Donatus Rantan: Menjaga Hutan Berati Menjaga Adat


donatus rantan_warta kayong

Ketapang, Warta Kayong – Dengan menjaga Hutan, berarti kita telah menjaga adat. Demikian ungkapan Donatus Rantan. Menejer USAID IFACS Kabupaten Ketapang, Kayong Utara dan Melawi, disela-sela acara penutupan Journalist Visit 2014. Di Desa Rangga Intan Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang (4/9/2014).

Lihat saja masyarakat yang desanya telah di kepung sawit. Kebudayaan, adat istiadat mereka, perlahan akan terkikis. Mereka tidak lagi memiliki dan dapat memanen buah dari kebun mereka. Sebab kebun buah mereka telah berubah menjadi kebun sawit.

Mereka tidak bisa lagi menghirup udara segar dari pegunungan. Namun menghirup debu, asap pabrik dan pembakaran lahan. Air sungai tidak lagi jernih dan aman untuk di konsumsi, karena sudah bercampur limbah, racun dan bahan kimia.

Tapi tidak untuk masyarakat Desa Rangga Intan, Pasir Mayang, Petebang dan Tanjung Beulang. Mereka memiliki kearifan lokal dalam menjaga hutan. Falsafah hidup mereka yaitu, “Sasak be udang, natai bejolu, lubuk be ikan”. Jika diterjemakan secara bebas artinya, “Serasa dalam air banyak udang, lereng bukit banyak hewan buruan, di lubuk teluk banyak ikan”.

Masyarakat di empat desa ini memiliki komitmen yang tinggi dalam melestarikan hutan. Sebab mereka menyadari betul, bahwa di hutan tersedia sumber daya air, cadangan makanan, tanaman obat-obatan dan sumber kidupan lainnya. Jika hutan rusak, maka kehidupan mereka akan terganggu. Sumber daya ini, merupakan kompensasi terbesar dari alam buat mereka.

Karena itu, mereka telah membuat keputusan untuk melindungi hutan. Menjaga hutan dengan mempraktikan kearifan lokal, adat-istiadat yang diperkuat dengan kesepakatan Community Counservation Livehood Agreement (CCLA). Demi melindungi kawasan hutan, pedahasan, sungai dan gunung. Serta melindungi keanekaragaman hayati yang ada di wilayah desa mereka.

Mereka sepakat menetapkan wilayah hutan desa (HD) dan hutan kemasyarakatan (HKM). Serta menjaga hutan lindung (HL), demi menjaga keseimbangan alam. Mewariskan alam buat anak cucu mereka, agar kelak mereka tidak menderita. Hakikatnya, alam ini kita pinjam dari anak cucu kita, untuk kita wariskan kepada mereka.

Mereka tidak tergesa-gesa menyerahkan tanah dan wilayah mereka kepada pihak lain. Baik untuk kepentingan eksploistasi, maupun untuk membangun perkebunan komersial. Mereka memiliki prinsip yang kuat. Dari hasil tanaman perkebunan, buah-buah dan ladang saja, sudah lebih dari cukup bagi masyarakat untuk bertahan hidup.

Adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim sudah terjadi sejak dulu. Misalnya, dengan pembagian area perladangan yang jauh, antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Setelah itu, tanah bekas ladang ditanami karet, durian dan tanaman buah-buah lainnya.

Ada bera (jarak) pembukaan lahan yang panjang, untuk mungurangi karbon. Ada pantangan/larangan yang harus mereka patuhi. Jika dilanggar, maka hukum adat akan ditegakan.

Dulu, saat kita masuk ke jalan Desa Petebang Jaya, lanjut Donatus Rantan. Kiri kanan jalan rimbun dipenuhi hutan dan pohon-pohon besar. Tapi serang, daerah tersebut menjadi panas dan ditumbuhi padang ilang saja. Bersyukurlah, masih ada areal hutan yang dapat dipertahankan masyarakat setempat.

Sebagai masyarakat, kita harus berbuat. Jangan biarkan hutan terus gudul dan gersang. Mari kita hijaukan kembali. Dengan menanam pohon yang dapat kita petik hasilnya dikemudian hari. Jangan menunggu orang lain baru kita berbuat. Orang akan membantu kita, jika kita berbuat terlebih dulu.

Menjawab pertanyaan awak media, soal pembangunan dan pemenuhan kebuthan dasar masyarakat di empat desa. Donatus Rantan mengatakan. Keberhasilan pembangunan tidak hanya dinilai dari keberhasilan fisiknya semata. Namun yang terpenting adalah pembangunan mental spritual.

Komitmen masyarakat untuk menjaga hutannya, ini merupakan bentuk keberhasilan pembanguan mental itu sendiri. Sehingga tumbuh kesadaran masyarakat, tentang arti pentingnya hutan. Mereka merasa, jika hutan mereka hilang, maka adat budaya mereka pun akan punah.

Upaya USAID IFACS dalam mendorong dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di sekitar hutan. Seperti kebutuhan jalan, jembatan, listrik, air bersih dan lainnya, tentu perlu diskusi tematik. Mengandeng semua pihak yang berkepentingan. Termasuk Pemerintah, yang memiliki kepentingan besar dalam hal ini.

Harus ada perencanaan dari desa ke kecamatan. Kecamatan ke kabupaten, dan dari kabupaten ke pusat. Peran media dalam hal ini sangat penting. Sebab itu kita mendatangkan media turun ke desa pedalaman. Agar mereka turut meyuarakan kondisi lingkungan, adat-istiadat masyarakat dalam menjaga hutan. Serta membunyikan aspirasi masyarakat di daerah terpencil.

Kemudian, masyarakat harus membangun jaringan dari desa hingga ke pusat, secara partisipasi. Sebab, LSM seperti USAID IFACS misalnya, memiliki keterbatasan dalam menyelenggarakan programnya. Paling tinggi 5 atau 10 tahun saja. Selanjutnya, masyarakatlah yang memiliki peran lebih dalam membangun dan mempertahankan desanya.

Refleksi pembangunan yang berkelanjutan, tentu dari masyarakat, ke masyarakat dan untuk masyarakat. Yang terpenting, konsep pembangunan harus selaras dan seimbang. Tetap menjaga kelestarian lingkungan dan alam. Agar alam bisa menjadi sahabat yang baik buat manusia. Bukan bencana bagi kehidupan kita, pungkas Donatus Rantan. (Has)

Posted on 8 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: