KISAH NYATA: Mengejar Cinta Menuai Noda


cerpen cerkong warta kayong dari machfoud rido tetang kehidupan remaja kayong utara

Oleh: MAHFUD RIDHO

 Kala itu, aku masih duduk di kelas 1 SMP. Deburan ombak Pantai Pulau Datuk Sukadana menjadi saksi bisu awal kehancuranku. Di atas batu datar pantai, lelaki muda itu merenggut kesucianku. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya ku serahkan mahkota tanpa banyak berkata-kata. Nafsu keingintahuanku pun membuat lupa segala-galanya.

Di Bumi Bertuah ini aku berteriak, dengan siapa aku harus meminta kembali kesucianku? Ingin rasanya ku bunuh lelaki biadab yang telah menjamahku! Namun di satu sisi hal itu bagian dari salahku, sebab saat itu aku juga sebagai pemicu.

Sudah belasan lelaki yang menjadi pacarku. Dari sekian laki-laki tersebut, masing-masing telah mencumbuiku. Tak terhitung lagi berapa kali ku lakukan itu.

Hasrat yang mula-mula datang sebagai tamu, berubah menjadi tuan rumah, dan akhirnya menguasaiku. Dengan lembing dan cambuk ia menjadikanku sebuah permainan, untuk memenuhi segala hasrat yang diinginkan.

Dengan tangannya yang sehalus sutera, di satu sisi ada hati yang sekeras baja, ia membius dan berdiri dekat ranjan, memandang sinis harkat martabat darah dan dagingku. Dia menertawakan akal pikiran yang sehat dan membungkusnya dalam kapas, seolah-olah barang yang mudah retas.

Sungguh nafsu terhadap kenikmatan telah membunuh semangat jiwaku dan dia akan tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan ketika nanti mayatku diangkut dalam usungan.

Terkadang saat suara sunyi, ada penyesalan dalam hati. Seluruh tubuhku kini penuh kepingan-kepingan dosa, bertabur noktah-noktah penyesalan. Andai waktu dapat berotasi kembali, ingin ku berhenti di satu titik suci sebagaimana aku terlahir ke bumi.

Deburan ombak Pantai Pulau Datuk Sukadana menjadi saksi bisu awal kehancuranku. Di atas batu datar pantai, lelaki muda itu merenggut kesucianku. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya ku serahkan mahkota tanpa banyak berkata-kata. Nafsu keingintahuanku pun membuat lupa segala-galanya.

cerkong 2 dari machfoud rido tetang kehidupan remaja kayong utara mengejar cinta menuai noda

Ketika itu, aku masih duduk di bangku SMP kelas satu yang sama sekali belum banyak tahu tentang kehidupan, apalagi senggama. Begitu juga dengan resiko perbuatan yang akan kudapatkan. Aku masih terlalu polos. Begitu mudah dirayu dan ditipu.

Beberapa bulan berlalu kisah cintaku putus di persimpangan jalan. Kesedihan melanda. Teringat segala  yang telah pacarku perbuat terhadapku. Teringat janji-janji cinta sejati sampai mati. Frustrasi dan sakit hati.
Akhirnya kuputuskan mencari sandaran hati yang baru. Sebagai pengobat luka yang telah lalu. Kekasih hati yang tulus mencintaiku. Namun hal seperti ini berulang kali terjadi. Lelaki datang dan pergi. Membuat senang kemudian melukai. Puas merayu lalu mencari alasan meninggalkanku.

Setelah lulus SMP, ada niatanku memperbaiki diri, ingin sekali meneruskan sekolah sambil belajar di pesantren. Tapi niat baik hanya tinggal niat, karena berbagai macam sebab aku pun kembali meneruskan SMA di tanah Kayong Utara ini.

Berulang kali ku coba menjauhkan diri dari kebiasaan lama. Namun aku sering diintimidasi dan terpaksa melakukannya lagi. Sejak tahu rasa nikmat itu kadang kala ingin lagi.

Ada pula anak baik yang tidak pernah mengenal percintaan buta hingga usia SMA. Belajar, pulang, dan mengerjakan rutinitas di dalam rumah. Hal itu tidak menjaminnya bisa lepas dari pergaulan negatif. Itu terjadi pada teman sekolahku. Justru kejahatan itu dilakukan pada tempat yang seharusnya tidak terjadi.

cerkong 4 dari machfoud rido tetang kehidupan remaja kayong utara mengejar cinta menuai noda

Sebuah rumah yang selalu dijaga keluarga, orangtua yang selalu ada, tapi hal mencengangkan terjadi. Ia ditiduri bapak kandungnya sendiri di dalam kamar pribadi yang tak kan mungkin ada orang lain dapat mengintai. Bukan sebuah kekhilafan, sementara jika hal itu dilakukan berulang kali, hingga sebuah kehamilan yang mengungkapkan realita. Ini kejadian nyata saudara-saudaraku. Bukan mimpi saudaraku-saudaraku.

Orangtua yang seharusnya menjadi panutan, pembimbing serta perisai kejahatan justru berlaku sebaliknya, menanamkan benih-benih kejahatan terhadap anaknya sendiri. Hal itu membuat anak tidak lagi percaya terhadap norma dan etika. Dan parahnya lagi, di luar rumah anak berbuat semaunya.

Begitu juga yang ada dalam benakku kala itu. Aku sudah tak lagi suci dan terlanjur terbiasa melakukanya. Ada sebuah ketagihan tersendiri saat melewatkan momen itu.

Semakin lama semakin banyak cara untuk menghalau kehamilan. Para lelaki muda usia SMA begitu mudah mendapatkan alat kontrasepsi sebagai pengaman, walau kadang alat itu pun tak jua digunakan. Bahkan aku hafal masa-masa suburku atau tidak. Seperti layaknya istri-istri orang yang terlatih menjadwalkan. Sehingga di luar masa subur, melakukan itu berkali-kali tidak akan hamil.

Kudapatkan pengetahuan tanpa harus bertanya ke orang-orang. Begitu mudah mengakses website internet, dan sambil membuka jejaring sosial di tab lain, aku juga bisa mendownlaod video dan gambar yang aku  inginkan.

Orangtuaku sibuk dengan berbagai aktifitasnya. Tuntutan ekonomi yang terpaksa melupakan satu sisi, kasih dan sayang beserta ajaran norma yang kurang diperhatikan. Yang dikedepankan pangan, sandang, dan pangan. Itu saja. Dan mereka beranggapan semua pengetahuan sudah didapatkan di sekolah, padahal sejatinya semua itu tidak sepenuhnya ada.

Di sekolah aku anak yang berprestasi, pintar, dan cukup dibanggakan semua guru. Tapi itu hanya berdasar pada nilai angka-angka semata. Sementara di sisi lain, pendidikan yang berbasis karakter masih sangat minim di tanah Kayong Utara tercinta.

Tak dipungkiri juga lingkungan yang sama-sama acuh tak acuh. Kadang aku berfikir di negeri ini banyak juga orang yang sama bejatnya denganku. Kadang di tempat sepi, ada juga pasangan-pasangan lain yang juga melakukan perbuatan nista. Dari yang muda-muda  atau bahkan yang sudah mempunyai anak dua atau tiga. Perselingkuhan pastinya. Jika bukan, mengapa tidak memilih rumah aman yang telah direstui Tuhan? Atau sebuah kamar yang telah disediakan setelah akad pernikahan?

cerkong 1dd dari machfoud rido tetang kehidupan remaja kayong utara mengejar cinta menuai noda

Ada yang putus sekolah karena hamil, ada yang hamil tanpa dinikahi, tanpa ada laki-laki yang mau bertanggung jawab. Ada pula yang menikah dengan membawa kandungan, padahal itu haram menurut syariah Islam. Hal yang sejatinya janggal tapi sudah menjadi sebuah kewajaran. Tak ada lagi malu merayakan acara resepsi besar-besaran lalu melahirkan seorang anak di usia pernikahan yang baru beranjak dua bulan.

Ada juga sekelompok anak-anak seusia SMA yang sengaja menjajakan diri untuk mendapatkan materi, memanfaatkan pelanggan-pelanggan mayoritas sudah berkeluarga yang mencari sensasi lain. Aroma daun muda yang lebih berselera. Wow!

Memang kegiatan yang cukup menjanjikan, dengan beberapa jam atau beberapa kali melakukan, anak-anak itu bisa membeli gadget-gadget kesayangan.  Bagi sebagian yang telah mapan, hal tersebut menjadi sebuah profesi setelah lulus sekolah. Keluar dari Tanah Bertuah mencari kota yang menjanjikan penghasilan yang lebih melimpah.

Dalam kesunyian malam, sejenak ku lamunkan tentang hasratku. Aku adalah anak alam semesta. Aku tidak mau diam dalam peristirahatan. Aku tidak akan masuk perangkapnya dan tidak mungkin dikuasai olehnya. Rumahku tidak akan menjadi sebuah sarang atau bahkan sangkar, melainkan tiang utama kapal layar.

Ia bukanlah kulit ari penutup luka dari rasa nyeri, melainkan pelupuk mata yang menjadi pelindung dari sengatan cahaya.

Aku tidak perlu melipat sayap bila sedang melintas pintu. Tidak pula harus merundukkan kepala karena takut terantuk kayu. Aku tidak perlu bernafas dengan cemas, karena khawatir dinding- dinding rumah itu akan retak atau retas.

Aku bukanlah penghuni peti-peti mati, peninggalan arwah bagi yang belum saatnya mati. Dan walaupun penuh kemewahan dan keagungan. Rumahku bukanlah tempat yang  penuh misteri  atau penampungan bagi hasrat diri.

Bagaimana dengan gaya berpakaianku? Ku renungi sepanjang malam. Pakaian menampilkan banyak keindahan, tetapi tidak mampu menutupi keburukan.

Dan walau dalam berpakaian aku mencari kebebasan dalam melindungi diri, namun aku akan merasa terbelenggu zirah (baju besi untuk perang di masa silam) dan rantai besi.

Betapa inginnya aku dapat menyambut matahari serta menyongsong lembutnya hembusan angin langsung dengan serapan kulitku sendiri—tanpa pakaian yang lekat menghalangi.

Sebab nafas kehidupan ada dalam sinar matahari dan tangan kehidupan berada dalam kepakan angin yang berkelana.

Beberapa manusia terdengar berkata, “Angin utara yang menemukan pakaian yang kami kenakan.”  Dan dalam hatiku berkata pula, “Ya, dialah yang membuat pakaian tetapi dengan alat yang terdiri atas rasa malu dan dengan benang yang terbuat dari sutra penenang syaraf. Pakaian itu telah selesai dibuatnya, lalu tertawalah ia di dalam rimba.”

Dan yang selalu ku ingat, sikap sopan merupakan perisai yang akan melindungi dari berbagai kotoran dalam pandangan. Apabila yang tak suci telah tiada lagi, maka apalah rasa malu selain dari sebuah noda dan pencemaran budi?

Dan tak ku lupakan bahwa bumi juga menginginkan kesenangan. Untuk merasakan telapak kaki telanjangku yang melenggang bebas berjalan. Angin pun akan selalu rindu bermain dengan rambutku.

Dalam bayangan setengah terpejam, terdengar sayu di kedua daun telingaku. Pesan seorang tua yang terdengar syahdu, “Ketika ruh mengembara di atas angin, saat kalian sedang sendiri, tak berjaga-jaga dan terlena, detik itulah kalian berbuat kesalahan pada orang lain dan juga kepada dirimu sendiri.”

Untuk kesalahan kalian yang telah kalian perbuat itu. Kalian harus mengetuk pintu taubat, dan menunggu di gerbang orang-orang yang dikaruniai restu. Ruh sucimu adalah samudera yang tiada ternoda sepanjang masa, bagaikan uap agung yang akan mengangkat kalian ke angkasa.

Bagaikan matahari, ruh sucimu tak mengenal lubang-lubang tikus  yang tersembunyi, dan lubang-lubang ular tidak satu pun yang ia kenali.

Namun dalam diri manusia, ruh suci tidak pernah sendiri, karena di dalam dirinya manusia tetaplah masih manusia. Bahkan banyak di antaranya masih belum bersifat manusia—hanya bayangan kerdil makhluk tanpa bentuk—mengembara dalam tidur di balik kabut mencari kebangkitannya.

Mengenai diri kalian sebagai manusia aku hendak bicara. Sebab dialah, dan bukan ruh suci dalam diri, bukanlah si kerdil yang dalam kabut mencari-cari, yang mengenal arti kejahatan dan hukuman yang menanti.

Sering kali ku dengar kalian berbicara tentang orang yang bersalah, seolah-olah dia bukan seseorang  kerabat tapi asing bagimu. Seseorang yang hadir di dunia sebagai pengganggu suasana.

Tetapi aku katakan kepada kalian bahwa orang bijaksana dan paling keramat pun, tak lebih unggul derajatnya dari percik api tertinggi yang bersemayam tersembunyi dalam setiap pribadi.

Karena itulah, manusia yang paling jahat dan dengan watak paling lemah pun, tidak mungkin jatuh lebih hina dari unsur terendah manusia yang juga bersarang dalam dirimu.

Karena tidak ada sehelai daun yang dapat menguning tanpa sepengetahuan seluruh pohon—meski ia tetap diam, demikian pula si salah tak dapat berbuat salah, tanpa keinginan nafsu sekalian manusia—walaupun terpendam.

Kalian berjalan bersama menuju ruh suci, kalian sebagai pejalan sekaligus merintisnya. Jika ada di antara kalian yang jatuh tersandung. Hal itu mengandung kebaikan mereka yang di belakang—sebuah peringatan adanya batu yang menghalang.

Dan dia yang tersungkur juga disebabkan oleh perbuatan yang berjalan di depan, karena meskipun mereka melangkah lebih tegap dan lebih mantap namun telah lupa menyingkirkan batu perintang jalan.

Sekali lagi aku berpesan—walau mungkin akan berat membebani hati—orang yang terbunuh, tidak bebas dari tanggung jawab atas pembunuhnya. Orang yang dirampok, tidak  terlepas dari sebab-musabab perampoknya. Orang yang tertipu, tak sepenuhnya suci dari sebab perbuatan si penipu. Dan orang yang jujur, tak seluruhnya bersih dari sebab perbuatan si curang.

Orang durhaka sering kali akan menjadi korban dari mereka-mereka yang telah didurhakainya. Dan tidak jarang pula orang terkutuk menunggangi mereka yang tidak bersalah dan tanpa dosa.

Keadilan tidak serta-merta dipisahkan dari kezaliman, begitu pula kebaikan dan kejahatan. Keduanya sama-sama tergelar di hadapan wajah matahari, sebagaimana benang tenun hitam dan putih suci bersama menganyam selembar kain. Sekali benang hitam terputus maka seluruh peralatan tenun akan diperiksa.

Apabila kalian hendak menghukum perempuan zina, maka sertakanlah hati ayah ibunya sebagai anak timbangan, dan jiwa suaminya sebagai pita ukuran.

Dan bagi yang hendak mencambuk seorang pengkhianat, cobalah untuk menyelami hati orang yang dikhianati.

Dan apabila seseorang akan menjatuhkan pidana atas nama hukum demi tegaknya keadilan, ketika ia mengayunkan kapak ke batang pohon yang dihinggapi setan, hendaklah ia melihat dahulu akar pohon itu. Dan di sana ia akan mengetahui akar yang masih baik, akar yang sudah buruk, akar yang masih mengandung harapan serta akar yang sia-sia dan hanya berisi kemandulan.

Semuanya teranyam dalam jalinan mesra di pusat bumi yang diam. Dan kalian, wahai hakim-hakim yang harus adil, apakah hukuman yang akan kalian jatuhkan kepada orang-orang yang jujur di dalam jasmani tapi curang di dasar hati?

Putusan apa yang akan kalian timpakan kepada pembunuh manusia, tapi dirinya telah tersembelih dalam jiwa? Bagaimana pula akan kalian tuntut orang yang curang perbuatannya tapi juga telah terluka menderita karenanya? Dan apa tuntutan kalian bagi para pendosa yang telah tersiksa oleh penyesalan melebihi besarnya tindak pelanggaran? Bukankah rasa sesal juga bentuk hukuman yang langsung dijatuhkan oleh hukum yang sejatinya ingin kalian tegakkan?

Mustahil kalian dapat memasukkan rasa penyesalan ke dalam hati orang yang tak bersalah. Dan tidak mungkin pula kalian akan cabut niat taubat dari hati manusia yang memang bejat.

Tanpa diminta, sesal yang pedih akan menyelinap di tengah malam, membangunkan manusia agar terjaga dan mawas diri dalam-dalam.

Kalian yang berhasrat memahami keadilan, bagaimana akan dapat mengerti jika tanpa meninjau segala perbuatan dalam terang benderang cahaya surya? Hanyalah demikian kalian akan menjadi paham, bahwa dia yang tegak dan dia yang jatuh, adalah orang yang sama juga.

Ia berdiri di keremangan senja, antara malam si makhluk kerdil dan siang hari dari di yang suci. Dan nanti akan kalian sadari  bahwa batu yang ada di puncak menara tidak lebih dari batu  landasan  yang paling bawah.

Tiada pesan lebih bisa berbisik kecuali pesan dari diri sendiri, sebenarnya mustahil bagi kita tidak mengetahui norma dan ajaran kebenaran, karena sejatinya kita telah dibalighkan zaman.

Demikian secarik ceritaku. Semoga kita  yang telah terjerumus, dapat kembali membuka hati. Biarlah tamu agung yang sudah lama duduk di pintu hatimu berbicara atas nama Tuhan.

Membangunkan fajar baru dan nur yang akan kalian tunggu, menitikkan embun yang akan engkau rangkai menjadi butiran tasbih kemuliaan. Menumbuhkan daun rasau untuk kau anyamkan menjadi tempat bersujud dalam taubat yang tidak terulang.

Biarlah ribuan mata memandangmu setengah hina atas apa-apa yang kalian berbuat kemarin lusa atau bahkan jauh hari sebelumnya, tetap melangkah walau dalam gontai payah arah. Yakinlah di ujung jalan kebaikan akan ada kesejatian surga.

 

Sebagaimana dituturkan kembali kepada;

MAHFUD RIDHO

Posted on 6 September 2014, in Sastra and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: