Journalist Visit: Membangun Kepekaan Jurnalis


menanam pohon-usaid ifacs-warta kayong

Ketapang, Warta Kayong – Perubahan iklim yang terjadi di dunia hari ini, erat kaitannya dengan prilaku manusia dan tatakelola lingkungan yang tidak seimbang. Musim kering dan basah (hujan) tidak menentu lagi. Banjir dan kekeringan menjadi menu berita sehari-hari. Tanah longsor dan puting beliung kerap terjadi. Sebab, manusia tidak lagi menjadikan alam sebagai sahabat baik dalam kehidupannya.

Melihat fenomena ini. USAID IFACS. Atau lembaga yang mendukung program Kehutanan dan Perubahan Iklim Indonesia. Mengambil bagian dalam program terpadu perubahan iklim, tatakelola hutan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.

Sebagai NGO yang bergerak di lingkungan hidup, USAID IFACS telah aktif mengkampanyekan dampak perubahan iklim. Kemudian mengintergrasikan kekuatan masyarakat, pihak swasta dan Pemerintah. Agar mereka melakukan praktik pengelolaan hutan secara baik dan tepat guna.

Selain itu, USAID IFACS juga memfasilitasi berbagai kegiatan startegis lainnya. Seperti pelatihan Kajian Lingkungan Strategis (KLHS) untuk RTRW, pengelola hasil hutan nonkayu, penghijauan dan kegitan pemberdayaan lainnya.

Jurnalis dan media massa dipandang sebagai sarana yang paling efektif dalam menyebarkan informasi dan mengkampanyekan perubahan iklim. Baik kepada masyarakat maupun pengambil kebijakan. Oleh kerena itu, program Journalist Visit 2014 yang digagas USAID IFACS, di nilai sangat stategis.

Sesuai Term Of Refern (TOR), kegiatan journalist visit dilaksanakan di dua kecamatan, empat desa di Kabupaten Ketapang. Yaitu, Desa Tanjung Beulang dan Desa Petebang Jaya, Kecamatan Tumbang Titi. Kemudian Desa Pasir Mayang dan Rangga Intan, Kecamatan Jelai Hulu.

Rencananya, kegiatan tersebut berlangsung lima hari. Terhitung tanggal 31 Agustus – 4 September 2014. Termasuk perjalanan pergi dan pulang. Efektifnya, jurnalis tinggal bersama warga hanya dua hari dua malam saja.

Perjalanan menuju ke lokasi liputan, memakan waktu panjang dan melelahkan. Mengingat, kondisi jalan yang berdebu tebal, tak rata dan berombak. Dengan jarak tempuh antara 101 – 120 KM dari ibu kota Kabupaten Ketapang.

Berangkat dari Ketapang, Minggu (31/8/2014), pukul 09.30 WIB. Tiba di Posko USAID IFACS – Desa Petebang pukul 16.40. Setelah istirahat sejenak, sembari berbual-bual dengan teman dan masyarakat setempat. Menikmati hidangan tuan rumah, yaitu buah Kemayau (buah hutan). Buah ini rasanya lezat bak alpukat. Setelah itu, para jurnalis mandi bareng di sungai yang tak jauh posko.

Setelah makan malam. Menikmati lezatnya buah Kekelik (sejenis belimbing hutan), kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program USAID IFACS, dan tujuan Journalist Visit. Kemudian perkenalan antar warga dan wartawan, pembagian area liputan, serta diskusi ringan. Suasana santai dan akrab terjalin. Baik antara wartawan yang belum saling kenal, maupun dengan warga setempat.

Dalam kesempatan itu, Ekki, perwakilan USAID IFACS dari Jakarta memaparkan program USAID IFACS. Dikatakan Ekki, USAID IFACS hadir membantu Pemerintah Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia, bahkan dunia. Tujuan akhirnya, yaitu mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca. Kerena, efek perubahan iklim sudah dirasakan diseluruh Indonesia.

Contohnya, lanjut Ekki. Musim kemarau yang lebih panas dan lama. Curah hujan lebih sedikit di musim kemarau, dengan tingkat kekeringan cukup parah. Hujan yang lebih lebat di musim hujan. Serta permukaan air laut yang meningkat.

Tugas teman-teman wartawan dalam Journalit Visit, yaitu mengkaji/mengetahui cara masyarakat dalam mengatasi perubahan iklim. Apa yang dilakukan masyarakat setempat untuk mengatasi hal tersebut. Kemudian dikaji dan dibuat beritanya. Sesuai tempat tugasnya masing-masing, pesan Ekki.

Alexander Mering, Koordinator Program USAID IFACS Ketapang-KKU, berharap. Para jurnalis dapat membaur bersama warga. Melakukan apa yang mereka lakukan. Seperti memoar lebah, ke ladang, menangkap ikan dan lain-lain. Sehingga jurnalis ikut merasakan apa yang warga lakukan dan rasakan.

Selama ini, kebanyakan wartawan hanya meliput, duduk di ruang ber-AC dan mengetik berita seputar kota atau daerah yang terjangkau saja. Melalui Journalist Visit, wartawan diajak tinggal dan membaur bersama masyarakat pedalaman. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Ikut melakukan apa yang mereka lakukan. Kemudia menulis hal-hal yang dialami atau ditemukan di lapangan.

Fungsi wartawan dal ini, tidak sebagai pewawancara saja, dan masyarakat sebagai salah satu nara sumbernya. Namun, antara masyarakat dan jurnalis, sama-sama jadi narasumber. Sehingga hubungan humanis antara wartawan dan masyarakat, terjalin dan saling mengisi, pungkas Mering.

Hari kedua (1/9/2014). Dengan berjalan kaki sepanjang 4 KM pulang-pergi. Para wartawan, warga, Kepala Desa, pengurus USAID IFACS dan kader Yayasan Diantama melakukan penanaman pohon. Lokasi yang dipilih adalah padang ilalang. Eks hutan prima yang gundul akibat kebakaran 1997, dan pembalakan liar sejak tahun 2000-an. Lokasi ini masih berada di wilayah Desa Petebang Jaya.

Masing-masing peserta, minimal menanam 2 pohon perorang. Sekitar 20 orang ikut terlibat menanam pohon jengkol, durian dan petai. Termasuk 8 orang wartawan ikut menanam. Jumlah pohon yang tertanam, yaitu 48 pohon.

Alexander Mering berharap, agar warga setempat dapat memelihara yang telah di tanam. Kemudian melanjutkan penanaman. Agar hamparan yang gundul tersebut, kembali menjadi hijau. Sehingga 5 atau 6 tahun medatang, kita sudah bisa memetik hasilnya.

“Andaikan seratus orang wartawan yang ikut menanam. Dua pohon saja perorang. Maka tidak ada lagi hutan/lahan yang gundul,” kata Mering bercanda.

Pukul 14.00, para wartawan lokal dan nasional telah siap-siap berangkat ke tempat liputan masing-masing. Eko Susilo (Borneo Tribun) dan Purnawan Setyo/Ipang (Majalah Gatra), mendapat tugas di Desa Rangga Intan. Aris Munandar (Media Indonesia) dan Aristono Edi Kiswantoro (Pontianak Post) di Desa Pasir Mayang.

Kemudian, Hasanan (Warta Kayong) dan Yupie Burnama (TVRI/Trans 7) di Desa Tanjung Beulang. Sedangkan Andi Fachrizal (Mogabay/Jurnal Nasional) dan Hendri (Tribun Pontianak) tinggal di Desa Petebang Jaya.

Di tempat liputan masing-masing, para jurnalis benar-benar merasakan nuansa dan pengalaman baru. Banyak cerita menarik yang bisa dicertitakan. Baik pengalaman pribadi jurnalis. Maupun cerita tentang kehidupan, fanorama alam, adat istiadat dan keramahan penduduk desa yang dikunjungi. Waktu 2 hari 2 malam, terasa cepat untuk tinggal dan membaur bersama warga.

Secara terpisah. Menejer USAID IFACS Kabupaten Melawi, Ketapang dan Kayong Utara, Donatus Rantan, mengemukakan. Media massa memiliki peran peting dalam pembangunan. Tujuan Journalist Visit, yaitu untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Terutama masyarakat yang terbelakang dan terisolir.

Masyarakat di empat desa tersebut, secara turun temurun telah menjaga hutan. Sepantasnya Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat memperhatikan kesejahteraan mereka. Memenuhi kebutuhan dasar mereka. Seperti kebutuhan infrastruktur jalan, jembatan, listrik , air bersih dan lain-lain.

Ketika infrastruktur jalan baik misalnya, maka roda perekonomian mereka akan bejalan dengan baik. Warga akan mudah menjual hasil pertaniannya. Sehingga kesejahteraan masyarakat akan terwujud. USAID IFACS berkepentingan mendorong semua pihak untuk memperhatikan itu.

Dengan menjaga hutan, berarti masyarakat telah berkontribusi besar dalam pembangunan. Dampaknya yaitu, mengurangi emisi gas rumah kaca. Baik untuk kepentingan masyarakat sendiri, Pemerintah, maupun masyarakat internasional, tutur Dantus Rantan. (Has)

Posted on 8 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: