Sang Mujahid


cerkung

Cerpen Oleh : Rido WK           

            Sayu terdengar sebuah lagu michael heart WE WILL NOT GO DOWN  (song for Gaza ) diruang tv ustadz fathoni.

“ A blinding flash of white light  lit up the sky over Gaza tonight , people runing for cover not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes, with ravaging fiery flames and nothing  remaines, just a voice rising up  on the smoky haze

We will not go down in the night, without a fight, you can burn up our mosques and our homes and our school but our spirit will never die, we will not go  down in Gaza tonight

Women  and children alike murdered and massacred night after night, while the so-called  leaders of countries afar,  debated on who’s wrong or night

But their powerless words where in vain, and the bombs fell down like  acid rain, but trough the tears and the blood and the pain you can still hear that voice through the smoky haze “

Ustadz fathoni bergegas  mendekat kearah tv, Gaza memanas kembali, ia tak mampu lagi menahan pilu, teringat waktu ia menjadi relawan di Gaza 2009 lalu. sakit yang diderita anak-anak dan wanita serta seluruh Warga Gaza, masjid-masjid luluh lantah, rumah-rumah warga berserakan, anak-anak Gaza betebaran, mayat-mayat penuh darah  diatas tandu, tangis anak yang kehilangan orang tuanya, kesedihan dan kemaraahan  orang tua yang kehilangan anak-anaknya,  perang tak pernah usai, 1034 termasuk 314 anak-anak warga sipil meninggal dunia.

kini Isrel kembali beraksi. Hal itu memotifasi ustadz fathoni untuk berangkat kembali berjihad untuk Gaza,

dengan mata yang masih berkaca-kaca  ustadz fathoni masuk kekamar menemui umi hani istrinya,

umi hani : “kesedihan apa yang meliputi abah hingga air  mata pun hampir tumpah?, “pelan bertanya”

“ Gaza diteror kembali, banyak korban jiwa disana, tahun 2010 abah tak bisa hadir, begitu pula tahun 2011 lalu. 2014 ini abah merasa terpanggil untuk kembali, sisa kebun abah  kemarin mau dibeli orang 200 juta, kita pun sibuk mengajar, menengok kebun pun tak sempat lagi, mungkin lebih bermanfaat jika abah jual saja, setidaknya cukuplah untuk bekal kesana, abah mohon keikhlasan umi,

Umi Hani : “ Tiada hal yang Tidak Umi Ikhlaskan jika hal itu dilakukan karena Alloh, tak dipungkiri disatu sisi umi masih takut abah pergi, anak-anak kita yang masih kecil perlu tauladan dari abahnya, berlu bimbingan  pastinya, tapi apapun yang abah yakini maka umi pun yakin akan hal itu.

Sejenak terdiam dengan ekspresi ungkapan yan tidak dapat tergambarkan, sedih juga bahagia,

Umi Hany : “Kita telah diciptakan berpasangan dan selamanya pula kita akan Berpasangan, bersama pula kita dalam ingatan sunyi Ilahi. Tapi biarlah ada ruang antara kita tempat angin syurgawi  melintas  dan menari, Saling mengasihi selalu, tapi takkan ku jadikan cinta sebagai belenggu, biarlah cinta bergerak bebas bagi gelombang mengalir antara kedua jiwa”.

wanita-muslimah-terbaru

Ustadz Fathoni : “Benar  Umi, kita dapat saling mengisi minuman  tapi jangan minum disatu piala, dan kita dapat saling berbagi roti tapi jangan makan dipinggan yang sama. Bernyanyi dan menari dalam segala suka dan duka, dan menyisakan bagi masing-masing untuk menghayati ketunggalanya. Dawai-dawai kecapi punya kehidupan sendiri-sendiri meskipun digetarkan oleh petikan tangan  yang sama”.

Sejenak keduanya terdiam seribu bahasa, lalu kembali ustadz Fathoni memecah keheningan.

“Abah mohon keikhlasan Umi, izinkan Abah  Berjihad fie sabielillah”.

Umi Hani hanya  dapat mengangguk Patuh, walau disatu sisi  air mata  Manusiawi  pun tumpah dalam pelukan.

Ustadz Fathoni  : “Jika Abah tak kembali dalam jiwa raga utuh, Abah amanahkan Thobiq  dan Salsabiela  padamu, didik dan jadikan mereka menjadi muslim  dan muslimah sejati  mujahiddin  Lillah, Walau Memang abah sadar anak-anak kita itu bukanlah anak-anak kita, mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan  kehidupannya sendiri. Melalui kita mereka lahir, namun bukan dari kita  mereka  ada pada kita. Tapi bukanlah hak kita, berikan mereka  kasih sayang tapi jangan pernah memberikan bentuk-bentuk fikiran, sebab mereka memiliki fikiran mereka sendiri”.

Kita berhak membuat griya-griya untuk jiwa-jiwa mereka, sebab jiwa-jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tiada dapat kita kunjungi meskipun hanya dalam sebuah mimpi. Kita berhak berusaha menjadikan diri seperti mereka, namun jangan pernah menjadikan mereka seperti kita, sebab   kehidupan tak pernah berjalan mundur , dan tidak pula tenggelam dimasa lampau .

Kita adalah busur, dan anak-anak adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah maha tau sasaran bidikan keabadian. Dia merentang kita dengan kekuasaanya, hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat.

Mereganglah dengan senang hati dalam rentangan sang ahli pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat , sebagaimana dikasihiNya busur yang menghentak mantap.

Istirahatlah marilah kita  bertawakal dlm do’a memohon petunjuk dan rahmatnya. “ustadz fathoni mempersilahkan istrinya beristirahat”

Keesokan harinya Ustadz fathoni pun mulai bersilaturahmi ke kediaman para Kyai tempat ia mencari ilmu, dari ujung Banten sampai Madura. Demi memohon restu dan do’a-doa mustajabah para guru Tetua.

Ada sebuah pesan dari Kyai Banten Qasasih Faishol, “ Fathoni, aku sangat  merestui atas apa  yang kamu cita-citakan, akan tetapi jika ada  dua pilihan, alangkah baiknya engkau beristikharoh memohon petunjuk dari Alloh S.W.T”.

“Iya kyai” jawab Ustadz fathoni dengan takdhim.

Setelah semua silaturrahmi cukup, wejangan dan bekal-bekal dibawakan dari para kyai, ustadz fathoni pun menjalankan istikharoh, karena memang ada 2 pilihan, menjadi ustadz di pesantren ayahnya romo kyai sholih atau melanjutkan jihad  ke palestina.

Beberapa kali dalam tiap istikharoh, semua diberikan petunjuk baik, dan dalam setiap mimpi ustadz fathoni selalu hadir anak pamannya yang bernama Hafidz. Keesokan harinya setelah sekian malam beristikharoh ustadz fathoni pun memutuskan pergi  kerumah adiknya yakni Ustadz Kahfidz, sesampai disana  , panjang lebar cerita dan akhirnya  sampai pada pokok pembahasan.

Ustadz fathoni : “entah kenapa dalam mimpi tiap tidurku engkau selalu hadir???”.

Ustadz hafidz : “mimpi apa gerangan hingga mas Toni begitu mementingkan hadir ke rumah ini?,”. jawabnya santai

Ustadz fathoni : “dalam keprihatinan yang selalu mengusik nuraniku, aku berniat berangkat jihad  ke palestina lagi, menjadi relawan apapun  dan bahkan berperang jika memang itu ditugaskan, bagaimana menurutmu dik? . “tanya ustadz fathoni dengan nada membara”

Ustadz Hafidz : “sangat  bagus  sekali mas, aku  sangat mendukung!!, tapi apakah Mas Toni  sudah siap lahir bathin lillah remukan raga tumpahkan darah dan bahkan nyawa sekalipun tanpa ada pamrih sedikit pun? . “pelan bertanya diujung kata”

“Sangat siap lahir bathin lillah!!” Jawab ustadz fathoni tegas,

Ustadz hafidz : “pernah kah terbesit dibenak mas, kalau engkau mati dalam syahid , engkau pasti akan hidup disyurga seperti yang Alloh janjikan?”.

“Iya pernah “. ustadz fathoni menurunkan nada suaranya.

“Bukankah hal itu adalah pamrih, pamrih supaya engkau masuk syurga karena syahid mu?.  Syahid mu masih perlu dipertanyakan, mati syahid atau mati sangid”. ( mati kering terpanggang ).

“Menurutku masih banyak Sabilillah buat engkau yang lebih bermanfaat dari pada hanya menyerahkan sebuah nyawa, engkau telah cukup ilmu Agama, belajar dipesanter dr TK hingga Sarjana, lihatlah murid-murid mu disekolah yang belum tentu fasih nahwu dan sharaf, fiqih juga aqidah, pandanglah santri-santrin romo kyai sholih yang belum juga menyelesaikan ikhya’ denganmu, itu semua pendapatku, pendapat yang belum tentu benar, semua keputusan ada pada dirimu mas”. Ungkap ustadz hafidz menjelaskan, Ustadz Fathoni terdiam mendengarkan, kembali Ustadz Khafid melanjutkan kalimatnya.

“Mas, akal dan perasaan adalah kemudi dan layar bagi jiwa yang sedang mengarungi samudra kehidupan. Jika kemudinya patah engkau akan tumbang dihempas  gelombang, dan ketika layarnya patah maka engkau hanya akan mengambang diam membeku tanpa pasti arah tujuan. Fikiran yang sendiri mengemudi  adalah tenaga yang menjebak diri, sedangkan perasaan yang tak terkendali bagaikan api membara yang menghanguskan diri, Karena  itu, ajaklah perasaanmu menghormati akal fikiran , meraih puncak-puncak getaran kebenaran sejati – keduanya menciptakan keseimbangan-.

Janganlah engkau  berkata “Aku menemukan kebenaran.” Melainkan “ Aku menemukan sebagian dari kebenaran.”

“Berangkatlah jika hal itu pilihan  terbaik, ketika tiba saat perpisahan janganlah kita berduka, sebab apa yang  paling dikasihi dari kita  mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan, seperti gunung  yang tampak lebih agung dari padang dan dataran”.

“Semoga Alloh memberi petunjuk pada kita”. Amien.

Apa yang engkau katakan itu benar, akan tetapi aku telah merasakan sendiri penderitaan Rakyat Palestina, bayi yang baru lahir ditingal mati ibunya, darah  yang berceceran bersama puing-puing raga mereka. Mereka adalah warga sipil yang harus diperlakukan secara adil, mereka adalah manusia yang merindukan kemerdekaan ditanah kelahiranya. “berlinang air mata Ustadz Fathoni bercerita”

Ustadz Hafidz : “Apapun keputusanmu adalah hal yang terbaik bagimu, karena yang jelas tidak ada pilihan jelek dari keduanya”.

Ustadz fathoni : “terimaksih dik, semua akan kufikirkan dengan matang, aku pamit dulu, assalamualaikum”,

“Wa alaikummussalam jawab  ustadz hafidz dimuka pintu”.

Waktu berlalu Ustadz fathoni dirundung gelisah dan pilu, disatu sisi, ke Palestina adalah hal yang wajib baginya, teringat kejadian 2009 silam, betapa perlunya Gaza akan bantuan para kaum Muslimin, disisi lain Mengajar Santri juga harus, Teringat pula Romo Kyai Sholih yang sakit-sakitan karena usia. Sebuah keputusan yang sangat berat untuk ditentukan.

suatu malam ustadz fathoni berimpi, ia mati syahid dimedan perang, alkhamdulillah niat mati syahid fisabilillah yang dirindukan pun tercapai. Sayu terdengar Adzan subuh dalam surau,  Begitu kecewa hatinya saat ia terbangun dari mimpi, Syahid yang ia impikan itu bukanlah sebuah kenyataan. sejenak Ustadz fathoni terdiam , terfikir dalam hatinya “Ya Alloh , aku rindu syahid dijalanMu, akan tetapi apakah setelah kematianku, Gaza akan damai tanpa ada pertumpahan darah lagi?, ” hal yang belum tentu terjadi tegasnya. Dari hal itu ia mengambil sebuah keputusan, akan lebih bermanfaat jika ia menyedekahkan hartanya untuk Gaza dari pada sebuah nyawa yang begitu murah dimata Israel.

Keesokan harinya Ustadz Fathoni pergi menemui temanya yang baru pulang dari Gazal, dengan maksud menyumbangkan sebagian harta yang ditititpkan Alloh kepadanya supaya disalurkan langsung kerekening MER-C , setidaknya ia telah  ikut berpartisipasi membangun rumah sakit  indonesia (RSI) di Gaza. Dan sebagian untuk disedekahkan disekolahan yang ia pimpmin.

“ia teringat pesan sang Guru”, apabila kalian memberikan harta-harta mu, maka tidak banyaklah pemberian itu. Tapi bila kalian memberi dari diri kalian sendiri, itulah pemberian yang penuh arti. sebab apakah harta milik itu selain simpanan yang kalian jaga sendiri untuk persediaan esok hari???

Dan apakah arti esok hari bagi seekor anjing kikir yang menimbun tulang-tulang dibawah pasir, dalam perjalanan ke kota suci mengikuti musyafir??

Bukankah rasa takut terhadap kemiskinan adalah kemiskinan tersendiri?? Dan bukankah rasa  takut akan dahaga , sementara perigi masih penuh, adalah dahaga  yang tak mungkin terpuaskan?

Sungguh baik memberi ketika  dipinta, tetapi yang terbaik adalah memberi tanpa  dipinta.  Karena bagi seorang pemberi mencari siapa yang yang akan menerima adalah kebahagiaan yang melebihi  tindak pemberiannya.

Adakah yang masih kalian simpan secara sembunnyi? Padahal kelak segala yang kalian miliki pasti akan habis  terbagi, karenanya berikan sekarang juga selagi musim memberi belum lewat bagi mu , dan belum beralih tangan pada pewarismu.

Seringkali kalian berkata, “ Aku mau memberi , tapi hanya  pada mereka yang  pantas menerimanya”

Pepohonan dikebun tidak pernah berkata demikian, tidak pula ternak di padang rerumputan. Mereka memberi demi kelangsungan kehidupan itu sendiri, sebab menahan pemberian berarti mati.

Siapa yang pantas menerima terang siang dan gulita malam –pasti- pantas juga menerima apapun dari kalian.

Dan siapa saja yang pantas  minum air dari samudra kehidupan – tentu – layak pula mengisi pialanya  dari sungai kecilmu.

Adakah padang yang lebih luas dari keberanian dan harga diri? Seluas itu pula rentang kedermawanan.

Dan menurutmu , siapakah kalian itu, hingga orang harus  mengoyak dada, membuka selubung harga dirinya, supaya kalian dapat mengukur nilai dan martabatnya yang telanjang?. Berusahalah dengan baik untuk menjadi pemberi, dan sebuah alat untuk membagi.

Sesungguhnya , yang terjadi adalah kehidupan memberi kepada  kehidupan, sedangkan kalian hanya merasa diri sebagai pemberi, tidak lebih hanya sekedar saksi. “

“ Aku  terlahir tidak memiliki apa apa, terlahir tidak pula menggenggam tanah kebun, semuanya  adalah titipan, dan saat titipan itu sudah ku kembalikan , maka  sudah tidak ada lagi tanggungan beban. Walau sejatinya suatu hari nanti Alloh akan menitipkan kembali sesuatu  yang lebih  berat untuk ku tanggung, “ustadz fathoni berkata dalam hati” .

Setelah hari itu Ustadz Fathoni begitu gencar mengajak para santri dan murid-muridnya menggalang dana untuk Gaza.

 

Posted on 5 September 2014, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. iwan dwi purnomo

    kayaknye penulis ni pengagum gibran….

  2. sang penulis pengagum gibran nampaknye nie…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: