Semalam Bersama Waria, “Sisi Lain Kehidupan Homoseks dan Lesbian”


stop gay dan lesbian

Oleh: Hasanan

Senin, 27 Januari 2014, bisa dibilang hari yang bersejarah bagi ekspedisi kami (Pontianak – KKU) selama satu tahun terakhir. Perjalanan yang memakan waktu hampir satu malam tersebut cukup melelahkan, dengan medan tempuh Rasau Jaya dan teluk Batang. Perjalanan yang dihimpit sesak manusia di ruang sempit kelotok (kapal motor penumpang), adalah perjalanan yang mengesankan hari itu.

Perjalanan dari Ibukota Provinsi Kalbar (Pontianak) ke Rasau Jaya – Kabupaten Kubu Raya (KKR), pun berakhir di pelabuhan Rasau Jaya. Setelah tiket kapal dipesan, sepeda motor pun dimuat awak kapal. Bersama teman yang lain, barang-barang bawaan, kami simpan sementara di ruang belakang kelotok. Pesrsisnya tidak jauh dari WC.

Sambil menunggu keberangkatan kelotok, bersama teman penulis santai minum di warung sekitar pelabuhan. Tiba-tiba ponsel butut penulis berdering, tanda Short Message Service (SMS) masuk. Spontan penulis buka. Penulis baca berlahan isi SMS tersebut.

Ya’ Mochtarudin, si pengirim pesan menulis, “Mau lihat laki-laki beranak tidak di kapal?” Karena penasaran dengan kalimat ‘lelaki beranak’, penulis pun segera masuk ke ruang/palka kapal. Sotak penulis kaget. Ternyata laki-laki beranak (punyak anak) yang dimaksud, ialah waria (wanita pria) bersuami semu laki-laki pula. Mereka mengidentifikasikan diri mereka sepasang suami-isteri dan memiliki seorang balita berusia kurang lebih 1 tahun.

Sebut saja sang suami dengan nama Mr. Ton, dan isteri (waria) dengan sebutan Ny. Su, kemudian anak munggil mereka Ayu. Layaknya suami isteri. Layaknya seorang ibu yang sedang mengurusi anaknya. Demikian juga waria satu ini. Menganti popok, memberi minyak telon, bedak dan sebagainya kepada si balita wanita mereka, demi menjaga kesehatan anak mereka.

Dalam setiap kesemptan, penulis mencoba mengamati dan berkomunikasi dengan salah satu dari mereka, namun sayang, mereka bungkam. Seolah mereka curiga dan tahu jika penulis ingin mencari informasi tentang kehidupan mereka. Kendati penulis berbaring atau tidur persis disamping nyoya Su (isteri bohongan) Mr. Ton, tatap saja yang bersangkutan engan bicara dengan penulis, hingga tiba di Teluk Batang.

homoseks2

Yang sempat penulis ketahui dari mereka, ialah tempat tinggal mereka. Keterangan Dahlia, isteri Ya’ Mochtarudin, yang sempat berkomunikasi dengan nyonya Su, bahwa mereka tinggal di Sungai Melayu, Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang.

Kisah keluarga kecil waria ini benar-benar menarik. Kepada anak mereka, Ayu, nyoya Su menyebut dirinya dengan panggilan Umi (ibu). Kepada sang suami (Mr. Ton), nyonya Su memanggil sapaan ayah untuk anak mereka dengan sebutan Abi.

Sepasang suami istri waria (gay) ini terlihat begitu romantis. Kepada orang-orang sekelilingnya, mereka seakan-akan ingin menyampaikan pesan. “Lihatlah, kami sepasangan suami isteri waria saja bisa romantis, bagamana dengan kalian yang mengaku pasangan normal?”.

Tak bisa kita bayangkan ketika Ayu tumbuh dewasa nanti. Mengetahui orang tua yang mengasuhnya hingga dewasa, bukan orang tua sesungguhnya. Mengetahui orang tuanya, teruma Uminya bukanlah wanita sebenarnya, namun pria yang mengaku wanita. Apakah hal ini tidak menganggu psikis anak tersebut?

Tentu Ayu tak akan sanggup menghadapi ejekan teman-teman sekolahnya ketika Ayu sekolah nanti. Tak sanggup menghadapi olok-olakan teman sebaya dan lingkungan tempat tinggalnya. Kendati hidupnya dimanjakan dengan materi oleh orang tua semunya, namun kejiwaan Ayu akan tertekan dan tergoncang.

*****

Ketetarik seksual sesama jenis, biasa disebut dengan homo (gay) dan lesbi. Gay adalah suka/keterarikan seks sesama jenis laki-laki. Sedangkan keterarikan seks sesama wanita biasa disebut dengan lesbian.

Jujur saja, secara pribadi, penulis agak jijik melihat prilaku kaum gay dan lesbian. Jijik dengan prilakukannya saja, bukan terhadap manusianya. Seperti gay yang berpenampilan ala wanita tapi bukan wanita, dan lesbian berpenampilan ala laki-laki tapi bukan laki. Namun penulis tetap menghormatinya sebagai manusia. Bahkan ada diantara mereka yang jadi teman penulis.

Sering kali penulis berdiskusi dengan kaum gay khususnya, tentang perangai yang melekat pada mereka. Apa jawaban mereka, “Ini bukan kemauan kami, tapi kehendak Tuhan. Maunya kami sih normal, tapi Tuhan mentakdirkan lain.” Lah, itukan karena tidak ada upaya serius dari kalian saja untuk berubah. Ingatlah! Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum/seseorang, kecuali kaum/seseorang tersebut yang merubahnya.

lesbian

Keterarikan sesama jenis ini bukanlah cerita baru. Al- Qur’an telah mengisahkan kepada kita, bagaimana kehidupan kaum gay dan lesbian pada jaman nabi Luth. Dan Tuhan telah mengutuk mereka, kaum Luth dengan hujan batu.

Di Islam jelas dan tegas mengatakan, bahwa melakukan hubungan sesama jenis adalah perbuatan keji dan termasuk dosa besar. Merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma budaya, adat-istiadat dan norma sosial bangsa Indonesia.

“Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (Al A’raaf : 80-84).

Tidak hanya Al- Qur’an yang mengecam prilaku kaum gay dan lesbian sebagai perbuatan sesat dan keji. Di Injil, Kitab Suci kaum Nasrani pun menganggap perbuatan itu perbuatan keji. “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” (Imamat 18 : 22). Nah sob!

Banyak negara yang menganut faham liberal, di benua Eropa dan Amerika misalnya, homoseksual dan lesbian justru dilegalkan dalam konstitusi negara mereka. Kawin/pernikahan sesama jenis di beberapa negara di dua benua tersebut dilegalkan. Dan surganya gay dan lesbian dunia ini, ialah Negara illegal – Israel biadab.

homoseks

Namun saat ini, banyak pula negara-negara Eropa dan Amerika yang telah mencabut persamaan hak yang dimaksud kaum gay dan lesbian. Seperti Amerika. Masa kepemimpinan Pemerintah Barack Oboma, beliau mencabut konstitusi mereka tentang hak kaum gay dalam kemeliteran Amerika. Bukan tanpa kecaman kaum homoseks/lesbian. Bahkan demo besar-besaran mereka lakukan.

Di Indoensia, perjuangan kaum gay dan lesbian tidak bisa di pandang sebelah mata. Sejak lama mereka menyerukan persamaan hak mereka ke Negara. Bahwa kawin sesama jenis yang meraka lakukan, harus mendapat pengakuan Negara, dengan konstitusi yang mereka inginkan. Mereka menganggap, Negara diskriminatif terhadap hak mereka sebagai waraga Negara. Kerana tidak memberikan hak kosntitusi mereka untuk legal kawin sesama jenis. Aneh juga ya sob?

Bersama kaum liberal Indonesia lainnya, kaum gay dan lesbian menuntut perubahan atas Undang-Undang Nomor 1/1974 tentang Perkawinan. Mereka mengingikan agar Pemerintah mengabulakan keinginan mereka untuk menikah sesama jenis. Terang saja Pemerintah tidak mengabulkannya. Sebab itu bertentangan dengan falsafah Pancasila dan konstitusi Negara kita.

Selain bertentangan dengan falsafah Pancasila dan konstitusi, gay dan lesbian bertentangan dengan fitrah manusia. Allah SWT telah menciptakan manusia itu dari dua jenis, yaitu laki-laki dan wanita, misalnya (Q.S. Ar-Rum : 21). Tidak ada jenis ketiga atau waria. Dalam proses penciptaan itu, manusia dilengkapi juga dengan potensi-potensi kehidupan. Salah satunya adalah nafsu birahi. Yang lelaki senang kepada perempuan dan sebaliknya. Jadi, kalau ada orang yang sama sekali tidak punya nafsu birahi, berarti masih diragukan keasliannya sebagai manusia.

Hampir diseluruh Indonesia, kaum gay dan lesbian membentuk komunitas/organisasi mereka. Entahlah di Kayong Utara? Yang pasti, geliat mereka di Kayong Utara mulai kelihatan dan terasa. Tujuan pemebentukan komunitas mereka tidak lain, selain sebagai perkumpulan profesi, juga perkumpulan untuk menggalang kekuatan aspirasi mereka, terutama ke publik dan pemerintah agar keberadaan mereka diakui. Kemudian sebagai komunitas yang mampu mempublikasikan karya-karya mereka ke publik. Serta mengkampanyekan bahwa mereka bukanlah kaum lemah. Berbagai kontes-kontes waria pun mereka lakukan. Andingnya, agar mereka diakui sebagai kaum normal. Normal dalam arti prilaku, sifat dan sikap mereka, yang sebetulnya bertentangan dengan norma agama, sosial dan nyeleneh tersebut.

homoseks3

Organisasi gay di negeri ini sudah muncul 32 tahun silam (1982), dengan nama ‘Lamda Indonesia’. Gerakan kaum gay ini digagas aktivis gay asal Surabaya, Dede Oetomo, bersama dua rekannya di Solo. Namun Lamda Indonesia ternyata berumur pendek. Sehingga pada 1987, gerakan sosial ini bergeser ke Surabaya. Dede mendirikan organisasi serupa saat itu dengan nama ‘GAYa Nusantara (GN)’. Kelak GN menjadi induk semua organisasi gay dan lesbian se- Indonesia. Inilah organisasi kaum homoseksual tertua dan terbesar yang masih bertahan di Indonesia hingga hari ini.

GN kemudian berubah menjadi organisasi dengan anggota terbanyak. Sampai kemudian kongres lesbian dan gay pertama sukses dilakukan di Jogjakarta pada 1993 silam. Peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi GN, untuk menemukan bentuknya. Dari kongres ini, GN mendapat mandat sebagai koordinator jaringan lesbian dan gay Indonesia. “Jika sekarang Surabaya menjadi tuan rumah kongres gay dan lesbian, sebenarnya dari kota inilah sejarah gerakan kaum gay Indonesia dimulai,’’ kata Dede Oetomo dengan bangga ke beberapa media.

Bahkan gaum gay sudah memiliki majalah sendiri, yaitu GAN (Gaya Nusantara), mengambil nama dari organisasi mereka. Lucunya, sebagai ‘dedengkotnya’ sekaligus ‘maskot’ kaum homo (gay), yaitu Dede Oetomo, doktor linguistik jebolan Cornell University Amerika, yang kini menjadi dosen pascasarjana di Unair, Surabaya. Dedengkot gay ini malah termasuk anggota International Gay and Lesbian Human Right Commission, di ILGA (International Lesbian and Gay Association) (Permata, No. 12/IV/Desember 1996).

*****
Kasus pedofili yang terjadi di tanah air beberapa bulan terakhir. Kekerasan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, itu tak terlepas dari prilaku gay (homoseks). Sasaran mereka tidak hanya orang-orang dewasa atau sebaya dengannya, namun anak-anak juga. Harus berapa banyak lagi anak-anak kita yang menjadi korban kebiadaban pedofeli – kaum homoseks? Keran itu, ini wajib kita cegah! Sedini mungkin.

Di Depok bulan Juli 2014 lalu, dihebohkan dengan kasus ‘pelecehan seksual’ terhadap 12 bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD. Kemudian yang terjadi di Jakarta International Scool (JIS), adalah gambaran nyaata buat kita, betapa geliat kaum homoseksual dan leberal telah mengurita di negeri ini. Tentu saja, ini menjadi bukti bahwa kaum homo tersebut berkeliaran dan mengancam kehidupan. Waspadalah!

homoseks jis 2

Mungkin masih ada yang ingat disebagian memori kita. Kasus pembunuhan yang dilakukan seorang gay sekitar 20 tahun silam, di Jembatan Pawan 1 Ketapang. Hanya karena cemburu, seorang gay tega menghabisi nyawan teman kencannya. Kemudian kasus pembunuhan oknum polisi di Ketapang beberapa bulan yang lalu, di tahun 2014. Seorang pemuda tega mengabisi oknum aparat yang senang sesama jenis tersebut, hanya kerana tidak sanggup melayani nafsu bejadnya si oknum tersebut. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya, tentang bahayanya homoseksualitas. Maka, waspadalah!

pelecehan seksual anak2

Sodomi. Atau karoke dan jebong istilah bahasa mereka. Begitu istilah ini biasa dialamatkan bagi kaum homoseks yang melakukan aktivitas seksnya. Kasus ini memang bukan barang baru. Sejak jaman Nabi Luth kasus ini sudah ada, dan telah memicu murka Allah SWT. Penduduk Sodom diumihanguskan Allah dengan hujan batu. Sebuah daerah di Yordania sekarang, tempat tinggal kaum Nabi Luth saat itu.

Jika gay dan lesbian tidak kita cegah, dampaknya sangat negatif pula pada anak-anak kita. Penyakit tersebut dapat menular. Ketika anak-anak pernah disodomi berkali-kali oleh seorang gay, atau yang mengidap penyakit pedofili misalnya, maka anak tersebut berpotensi melakukan hal yang sama. Kemudian, membiarkan anak-anak kita bergaul dengan kaum gay atau lesbian, maka tabiat anak pun berpontensi mengikutinya. Lihat saja yang terjadi pada kaum Nabi Luth. Atau yang terjadi dibelahan dunia lain hari ini, termasuk Indinesia. Solusi untuk mengatasinya, yaitu dengan mencegahnya, sedini mungkin.

Dalam ilmu psikologi, penyebab mejadi gay secara umum ada dua, yaitu tauma masa kecil dan karena pelarian. Trauma masa kecil, misalnya ketika kecil pernah mendapatkan perilaku kekerasaan atau pelecehan seksual sejenis. Seperti pernah di sodomi oleh kakaknya, pamannya atau orang lain. Makah al tersebut akan membuat anak trauma. Sehingga bisa memperngaruhi pola pikir dan orientasi seksualnya, ketika ia dewasa.

pelecehan seksual anak

Gay atau lesbian yang muncul kerana pelarian dari suatu masalah, misalnya seroang laki-laki pernah ditolak berkali-kali cintanya oleh seorang gadis. Atau putus dari kekasih yang sangat ia cintai. Kondisi ini kadang membuat sesorang mengambil keputusan untuk menyukai sesama jenis. Ketika perlahan-lahan ia menjadi gay, ia mulai merasakan kenyamanan dan kebahagiaan itu. Sehingga ia benar-benar memutuskan menjadi seorang gay.

Bagi orang tua yang mengetahui anaknya sajak dini memiliki kelainan sifat, baik secara fisik maupun psikisnya, sesegera mungkin mencegahnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana. Misalnya, anak laki-laki yang memiliki kelainan demikian, harus diarahkan pada teman bermainnya sesama laki-laki. Jangan pernah biarkan dia intens bergaul dan bermain dengan wanita. Sebab hal tersebut akan mempertajam pembentukan karakternya seperti wanita. Dan pada akhirnya dia menyukai laki-laki.

Terapi secara psikologi bagi orang dewasa dan mungkin anak-anak, dapat dilakukan dengan menjauhi segala macam yang berkaitan dengan gay (homoseksual). Misalnya dalam memilih teman bergaul, organisasi, aksesoris, bacaan dan segalanya. Kemudian merenungi bahwa gay masih belum diterima oleh masyarakat (terutama di indonesia). Banyak yang merasa jijik dengan gay. Terus menanamkan dalam pikiran kita, bahwa gay adalah penyakit yang harus disembuhkan.

Selain itu, untuk menghilangkan sifat gay, dapat dilakuakan terapi sugesti. Misalnya mengucapkan dengan suara agak keras saat sendiri, seperti: “aka bukan gay”, atau “gay menjijikkan” atau “saya suka perempuan”. Dan lakukan secara terus-menerus, benar-benar ditanamkan dalam hati dan tindakan nyata.

Bisa juga dengan menulis di kertas dan di tempelakan ke dinding kamar kita. Katakan “Aku bukan gay, aku lelaki normal, aku suka wanita!”. Ini tentu perlu dukungan keluarga dan masyarakat. Berusaha melakukan kegiatan dan aktivitas khas laki-laki. Misalnya olahraga beladiri seperti karate, atau bergabung dengan komunitas kegiatan laki-laki. Menjauhi laki-laki yang menarik hati. Sehingga perasaan kewanitaan itu, insya Allah akan lenyap.

Jika tidak bisa, terapi hormon pun bisa menjadi solusinya. Jika diperlukan, mintalah bantuan/bimbingan dokter. Melakukan terpai hormon secara berkala, agar bisa menimbulkan sifat laki-laki. Yang paling penting adalah dukungan semua pihak, keterbukaan dan menerima masukan. Jangan sampai ada yang mencela didepanya atau mengejek perjuangannya dalam mengobati penyakit ini.

pelecehan seksual anak3

Pendekatan dari hati ke hati, bisa menjadi alternatif pula dalam mengatasi penyakit lesbian atau gay. Tentu ini harus dilakukan orang lain, keluarga atau teman dekat. Dengan memberikan masukan, nasehat atau petuah-petuah kepada pengidap tersebut secara berlahan, semoga dapat menyadarkannya. Jika tidak bisa, sanksi social bisa dilakukan. Misalnya mengucilkan.

Setelah berbagai ikhtiar telah kita lakukan, jangan lupa berdoa, memohon kesembuhan dari penyakit gay dan lesbian yang kita derita. Allah yang memberi penyakit, maka Allah pula yang memberi restu penyembuhannya. Jangan mudah putus asa. Teruslah berusaha. Tanamkan pada diri kita, bahwa gay atau lesbian adalah dosa besar yang dikutuk Tuhan. Bahwa gay dan lesbian adalah perbuatan keji. Dan tobat adalah jalan penyelesaian masalah terakhir.

Posted on 23 Juli 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Oooooh jadi gitu
    thanks infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: