Belajar Hidup Tegar dari Penjual Sapu Lidi


bu imah penjual sapu lidi,l  di   melano

Sahabat Ujang Tampoi yang baik.

Di tengah matahari terik tegak di atas kepala, dalam perjalanan Ujang ketika melintasi jembatan Teluk Melano melihat seorang ibu-ibu berpenampilan lusuh sedang duduk di bibir jembatan menghadap ke laut sambil di kiri dan kanannya bertumpuk sapu lidi.

Pada mulanya Ujang lewat saja tanpa menghiraukan sosok ibu yang kumal tersebut. Terpikir dalam benak Ujang bahwa ibu itu mungkin hanya gelandangan atau orang gila saja. Namun tiba-tiba terlintas penasaran, langsung saja Ujang belokkan motor dan berniat kenalan dengan sosok Ibu yang misterius tersebut.

Pelan-pelan Ujang mendekati ibu itu dengan penuh tanda tanya. Sengatan terik panas matahari yang mendera, ia hanya berdiam diri memandangi laut tanpa peduli siapapun yang memerhatikannya.

Sekilas memang tampak ibu itu seperti orang tak waras. Rupanya bongkokkan sapu ada di sisinya. Begitu Ujang menyapa, ternyata ibu itu mau menanggapi seperti layaknya orang biasa. Dari tatapan matanya Ujang merasakan keteduhan dan ketenangan.

Ibu itu menggambarkan bagaimana ia hidup tanpa ambisi. Ia hidup sangat sederhana. Hidup yang nyata tanpa kepalsuan dan kemunafikan.

Ibu itu bernama ibu Imah. Ia tinggal di rumah sangat sederhana bersama seorang nenek bernama Nek Siah di dekat jalan tikungan Penjalaan kecamatan Simpang Hilir. Suaminya sudah lama berpisah dengannya. Empat orang anaknya meninggal semua, sewaktu mereka masih di usia balita dikarenakan penyakit yang tak tersentuh medis.

Tak lama setelah meninggal anak terakhir, sang suami meninggalkannya begitu saja. Semenjak itu, ia mulai menjalani kehidupan yang keras bersama sang nenek renta tersebut.

Semula Ujang berpikir kalau ibu Imah itu adalah orang gila. Ternyata salah. Ibu Imah waras sewaras-warasnya orang. Ia lancar berkomunikasi dengan Ujang selayaknya orang biasa. Mungkin saja perilaku Bu Imah dinilai aneh bagi kebanyakan orang.

Ada yang bilang jika ibu Imah itu kurang se-Ons (sebutan untuk orang kurang waras). Ada yang bilang juga kalau ibu Imah itu orang bodo-bodo (sama saja sebutan orang kurang waras). Dan masih banyak lagi sebutan yang merendahkannya. Namun Bu Imah tak pernah peduli dengan apapun penilaian orang padanya. Bu Imah tetap saja konsisten dengan usahanya sebagai penjual sapu lidi dengan caranya yang di anggap aneh.

Bu Imah sering mangkal di jembatan Teluk Melano untuk menjual sapu lidi. Ia mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 petang hari. Dari rentang waktu selama itu, tak sedikitpun ia bergeming dari tempat duduknya.

Ia tahan rasa lapar dan haus terkadang orang yang merasa kasihan menawarkannya minum atau sepotong makanan. Dalam kehidupannya yang keras tersebut, ia tak pernah berkeluh kesah. Ia tetap terus lurus menjalani hidupnya walau dalam berbagai keterbatasan.

Ia punya alasan tersendiri untuk tidak berjualan di pasar sebagai pusat perbelanjaan. Nalurinya mengarahkannya ke jembatan karena ia melihat di pasar sudah terlalu banyak pesaing, maka ia perlu tempat yang sepi pesaing dan ramai orang melihat. Jembatan panjang Melano salah satu solusi yang menjawab semua, itu pikirnya.

Menurut pengakuan Pak Madi, salah seorang penjaga sekolah yang bekerja di MTsN Simpang Hilir, ia suatu saat tidak menyangka dengan sosok Bu Imah yang di anggap sebagian orang kurang se on tersebut.

Pada suatu ketika Bu Imah datang ke sekolah mewakili salah seorang siswa di MTsN dalam rangka mengurus bea siswa. Setelah ditelusuri, rupanya Bu Imah adalah keluarga dari siswi tersebut. Pak Madi tidak menyangka jika ternyata Bu Imah waras, sebagaimana layaknya orang biasa walaupun penampilannya di luar kebiasaan.

Semenjak itulah Pak Madi sadar bahwa Bu Imah bukan orang sembarangan. Ia adalah potret diri bagaimana manusia mengukur dan introspeksi diri.

Kini kita belajar dari ketegaran Bu Imah dalam menjalani hidup. Ia tegar di kala empat buah hatinya dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga tetap tabah manakala orang-orang terdekat menjauhi dirinya.

Di rumahnya yang sangat sederhana, Bu Imah dan Nek Siah hanya berpikir bagaimana bisa hidup untuk mendapatkan sesuap nasi dan dapat dengan damai menjalani masa depan. Tanpa mengeluhkan takdir yang di berikan Tuhan Kepadanya.

Ia juga tak pernah meminta belas kasihan siapapun. Ia paham dengan kodrat hidupnya. Ia sadar akan siapa dirinya. Ia adalah sedikit potret yang diciptakan Tuhan untuk menjadi ibroh (pelajaran) bagi umat manusia. Dan di sisi lain, kebahagiaan maupun kesusahan hakikatnya adalah cobaan dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Susah maupun senang merupakan sebuah rasa yang dirasakan. Kita melihat Bu Imah begitu sulit dan keras menjalani hidup. Namun di sisi lain Bu Imah sangat menikmati kehidupannya. Ia menerima takdir dengan ikhlas dan menjalaninya dengan penuh kebahagiaan.

Ujang ingat sebuah ungkapan bahwa jika kita ingin mensyukuri nikmat maka lihatlah ke bawah.

Ungkapan bijak itu mengajak kita untuk menghitung seberapa banyak nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Sadarkah kita bahwa selama ini ternyata sebagian besar dari kita banyak mengabaikan itu?

Semoga potret Bu Imah bisa menjadi bahan inspirasi bagi kita untuk menapaki kehidupan masa depan yang lebih baik.

MIFTAHUL HUDA

Posted on 30 Agustus 2014, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: