Penebangan kayu di HD atau HKM, hanya dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan terukur. Serta harus memperhatikan pantangan-pantangan, yang secara turun-temurun berlaku di masyarakat Dayak Pesaguan, khususnya Desa Tanjung Beulang, terang Kades.

Tokoh masyarakat setempat, Silin (67), memberikan alasan, mengapa mereka mempertahankan kebun dan hutan mereka. Menrut beliau, fungsi hutan itu sangat banyak. Sepeti tempat hidup hayati dan ekosistemnya. Penyuplai oksigen, sarana untuk adat, sumber air, sumber resap air dan sebagainya.

Mantan Kades Serekah ini memaparkan. Jika hutan tidak memiliki fungsi sebagaimana mestinya, maka kehidupan kita menjadi tidak seimbang. Bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, puting beliung dan lain-lain akan mudah terjadi. Karenanya, sebelum semua itu terjadi, masyarakat telah mengantisipasinya.

Lori (56), penduduk asli Tanjung Beulang, pun membenarkan keterangan Kades dan Silin. Bagi Lori dan warga Tanjung Beuang lainnya, hutan adalah sumber kehidupan mereka. Jika hutan tersebut rusak, maka rusak pula sumber kehidupan mereka.

Lori merasa lebih enak kerja mandiri. Mengolah dan mendapatkan hasil dari kebun sendiri. Ketimbang harus kerja di bawah tekanan. Jadi kuli di kebun sawit, yang hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Bahkan kebanyakan karyawan sawit, ketika akhir bulan menus pendapatannya.

Biarlah desa lain menjadikan sawit sebagai primadona di tempat mereka. Tidak dengan kami di Tanjung Beulang. Kami masih ingin memanen karet, buah durian, tengkawang, jengkol, memanen lebah dan jenis buah hutan lainnya. Karena di kebun sawit, buah-buah tersebut tidak kita temui, tutur Lori.

Sikap masyarakat Tanjung Beulang ini sangat kontras dengan desa lain disekitarnya. Bahkan di tempat kita – Kayong Utara. Masyarakat kita justru berlomba-lomba membangun sawit. Menyerahkan tanah dan hutan mereka ke pihak lain, untuk di bangun perkebunan sawit. Padahal, dampak negatifnya jangka panjang lebih besar, ketimbang manfaatnya.

Mungkin, kita harus banyak belajar dengan warga dan Kepala Desa Tanjung Beulang. Mereka tidak tergiur, mestipun desa mereka di kepung sawit. Komitmen mereka tinggi dalam melestarikan alam. Karena mereka sadar, bahwa mereka meminjam hutan ini dari anak cucu mereka, untuk diwariskan kepada mereka nanti. (Has)

Posted on 8 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: